Edisi 12-10-2018
ITB Ubah Minyak Sawit Jadi BBM


BANDUNG - Di tengah men cuatnya isu akan adanya ke naikan harga bahan bakar minyak (BBM), Institut Tekno logi Bandung (ITB) menciptakan katalis yang mampu mengubah minyak sawit menjadi BBM.

Produk katalis ini dinilai mampu mendorong keman di rian energi nasional. Kemajuan teknologi ini ditandai dengan peresmian Catalyst Teaching Industry di Laboratorium Teknik Reaksi Kimia dan Katalisis, Fakultas Teknologi Industri, ITB, oleh Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Men ris tek- Dikti) M Nasir di Bandung, Jawa Barat, kemarin. Nasir mengatakan, labo ra - torium ini merupakan langkah awal Indonesia memproduksi katalis dalam negeri. Tapi yang lebih penting, ini merupakan tindak lanjut dari hasil riset, terutama tentang konsep hili ri - sasi dan komersialisasinya.

“Apalagi ini bisa meng hentik an ketergantungan bahan bakar fosil, sehingga kita bisa menggunakan minyak sawit untuk BBM. Kalau sawit bisa dialihkan untuk ini, kita bisa tinggalkan (ketergantungan terhadap pasar) Eropa,” ujar Nasir. Dia menegaskan kini ting gal bagaimana dukungan re gu lasi untuk hilirisasi dan ko mer - sialisasi. “Kita harus membuat regulasi yang mudah dan se der - hana. Nah, kalau nanti pro duk ini bisa jalan, saya akan sa-ngat bangga. Petani juga sawit akan sangat senang,” imbuh dia. Pada acara peresmian itu, juga diberikan secara simbolis 17 ton katalis yang diproduksi ITB bekerja sama dengan PT Pertamina (persero). Katalis itu akan diberikan kepada ki lang RU-IV Cilacap PT Per tamina.

Laboratorium katalis itu merupakan hasil pengembangan ITB, PT Pertamina, dan du - kung an dana Kemenristek-Di kti, dan salah satu hasil katalis yang telah diproduksi adalah PK 230 TD. Produk ini digunakan untuk membersihkan fraksi diesel dari pengotor senyawa sulfur dan nitrogen. Setelah ini, beberapa katalis untuk produksi bahan bakar nabati dari minyak nabati akan diujicobakan di beberapa unit komersial milik PT Pertamina. Katalis untuk produksi avtur nabati dari minyak inti sawit juga akan diujicobakan di RU-IV Cilacap, dan katalis untuk pro - duksi diesel nabati dari minyak sawit akan diujicobakan di RUII Dumai.

“Pengembangan labo ra to rium ini telah dilakukan sejak 1996. Awalnya tantangan kami adalah produksi yang masih ter - batas, yaitu 60 gram per hari. Tap, saat ini untuk mem pro - duk si 3 kg, cukup 2 sampai 3 hari,” kata Guru Besar Fakultas Teknologi Industri ITB Subagjo. Menurut dia, saat ini semakin banyak industri yang membutuhkan katalis. Apalagi pada sektor minyak, Indonesia menjadi importir minyak terbesar. Produk katalis tersebut diharapkan mampu men do rong kemandirian energi na sional. Subagjo menjelaskan, produk katalis itu dapat meng hemat devisa negara untuk sektor energi hingga USD25,2 juta per hari.

Produk katalis ini mampu mengganti 360.000 barel atau 30% minyak mentah impor. Bioenergi ini pun bisa di gu nakan hingga 100%. Rektor ITB Kadarsah Suryadi mengatakan, katalis ini di - harapkan memberi harapan bagi perkebunan kelapa sawit nasional di tengah tekanan Eropa atas minyak sawit In donesia. Bahkan, katalis ini dinilai bisa memberi penghematan hingga jutaan dolar. “Produk luar negeri yang awalnya mahal dari USD22, sekarang dengan adanya produk ITB bisa turun jadi USD10. Ini cukup menekan harga,” kata dia.

Laboratorium ini, kata dia, merupakan tindak lanjut dari upaya ITB mengubah citra dari research university menjadi entrepreneur university . Apalagi, saat ini telah banyak produk digital yang dihasilkan dan banyak dipakai masyarakat umum. Selain digital, juga ada pro duk nondigital.

Arif budianto










Berita Lainnya...