Edisi 12-10-2018
Kementan Pacu Budi Daya Kapulaga


JAKARTA– Kementerian Pertanian (Kementan) mendorong budi daya tanaman kapulaga (Amomum cardamomum).

Harapannya, tanaman obat yang telah digunakan oleh masyarakat secara turun-temurun ini bisa memenuhi kebutuhan dalam negeri dan ekspor. Direktur Sayuran dan Tanaman Obat, Direktorat Jenderal Hortikultura Kementan Prihasto Setyanto mengatakan, Kementan mendukung penuh pengembangan kapulaga.

Hal ini penting karena berdampak pada peningkatan kesejahteraan petani dan penambahan devisa. “Produksi kapulaga di dalam negeri tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan sendiri, juga untuk memenuhi permintaan ekspor dari negara- negara Timur Tengah, Mesir, dan India,” kata Prihasto di Jakarta kemarin.

Tercatat, produksi kapulaga terus meningkat rata-rata sebesar 15,05%. Pada 2012 hingga 2017, produksi kapulaga berturut-turut naik mulai 42.973 ton, 54.171 ton, 72.851 ton, 93.121 ton, 86.144 ton, dan 90.787 ton.

Dengan volume ekspor pada 2012 hingga 2015 sebesar 7.961 ton, 6.697 ton, 7.737 ton, dan 6.245 ton. “Kapulaga termasuk suku jahe-jahean atau zingiberaceae. Tanaman obat ini cukup mudah dalam pemeliharaannya, tapi tetap membutuhkan budi daya yang baik dan benar supaya dapat memperoleh hasil maksimal,” tambahnya.

Kabupaten Garut merupakan salah satu daerah yang memiliki lahan pengembang-an budi daya kapulaga. Kepala Bidang Hortikultura, Dinas Pertanian Kabupaten Garut Deni Herdiana mengatakan kondisi agroklimat dan lahan di kabupaten ini berpotensi untuk pengembangan tanaman kapulaga.

Kabupaten Garut dikenal sebagai salah satu sentra kapulaga. “Minat petani terus bertambah untuk menanam. Luas tanam kapulaga pada 2016 hanya 769 hektare (ha), meningkat pada 2017 menjadi 1.295 ha,” kata Deni.

Uden dan Saroh, sepasang suami istri petani di Desa Mekarsari, Kabupaten Garut, sangat bersemangat bertanam kapulaga karena budi dayanya tidak sulit dan tidak memerlukan modal besar. Saat ini harga kapulaga kering dihargai lumayan tinggi, yaitu Rp83.000 per kg.

Harga pada umumnya sekitar Rp40.000 sampai Rp60.000 per kg. Menurut Saroh, petani di Garut biasa menanam kapulaga di bawah tegakan tanaman tahunan, seperti albasia atau pisang. Lahan seluas 200 tumbak atau 3.000 m2 dalam sekali panen dapat menghasilkan 50 - 75 kg kapulaga kering dan mampu dipanen tiga kali dalam setahun.

“Jika rajin memberi pupuk urea dan ZA serta lahan bersih dari gulma, tanaman kapulaga akan rajin berbuah,” ungkap Saroh. Sementara itu, Ilan, salah satu pedagang pengempul besar rempah di Garut mengakui senang terhadap perkembangan kapulaga di Garut karena selain cepat, kapulaga sangat menguntungkan dan mudah dijual.

Pada musim panen gudangnya dapat menyerap kapulaga sekitar 1 ton per hari. “Selain ke para pengepul, kapulaga ini langsung diserap oleh industri jamu dan obat di dalam negeri ataupun ekspor ke beberapa negara seperti, Ti - mur Tengah, Mesir, dan India,” ungkapnya.

oktiani endarwati