Edisi 12-10-2018
Restrukturisasi Pascabencana


Bencana beruntun di republik ini berdampak sistemik terhadap geliat ekonomi bisnis, termasuk juga apa yang terjadi dengan bencana gempa dan tsunami di Palu-Donggala.

Betapa tidak, belum reda upaya penanganan kasus gempa di Lom bok, ternyata berlanjut de - ngan gempa dan tsunami di Palu-Donggala. Data terbaru jumlah korban terus ber tambah, yakni hingga lebih 2.000 jiwa. Tidaklah mudah me nyikapi bencana yang terjadi beruntun dan karenanya sikap proaktif untuk bangkit membangun kembali daerah dan perekonomian pascabencana menadi sangat penting. Jadi target relokasi dan restrukturisasi ha rus secepatnya dilakukan. Belajar bijak dari bencana beruntun, sangat disesalkan bahwa sejumlah alat peringatan dini tsunami ternyata tidak lagi bisa berfungsi sejak 2012.

Tentu ini menjadi pertanyaan. Padahal alat pendeteksi ancaman tsu na - mi menjadi sangat penting jika dikaitkan dengan ancamannya terhadap sejumlah daerah. Perlu diperhatikan bahwa Indonesia termasuk salah satu daerah yang rawan gempa dan tentu ini juga relevan dengan ancaman terjadinya tsunami sehingga ketersediaan sejumlah alat pendeteksi tsunami kebutuhan yang mendesak. Setidaknya mencegah tentunya lebih baik daripada merekonstruksi sejumlah kerusakan yang terjadi pasca gempa dan tsunami itu sendiri, bukan hanya di Palu-Donggala tapi juga di daerah lainnya.

Komitmen

Belajar bijak dari kasus bencana di Aceh-Padang dan se jumlah daerah lain yang pernah terkena gempa dan tsunami, ke depan pemerintah, baik pusat maupun daerah, perlu meng identifikasidanmemetakanulangber bagai kemungkinan an caman yang terjadi. Hal ini ten tu tidak hanya menjadi tang gung jawab Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), tapi kita semua. Se - jatinya kita tidak hanya menjadi objek dari bencana, tapi harus bisa menjadi subjek sehingga mampu mere duksi dan meminimalkan serta menghindar dari berbagai ancaman bencana. Ar tinya perlu di bangun kesadaran kolektif terhadap realitas ancaman ben cana di republik ini dan keterlibatan aktif masyarakat sebagai bagian dan komponen penting dalam penanganannya.

Pemberitaan tentang terjadinya korupsi dana bencana kasus di Lombok lalu tentunya sangat disesalkan. Betapa tidak, kepedulian sesama masyarakat justru direcoki dengan adanya segelintir oknum yang mencari kesempatan di antara kepedi han sesama. Padahal kebutuhan ter hadap penanganan pas caben cana sangat diperlukan dan tentu butuh waktu yang cepat agar geliat ekonomi bisnis bisa kembali terbangun sebagai upaya menggerakkan perekonomian. Oleh karena itu sa ngatlah ti dak masuk akal jika pada situasi yang demikian justru ada ok num yang mencuri kesem patan demi memperkaya diri di tengah penderitaan orang lain.

Persoalan yang terjadi di Palu- Donggala juga disesalkan de ngan adanya pemberitaan ter kait penjarahan di sejumlah toko dan swalayan. Bahkan li putan TV sangat terlihat jelas se jumlah orang merusak toko dan melakukan pen jarahan. Apa pun dalihnya, penjarahan tidak lah bisa dibenar kan, apalagi dalam kondisi ben cana. Selainituadajugaberita rombongan bantuan bencana juga diserobot dan dijarah sebelum sampai di tu juan. Meski sama-sama membutuhkan logis tik pascabencana, berbagai penjarahan ter masuk menjarah bantuan bencana tidaklah di be - narkan. Oleh ka rena itu aparat tentu harus ber tindak agar si - tuasinya tidak menjadi kacau dan semua korban bencana mendapatkan penyaluran bantuan secara tepat, yaitu tepat sasaran, tepat jum lah, dan tepat waktu tanpa terkecuali.

Penanganan

Setidaknya ada sejumlah penanganan penting yang harus diperhatikan terkait bencana di Palu-Donggala, Pertama, pa sokan BBM. Betapa tidak, salah satu kebutuhan vital di area ben - cana adalah ketersediaan BBM untuk berbagai keperluan. Terkait ini Pertamina perlu terus menyalurkan BBM melalui terminal di Poso, Mountong, Toli- Toli, dan Pare-Pare. Kedua, percepatan pemulihan listrik. Pasokan listrik memang penting agar kondisi yang terjadi di daerah bencana tidak gelap gulita meski di sisi lain perlu juga memperhatikan aspek keselamatan dari kelis trikan itu sendiri karena tentu si tuasinya tidaklah normal. Fakta bencana di Palu-Donggala berdam pak terhadap matinya 5 gardu induk.

Upaya PLN dengan per baikan gardu induk di Pa mona dan gardu induk di posko yang menyuplai pasokan listrik di daerah Tentena, Poso, dan Kota Poso segera dilakukan, se - ti dakanya dalam sepekan pasca- bencana listrik harus bisa nyala. Ketiga, pasokan air bersih ada lah serangkaian faktor penting yang harus juga tersedia di daerah bencana. Ketersediaan air tidak hanya untuk keperluan sa nitasi tapi juga semua kebutuhan di pengungsian. Pe me - nuhannya bisa dilakukan dengan air galon atau me mak simalkan ketersediaan jaringan pasokan air PDAM yang ada di daerah bencana.

Pemetaan dan identifikasi ter hadap semua jaringan yang ada harus dimaksimalkan agar pasokan air bersih bisa sece pat - nya disalurkan kepada para korban bencana, terutama di daerah pengungsian. Keempat, percepatan pemulihan jaringan komunikasi. Be apa tidak, dari kasus Aceh-Padang beberapa waktu lalu ter - nyata ada banyak kerabat yang resah karena tidak bisa meng - hubungi sanak saudara yang ada di daerah tersebut karena ter putusnya jaringan komunikasi.

Oleh karena itu pemerintah dan pihak terkait perlu meng iden tifikasi kerusakan yang ada dan kemudian melakukan percepatan pemulihan jejaring kemunikasi agar menciptakan rasa aman dan nyaman pas ca bencana. Semua upaya itu harus juga didukung dengan komitmen relokasi dan restrukturisasi agar geliat ekonomi di daerah bencana segera bangkit.

Edy Purwo Saputro
Dosen Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Solo




Berita Lainnya...