Edisi 12-10-2018
Pemkot Depok Akan Kembangkan Wilayah Barat


DEPOK – Pemerintah Kota (Pemkot) Depok telah melakukan pemetaan terhadap wilayah lain untuk dikembangkan menyusul kebijakan penghentian sementara atau moratorium izin pembangunan gedung bertingkat di Jalan Margonda Raya.

”Wilayah barat Depok memiliki potensi besar untuk di - kembangkan. Kami melihat dari pertumbuhaninvestasiyangada di kawasan tersebut. Tapi, kalau untuk tata ruang bukan pada kami kewenangannya,” kata KepalaDinasPena namanModal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kota Depok Yulistiani Mochtar, kemarin. Menurut dia, wilayah barat Depok tersebut, yakni Bojongsari yang berbatasan dengan Ciputat, Tangerang Selatan (Tangsel). Saat ini di kawasan itu sudah bermunculan kawasan hunian dan sentra bisnis. Diharapkan kawasan tersebut menjadi alternatif atau kawasan ekonomi baru di Depok.

”Untuk pengembangan eko - nomi di kawasan tersebut, sejumlah infrastruktur pun mulai dibangun. Mulai dari perbaikan jalan hingga faktor penunjang lainnya. Diharapkan banyak investor yang nanti mau me - nanamkan modalnya di wilayah baru tersebut,” kata dia. Selain bidang properti yang menjadi penopang utama per - tumbuhan bisnis di Depok, kata dia, sektor jasa dan pergu dang an juga menunjukkan iklim positif. Dia menyebut, sejak 2014 tren - nya terus naik dan mengarah positif. Bahkan, pada 2016 persentase pertumbuhan nya tertinggi hingga men capai 7,8%. Sedangkan pada 2017 hanya tumbuh sekitar 1,2%.

Dia menjelaskan, tingginya persentase bidang jasa pada2016 dipicu banyaknya rumah sakit baru yang mengajukan operasional. Setidaknya ada tiga rumah sakit besar mengajukan izin operasio nal, yaitu Rumah Sakit Diagram Healthcare di Cinere, Rumah Sakit Citra ArrafikdiCimanggis, danRumah Sakit Brawijaya di Bojongsari. ”Nilai investasi ketiga rumah sakit itu mencapai angka Rp322,5 miliar. Tahun 2016 memang sek - tor jasa sedang tinggi-tingginya,” ujarnya. Selain rumah sakit, sektor jasa juga ditopang dari adanya pengajuan izin operasional sejumlah lembaga pendidikan antara lain Sekolah Internasional Wisdom di Sawangan. Menurut dia, tren bisnis di bidang jasa sampai saat ini terus berkembang dengan adanya akses tol.

”Perkembangan bis nis di Depok dipicu dari adanya akses tol. Karena investor tentu men - cari lokasi bisnis yang akses nya mudah untuk me laku kan per - gerakan,” katanya. Selain itu, start up di sekor informasi teknologi (IT) juga semakin berkembang. Ter - utama di kawasan Beji, Sukma - jaya, Tapos, dan Bojongsari. ”Untuk Beji dan Sukmajaya sudah terlihat bahwa di sana memang banyak penduduk sehingga pergerakan bisnisnya juga lebih banyak. Untuk Tapos dan Bojongsari berkembang karena adanya akses jalan tol yang menjadi keunggulan di wilayah itu,” katanya. Dia menambahkan, untuk daerah Beji dan Sukmajaya bisnis yang berkembang antara lain percetakan, pendidikan, dan jasa ekspedisi.

Diakui dia sampai saat ini iklim investasi paling besar atau utama adalah properti, per dagangan dan jasa, serta per gudangan. Properti memiliki porsi sebesar 35-40% dari total investasi yang masuk di Depok. Sementara perdagangan sebe sar 20%, jasa sebesar 20%, dan lain-lain sebesar 20%. Pakar manajemen inovasi Universitas Indonesia (UI) Ali Berawi mengatakan, sudah saatnya pusat ekonomi baru di Depok dikembangkan sehingga kepadatan di kawasan Mar - gonda bisa dipecah. Selain itu, di kawasan tersebut nanti bisa menjadi tujuan baru investor.

”Misalnya, dilakukan pemerataan di Grand Depok City untuk kulinernya atau kawasan lain di Depok yang memang masih memungkinkan,” katanya.

R ratna purnama






Berita Lainnya...