Edisi 12-10-2018
Tantangan ASEAN dan Perubahan Lanskap Keamanan di Asia-Pasifik


Berita foto udara dari Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) memperlihatkan kapal perang China yang berada dalam jarak begitu dekat dengan kapal AS di Laut Cina Selatan, akhir-akhir ini mengkhawatirkan banyak pihak.

Pasalnya, kapal perusak USS Decatur yang sedang beroperasi navigasi di kawasan sengketa LCS, direspons China dengan mengerahkan kapal perusak Lan zhou. AS menganggap ini manuver berbahaya. Dalam jarak 41 meter kapal Lanzhou malah merangsek ke Decatur dan memberi peri ngatan agar meninggalkan ka wasan. Decatur pun akhirnya men - jauh. Sebelumnya, dua kapal AS kapal perusak USS Higgins dan kapal penjelajah USS Anitetam—pada Mei 2018 melintas dalam jarak 12 mil laut di Kepulauan Paracel. Reaksi ini ditanggapi China dengan menda ratkan pengebom strategis H-6K di sebuah pos terdepan di Paracel, Woody Island.

AS juga memprotes pe ngerahan rudal dan peralatan radar di tiga pulau buatan China yang dibangun di Kepulauan Spratly dan menuduh melanggar janji pemimpin China, Xi Jinping, yang dibuat pada 2015 ketika China tidak berniat melakukan militerisasi wilayah yang di - seng ketakan. Sebagai balasan, AS membatalkan undangan China untuk ikut latihan dalam angkatan laut multinasional di dekat Hawaii. Pada April 2018, tiga kapal perangAustralia, HMAS Anzac, HMAS Toowoomba, dan HMAS Success bersitegang dengan ka pal militer China. Aus tralia me miliki hak dan kebebasan na vigasi berdasarkan hukum in ternasional di LCS. Semen tara itu, latihan perang Rusia-China dengan mo bilisasi se ki tar 300.000 tentara dan me li bat kan 3.200 tentara China dan Mo ngolia, bertajuk Vostok 2018 pertengahan September, makin menambah es - kalasi ke te ga ngan di kawasan.

Keadaan tersebut menyisakan sejumlah pertanyaan dan ma salah penting terkait perubah an lanskap politik ke amanan dan ekonomi dunia akhirakhir ini, yang membawa ketidakpastian tingkat tinggi dalam sistem global dan ber pe ngaruh terhadap situasi ke aman an Asia Tenggara (ASEAN). Selain AS dan China, India, Jepang, Australia, dan Rusia juga saling berebut pengaruh di kawasan yang pada dasarnya stabil dan damai. Kini malah jadi pusat pertarungan (cen ter of struggle) beberapa nega ra besar. Oleh para pengamat, per taru ngan ini sering di sebut ka wasan de ngan “ketegangan yang terjaga dan ti dak mel e dak”—tidak ada konflik ter buka. Beberapa va ria bel di bawah ini dapat men jelaskan perubah an lanskap keamanan di Asia-Pasifik.

Pertama, krisis Turki dengan kejatuhan mata uang lira membawa dampak ke selu ruh pasar global. Pasar sa ham seluruh Eropa anjlok ta jam, di Asia indeks saham dan ni lai tukar mata uang juga me lemah. Bahkan, perang dagang AS-China memasuki babak baru menyangkut soal pene rap an tarif impor. Sebelumnya, pe rang dagang AS-China, dua ne gara dengan perekonomian ter besar dunia telah membawa efek buruk di kawasan Asia-Pasifik. Di tengah pergeseran sen tral kekuatan ke arah Asia aki bat perkembangan ekonomi dan per kembangan positif di ka was - an Asia Timur, yang se ring di sebut-sebut sebagai pusat gra vitasi dunia (center of gravity), keadaannya sangat men ce maskan.

Rivalitas per da gangan antara AS dan China mengganggu ketahanan dan ino vasi ASEAN di tengah tari kan dan tekanan negara besar. Bahkan sakaguru per tumbuhan dan kemakmuran ASEAN, berupa sistem perda gangan mul ti la teral ber ba sis atur an, teran cam oleh me ning - kat nya nas io na lis me dan protek sionisme. Kedua, isu denukliri sasi Seme nanjung Ko rea be lum berimplikasi positif, padahal upaya itu terus di lakukan. Isu ini masih ber teng ger pada ri va - litas kedua ne gara, Ame rika Serikat dan Ko rea Utara, yang mengganggu ka wasan. AS terus menekan Ko rut hing ga benar-benar me la ku kan denuklirisasi, sedang kan Korut kesal dengan perilaku AS yang terus menyuarakan sanksi bagi Korut.

Pa da hal, ke se pa katan Trump dan Kim Jong-un, di Singapura, Juni 2018, ber komitmen mem ba ngun hu bungan yang le bih baik, mem bangun re zim per damai an abadi dan stabil di Semenan jung Korea, melucuti nuklir seca ra ke selu ruh an, ser ta mem bebas kan tahanan pe rang. Ketiga, si tuasi keaman an di LCS ma kin me manas kare na Chi na mem per kuat klaim nya dan mi li te ri sa si di ham pir di se luruh kawas an. Bahkan m e lumpuh kan Kode Tata Ber perilaku (Declaration on the Conduct of Parties in South China Sea-CoC), yang di gagas ASEAN sejak 2002. Kesepakatan ASEAN-Chi na tentang penyu sunan draf tung gal CoC yang di capai di Changsha, China, 27 Juni lalu, tidak meng alami perkem ba ng an berarti sebagai upaya damai yang digagas ASEAN.

Doktrin ke bijakan luar negeri China “peaceful development “ tinggal se kadar jargon. Dalam menyikapi peru bahan geopolitik dan keamanan di atas, peran penting ASEAN dan Indonesia meredakan konfrontasi dan hidup berdampingan secara damai sangat di per lu - kan. Dalam memperkuat in tegritasnya menghadapi tan tangan percaturan lanskap ter - sebut, bagaimana ASEAN me - nyikapi isu baru Indo Pasifik?

Optimalisasi Arsitektur ASEAN

Meski konsep Indo Pasifik belum jelas, kecenderungan me ngentalnya rivalitas stra tegis antar negara besar di wilayah strategis ini, sedikit banyak dapat menjelaskan dari visi kom petitif mengenai ta tan an re gional di kawasan da - lam men desain ulang mandala stra te gis nya. Koalisi strategis empat sisi (quad ) antara AS, Jepang, India dan Australia dan menguatnya hubungan India- Jepang dalam menata Indo- Pasifik menjadi variabel pen - ting pembentukan arsitektur Indo-Pasifik itu, di samping posisi China yang me nolak AS soal LCS. Perubahan itu bertumpu pa - da belahan timur dari Asia-Pa sifik ke Indo-Pasifik, yaitu ke terhubungan dua samudra, Sa mudra Hindia dan Samudra Pasifik sebagai unit geopolitik dan geo - ekonomi (Sukma, 2018).

Bagi AS, seperti yang disam pai kan Pre si den Donald Trump pada 2017, Indo-Pasifik ditu ju kan untuk menghadang per luasan pe ngaruh dari inisiatif satu sabuk, satu jalan (OBOR) serta prakarsa sabuk dan jalan (BRI) China. Menghadapi situasi demikian, Indonesia dan ASEAN me ngajukan konsep Indo-Pasifik yang bertujuan me rang kul se mua pihak, dengan meng utama kan pembiasaan dialog dan penghormatan terhadap hukum, yang bertujuan menciptakan lingkungan perdamaian dan stabilitas kawasan untuk meredam pertarungan negaranegara besar di Asia Tenggara.

Sejatinya prakarsa Indonesia ini bertujuan mengarusutamakan dan mengoptimalkan arsi - tek tur yang sudah ada (ASEAN, ARF, EAS, APEC) dan me maksimalkan regional grouping. Ini dimaksudkan untuk anti sipasi ancaman pertarungan negara-negara besar di Asia- Pasifik dan Samudra India, yang berpengaruh terhadap Asia Tenggara. Hanya, ma nuver dan pertarungan politik keamanan AS-China sering merepotkan ASEAN. Padahal, ASEAN seb a gai kekuatan penyeimbang dan pemersatu di ka wasan cukup tangguh.

Tantangan bagi ASEAN

Untuk itu, saling ke ber gantungan negara ASEAN sangat diperlukan. Nilai-nilai inklusif dan berbasis aturan, kerja sama, serta peningkatan dialog, yang selama ini menjadi wa dah tra disi ASEAN sebagai lawan dari tradisi konfrontasi makin pen ting. Pendekatan mengajak ne gara-negara besar ikut menyelesaikan perbedaan ke pentingan di kawasan dapat mengurangi tingkat eskalasi konflik. Di tengah struktur dunia yang multipolar, tindakan asertif ASEAN diperlukan agar ri valitas ekonomi dan politik an tara AS dan China dapat diman faat - kan untuk keuntungan ASEAN, bukan untuk dise rah kan, apalagi dikuasai oleh mereka.

Dengan integrasi dan in ter - dependensi yang solid serta memanfaatkan kekuatan-kekuatan ekonomi besar lainnya di Asia, seperti China, India, Jepang, dan Korea Selatan, ASEANber peluang menjadi bagian penting dari emerging economies sebagai alternatif pertumbuhan eko no mi dunia. Secara demikian, di tengah gempur an krisis eko nomi global, percaturan Indo-Pasifik, seharus nya diman faat kan ASEAN sebagai pusat glo balisme baru. Peran proaktif agar ASEAN adaptif dan tidak ber pihak pada salah satu ne gara, juga men jadi penting. Lebih dari itu, pe nge m ba ngan tatanan regional ASEAN yang mengedepankan dynamic equlibrium di kawasan juga harus diperjuangkan.

Sebagai sendi utama politik luar negeri Indonesia, ASEAN dapat men jadi as roda (lincpin ) ke pen ti ngan strategi utama di Asia-Pasifik, sekaligus titik tumpu (fulcrum ) stabilitas geopolitik memasuki era baru Indo-Pasifik.

Faustinus Andrea
Pemerhati Masalah ASEAN dan Editor Jurnal Analisis CSIS, Jakarta





Berita Lainnya...