Edisi 12-10-2018
Pelaku Pasar Diminta Tidak Panik


JAKARTA– Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia (BEI) kemarin ditutup anjlok 2,02% atau setara 117,85 poin kelevel 5.702,82.

Direktur Utama BEI Inarno Djajadi mengatakan, penurunan indeks disebabkan tren negatif di pasar saham sejumlah negara, seperti Amerika Serikat (AS), China, Korea Selatan, Hong Kong, dan beberapa bursa saham di Asia. Hal ini turut berdampak pergerakan IHSG.

“Jadi ini disebabkan oleh faktor eksternal dan sifatnya hanya sementara, investor diminta untuk tidak panik,” kata Inarno di Jakarta, kemarin. Menurut dia, saat ini sejumlah negara di dunia masih melihat pasar modal Indonesia cukup prospektif untuk menanamkan investasinya.

Hal tersebut terlihat dari paparan yang diberikan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank pada pertemuan Annual Meeting IMF-Bank Dunia 2018 di Bali. “Secara fundamental ekonomi negara kita masih baik, bahkan IMF masih cukup yakin dengan perekonomian Indonesia,” katanya.

Sementara itu, Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menambahkan, merosotnya IHSG juga disebabkan pembatalan kenaikan harga bahan bakar jenis premium oleh pemerintah.

Hal itu menjadi salah satu citra buruk dalam penerapan kebijakan pemerintah. “Bisa jadi ada korelasi antara IHSG dan pengumuman harga BBM, karena ini menjadi preseden buruk, apalagi itu diumumkan pada acara berskala internasional,” kata Bhima.

Bhima juga memprediksi, hal ini akan memengaruhi nilai tukar mata uang rupiah terhadap dolar AS. Rupiah diperkirakan juga akan menunjukkan pelemahan karena penjualan asing terus terjadi. Dalam setahun terakhir, penjualan asing di pasar modal telah mencapai sekitar Rp54 triliun.

Pada awal perdagangan sesi I kemarin, IHSG dibuka anjlok pada posisi posisi 5.700,87 seusai merosot tajam 119,800 poin atau 2,06%. Sebagai informasi, nilai transaksi perdagangan di BEI kemarin tercatat sebesar Rp7,43 triliun dengan 11,24 miliar saham diperda gangkan dan transaksi bersih asing minus Rp1,18 triliun dengan aksi jual asing sebesar Rp3,02 triliun dan aksi beli asing mencapai Rp1,83 triliun.

Tercatat sebesar 81 saham menguat, 357 melemah, dan 98 stagnan. Beberapa saham yang menguat di antaranya PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) bertambah Rp185 menjadi Rp940, PT Super Energy Tbk (SURE) naik Rp125 ke posisi Rp630, serta PT Pelayaran Tamarin Samudra Tbk (TAMU) meningkat Rp120 menjadi Rp2.990.

Saham-saham yang melemah, yakni PT Pelat Timah Nusantara Tbk (NIKL) turun Rp400 menjadi Rp3.500, PT Danasupra Erapacific Tbk (DEFI) menyusut Rp250 menjadi Rp1.250, dan PT Astra International Tbk (ASII) berkurang Rp225 ke level Rp6.725.

Sementara itu, bursa Asia runtuh ketika mayoritas bursa utama merosot tajam pada akhir sesi perdagangan Kamis dengan komposit Shanghai dan Shenzhen keduanya jatuh lebih dari 5%.

Selanjutnya pada wilayah daratan China, kejatuhan juga menimpa indeks Hang Seng dengan penurunan 3,54% ke level 25.266,37 hingga perdagangan sesi sore kemarin. Pelemahan terdalam terlihat pada komposit Shanghai yang jatuh 5,22% hingga perdagangan ditutup menjadi 2.583,46 dan komposit Shenzhen terkapar seusai kehilangan 6,445% untuk berakhir di posisi 1.293,90.

Penurunan indeks Shanghai menjadi terburuk dalam satu hari sejak Februari 2016, menurut perusahaan jasa keuangan China, Wind Information. Di Taiwan, indeks Taiex menyusut hingga 6,31% hingga berakhir pada posisi 9.806,11 saat saham pembuat lensa dan pemasok Apple Largan Precision anjlok 9,89%.

Tidak terkecuali pasar saham Jepang juga tersendat. Indeks Nikkei 225 tercatat lebih rendah 3,89% ke level 22.590,86, sementara indeks Topix turun 3,52% untuk mengakhiri sesi hari ini di posisi 1.701,86 terseret sebagian besar sektor utama yang mengalami kejatuhan.

Selanjutnya indeks Kospi di Korea Selatan melanjutkan tren pelemahan secara umum seusai terperosok 4,14% hingga ditutup pada level 2.136,31. Indeks patokan Australia di Sydney, ASX 200 juga turun 2,74% menjadi 5.883,8 dengan sebagian besar sektor lebih rendah.

heru febrianto