Edisi 12-10-2018
DKI Perluas Jangkauan Angkutan Umum


JAKARTA–Pemprov DKI Jakarta berkomitmen memperluas jangkauan moda transportasi massal untuk mempermudah masyarakat mengakses angkutan umum.

Pembenahan angkutan ini sambil menunggu fi na lisasi perluasan sistem ganjil-genap. Kelanjutan kebijakan per luas an ganjil-genap, apakah akan diperpanjang atau tidak setelah 13 Oktober 2018 masih dalam pembahasan. Menurut Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan, pe nentuan sistem ganjil-genap bukan se lera gubernur. Dia lebih berorientasi yang terbaik bagi masyarakat Jakarta yang memberi manfaat besar dengan fokus perluasan jangkauan angkutan umum. Sebagai buktinya, Anies me luncurkan Jak Lingko demi mem percepat layanan ang kutan dengan harapan men jang - kau lebih luas dan me ning katkan kenyamanan, sehingga apa pun rekayasa lalu lintas yang dite rapkan, warga me rasa kan man faat naik trans portasi massal.

“Jadi yang harus ditum buhkan bukan semata-mata pada pengendalian kendaraan pribadi. Ini adalah salah satu ins trumen, tapi yang terpenting bagi saya angkutan umum. Jangan sampai rekayasa lalu lintas dilakukan, tapi kita tidak dorong serius transportasi massal. Nanti gimana, tidak adil,” ujar Anies kemarin. Terkait perpanjangan jalur ganjil-genap, dia menilai tidak efektif mengurangi kemacetan di jalanan Ibu Kota. Pemprov DKI belum bisa memutuskan apakah akan memermanenkan atau tidak ihwal rekayasa lalu lintas tersebut. “Begitu ada rekayasa kemudian jumlah mobilnya meningkat secara luar biasa. Rekayasa itu tidak lagi efektif,” katanya.

Kenaikan penjualan mobil bekas berdasarkan data yang diterimanya mencapai 15%. Ka rena itu, harus ada kajian men dalam untuk mengajak ma syarakat agar beralih meng - gu nakan transportasi umum. Solusinya, Pemprov DKI akan membangun transit oriented development (TOD). Seluruh moda transportasi di Jakarta akan saling terhubung sebagai - ma na prinsip Jak Lingko. “Di situ ada simpul antarmoda lalu lintas. Ada KRL, MRT, BRT, LRT, serta angkutan umum massal lainnya. Kemudian, di situ juga ada perkantoran dan hunian. Itulah TOD,” ungkap mantan menteri pendidikan dan kebuda yaan itu.

Pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Perhubungan DKI Jak arta Sigit Widjiatmoko mengatakan, adanya forum group discusion (FGD) untuk mengevaluasi perpanjangan ganjil-genap se - telah Asian Games dan Asian Ga mes Para Games pada 2 September-13 Oktober. “FGD itu akan dipaparkan evaluasinya baik milik Dinas Perhubungan, Ditlantas Polda Metro Jaya, dan masyarakat. Setelah itu baru ada rekomendasi kepada gu bernur untuk memutuskan lanjut atau tidak,” ujarnya. Pada evaluasi FGD sebe lumnya perluasan sistem ganjil-genap di jalan protokol cukup efek tif. Kecepatan rata-rata ken daraan meningkat di atas 35 km per jam dari yang sebe lumnya 15-20 km per jam.

Jumlah penumpang bus Transjakarta meningkat sekitar 9% atau 34.000 penumpang. Upaya meningkatkan layan - an transportasi massal juga harus dibarengi pembenahan ma najemen PT Transportasi Jakarta. Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) DKI Jak arta Shafruhan Sinungan me - nilai manajemen PT Trans portasi Jakarta tidak mampu mengelola sarana transportasi yang melayani warga. Per usaha an pelat merah tersebut justru memberikan kesan profit oriented, padahal BUMD ter se - but disokong anggaran subsidi sebesar Rp3 triliun. “Program OK Otrip (saat ini Jak Lingko) melibatkan anggota Organda, khususnya bus ke cil belum memenuhi ha rap - an ma syarakat dari faktor kenya man an, keamanan, dan me nyen tuh langsung kebutuh an. PT Transjakarta hanya menon jol kan faktor gra tisnya,” ujar Shafruhan beberapa waktu lalu.

Seharusnya PT Transportasi Ja karta menjadikan standar pelayanan minimum (SPM) sebagai faktor utama dalam meng operasikan OK Otrip baik sumber daya manusia (SDM) maupun bus-busnya. Dia juga menyayangkan terjadinya kecelakaan Transjakarta be la ka - ngan ini. Itu salah satu contoh tidak dijadikannya SPM sebagai faktor utama layanan transportasi. Apalagi, Pemprov DKI Ja - kar ta saat ini gencar mengen dalikan lalu lintas kendaraan melalui sistem ganjil-genap dan tilang elektronik/e-tilang atau electronic traffic law enforcement (ETLE). “Kalau layanan angkut - an umumnya baik, pembatasan ken daraan juga akan efektif,” ka tanya.

Selain itu, ketika penataan ulang trayek (rerouting ) yang dikeluarkan Dinas Per hu bungan DKI baru berjalan dua pekan tiba-tiba PT Transportasi Jakarta mengembalikan lagi bus-busnya ke rute lama de - ngan alasan sepi penumpang dan merugi. Operator eksisting di rute tersebut pun resah. “Ini menunjukkan direksi PT Trans portasi Jakarta tidak me - ngerti bagaimana mengelola suatu pembukaan trayek baru di mana dibutuhkan waktu se - kitar enam bulan untuk bisa ek - sis dari trayek tersebut,” ujar Shafruhan. Dia berharap Anies segera menyikapi manajemen PT Trans portasi Jakarta. Dia kha - watir subsidi yang di berikan dari sumber uang warga ter - buang percuma. Direksi PT Trans portasi Jakarta ke depan haruslah dipimpin orang yang profesional, inovatif, serta ka - pa bel dalam mengelola per - usa haan.

“Sebagai tulang pung gung transportasi, Transjakarta harus memenuhi kebutuhan masyarakat akan trans portasi yang manusiawi, aman, nyaman, tepat waktu, dan ter jangkau karena besarnya sub sidi,” katanya.

Bima setiyadi/ okezone










Berita Lainnya...