Edisi 12-10-2018
Indonesia Resmi Kantongi Investasi Infrastruktur USD13,5 Miliar


NUSA DUA–Kesepakatan kerja sama investasi dan pembiayaan senilai lebih dari USD10 miliar atau sekitar USD13,5 miliar akhirnya ditandatangani.

Penandatanganan kerja sama itu diharapkan dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi Indonesia karena proses pengembangan infrastruktur nasional mendapatkan solusi pembiayaan dengan berbagai macam sumber pendanaan.

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno mengatakan, inovasi pembiayaan infrastruktur ini akan mampu mempercepat pembangunan infrastruktur dan peluang investasi pada pembangunan infrastruktur Indonesia kedepan.

Selain itu, diharapkan para investor lain dapat mengetahui adanya komitmen pemerintah mendorong pihak swasta dalam pembiayaan pembangunan infrastruktur.

Kementerian BUMN bersama BI, Kementerian Keuangan, dan OJK tergabung dalam Forum Koordinasi Pembiayaan Pembangunan Melalui Pasar Keuangan, juga membuka peluang bagi investor berpartisipasi dalam berbagai kerja sama investasi proyek infrastruktur.

”Sekarang kami menyaksikan kerja sama penandatanganan investasi dan pembiayaan antara 14 BUMN dengan investor dan lembaga keuangan untuk 19 transaksi dengan nilai kesepakatan mencapai USD13,5 miliar atau setara Rp202 triliun,” kata Rini di selasela penandatanganan kerja sama investasi dan pembiayaan di Nusa Dua, Bali, kemarin.

Berdasarkan jenis investasi, strategic partnership memberikan kontribusi hampir 80% dari total nilai penandatanganan. Selebihnya adalah project financing dan pembiayaan alternatif pasar modal yang mencakup sektor migas, hilirisasi pertambangan, pariwisata, bandar udara, kelistrikan, pertahanan, jalan tol, dan manufaktur.

Dia mengatakan, BUMN akan selalu berupaya meningkatkan kapasitas sumber daya dengan mencari sumber pendanaan dari pasar keuangan melalui berbagai inovasi instrumen pembiayaan dan membangun kemitraan dengan sektor swasta lainnya.

Melalui kemitraan strategis, BUMN diharapkan juga mendapatkan pembelajaran dari keahlian sektor swasta untuk pembangunan infrastruktur dengan kualitas sesuai dengan standar global.

”Dalam implementasi pembangunan infrastruktur, BUMN memiliki peran penting dalam pencapaian pembangunan infrastruktur yang di tetapkan pemerintah. Guna mendukung pembangunan infrastruktur ke depan, keterlibatan BUMN dan sektor swasta masih sangat diperlukan,” kata Rini.

Menteri Koordinator Perekonomian Darmin Nasution menambahkan, kerja sama ini juga selaras dengan program Pemerintah Indonesia dalam 5 tahun terakhir yang menempatkan fokus pada pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan interkonektivitas antarwilayah di Indonesia, menurunkan biaya logistic, dan menjaga ketersediaan suplai energi.

Menurut dia, Indonesia akan tetap bertekad meneruskan pembangunan yang sudah mulai baik dalam bentuk infrastruktur atau proyek strategis lainnya. ”Ini terbukti menghasilkan pertumbuhan meski tidak terlalu tinggi, kualitasnya bagus dan rakyat bisa menikmati,” ungkap dia.

Adapun ke-19 proyek yang sudah ditandatangani di antaranya strategic partnership antara PT GMF AeroAsia Tbk dan Airfrance Industries serta KLM Enginering & Maintenance senilai USD400 juta.

Kemudian partnership antara GMF Aero- Asia dan China Communications Contruction Indonesia senilai USD500 juta. Selanjutnya peluncuran penawaran kerja sama strategis Bandara Kualanamu oleh PT Angkasa Pura II (Persero) kepada investor senilai hingga USD500 Juta.

Strategic partnership senilai USD100 juta antara PT Pindad (Persero) dan Waterbury Farrel. PT Aneka Tambang Tbk dengan Ocean Energy Nickel International Pty Ltd senilai USD320 juta.

Strategic partnership senilai USD850 juta antara PT Inalum (Persero), Antam, dan Aluminium Corporation of China Limited. Lalu kerja sama senilai USD500 juta antara PT KAI (Persero), PT INKA (Persero), dan Progress Rail (Caterpillar Group).

Kerja sama senilai USD 185 juta antaraPTBomaBismaIndra(Persero) dan Doosan Infracore serta Equitek. Kemudian Kontrak Investasi Kolektif Dana Investasi Infrastruktur (KIK-DINFRA) senilai USD112 juta oleh PT Jasa Marga dan Bank Mandiri serta pernyataan efektif OJK.

Selanjutnya Reksa Dana Penyertaan Terbatas (RDPT) PT Jasa Marga dan Bank Mandiri serta AIA, Taspen, Wana Artha, Allianz, dan Indonesia Infrastruktur Finance (IIF) senilai USD224 juta. Kerja sama investasi senilai USD6,5 miliar antara PT Pertamina (Persero) dan CPC Corporation.

Kerja sama investasi senilai EUR150 juta antara PLN dan KfW. Kredit investasi senilai USD523 juta dari Bank Mega kepada PT Hutama Karya (Persero) untuk pembangunan ruas Tol Pekanbaru-Dumai.

Asset monetization senilai USD336 juta oleh Hutama Karya dengan ICBC, MUFG, Permata Bank, dan SMI. Ada juga kredit sindikasi USD684 juta kepada Hutama Karya dari Bank Mandiri, BRI, BNI, CIMB Niaga, dan SMI. Investasi senilai USD310 juta antara Menjangan Group, ITDC, dan Amorsk Group.

Investasi senilai USD198jutaantaraPTWijayaKarya (Persero), ITDC, dan Menjangan Group. Kerja sama pembia yaan proyek Kawasan Ekonomi Khusus Pariwisata Mandalika antara ITDC dengan Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) senilai USD248 juta. Terakhir kerja sama Hedging nilai tukar berbasis syariah senilai USD128 juta antara PTSMI dan Maybank.

kunthi fahmar sandy