Edisi 12-10-2018
Pelelangan Ikan Harus Dibenahi


JEMBRANA –Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kemarin mengunjungi Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Pengambengan, Jem brana, Bali.

Menteri Susi sem pat berdialog dengan nela yan sekitar dan menyaksikan langsung proses bongkar muat hasil tangkapan nelayan. Susi mengaku senang melihat tangkapan ikan masyara kat sekitar yang melimpah. Tangkapan itu umumnya ter diri atas tongkol, cakalang, le muru, dan ikan layang, di mana tongkol men jadi primadona. Dalam dialog bersama Menteri Susi, nela - yan mengungkap kan, saat ini memang tengah mu sim panen ikan. Dalam se hari nelayan-ne - layan di PPN Pengambengan da pat me nang kap 100 hingga 150 ton ikan tongkol.

“Saya sangat senang dengan panen yang sangat besar, (ada) ikan tongkol, ikan lemuru, dan lain-lain di Pelabuhan Pengambengan ini. Saya berharap, inilah foto realita yang seha rus nya ada di semua pelabuhan-pe labuhan. Dengan dibas mi nya illegal fishing, masyarakat me ra sakan hasilnya sekarang (ikan melimpah),” ungkap Susi. Meski demikian, Susi tidak menampik bahwa masih ba nyak kendala yang ditemui ne la yan untuk menikmati panen ikan yang berlimpah ini. “Tadi nelayan mengeluh solar susah, padahal kan masa panen ikan ter batas. Nanti mungkin saya akan rapat konsolidasi me min ta pada mu sim panen ikan itu kecu kupan solar harus dijaga,” ujarnya.

Tidak hanya perkara keter - sedia an stok bahan bakar, Susi juga menerima aduan dari ma - syarakat mengenai harga ikan pada musim panen yang turun drastis. Ikan tongkol misalnya, se belum musim panen, nela yan menjualnya dengan harga Rp15.000 per kilogram. Na - mun, beberapa waktu bela - kang an hanya dihargai Rp9.000 per kilogram bahkan Rp6.000 per kilogram untuk yang ber - ukuran kecil. “Saya pi kir itu ter - lalu rendah (harga beli tongkol). Mestinya bisa ber ta han di Rp10.000 ke atas. Se ki tar Rp10.000-15.000,” tandas nya. Karena itu, menurut Susi, business process pelelangan ikan harus dibenahi sebagai mana mes tinya. Selama ini, pro ses pe - le langan ikan yang se harusnya dilakukan secara ter buka masih dilakukan secara tertutup.

“Sistem tertutup itu ra wan kecurang an, mani pu la si, dan kom - pro mi. Jadi, akhir nya harga ke ne layan sangat ren dah. Solusinya kita memi kir kan sistem pe - lelangan yang lebih baik, meng - undang lebih ba nyak pembeli, atau kita mem buat badan usaha peme rin tah apakah BUMN, BUMD, atau koperasi yang di - kelola pe merintah bersama ma - syarakat nelayan itu sendiri un - tuk men jadi seperti Bulog, yang men ja ga batas harga bawah beras,” ujarnya. Menurut Susi, restrukturi - sa si pelelangan dan penam - pung an ikan perlu dilakukan agar para bakul ikan, peng usa - ha, ataupun tengkulak tak lagi bi sa mempermainkan harga ikan dari para nelayan.

Senada dengan hal terse but, Direktur Jenderal Per ikan an Tangkap Zulficar Moch tar mengatakan, akan se gera men carikan solusi atas adu an nelayan sehingga mere ka dapat mera sa kan manfaat ekonomi yang be sar dari kelim pah an ikan di laut. KKP juga telah melakukan ber ba gai upaya lain untuk terus men dorong geliat bisnis per ikan an yang menguntungkan ne layan kecil.

Nugroho




Berita Lainnya...