Edisi 12-10-2018
Keberanian Inggris


RIJEKA– Pertama kali dari 988 laga internasionalnya, timnas Inggris bermain tanpa penonton.

Bertandang ke Stadion HNk Rijeka, markas Kroasia, dini hari nanti, laga digelar tanpa suporter karena tuan rumah mendapat sanksi menyusul kerusuhan fansdan rasisme dua tahun lalu. Bermain tanpa penonton bisa menguntungkan karena tidak ada tekanan dari suporter tuan rumah.

Semua tahu, Kroasia memiliki pendukung fanatik dan tak sungkan melepaskan teror ketim tamu. Dari sisi ini jelas menguntungkan. Masalahnya, minus suporter justru membuat detail pertandingan menjadi sorotan kamera, termasuk gerak bibir, gesture dari setiap pemain, dan ofisial akan disorot.

Jika tak dikontrol, tentu bisa menjadi kontraproduktif buat tim. Situasi ini membuat Pelatih Gareth Southgate memberikan banyak catatan kepada pemainnya. Misalnya, dia memperingatkan pemainnya agar berhati-hati dalam berbicara.

Pelatih berusia 48 tahun itu juga meminta skuadnya mempelajari beberapa rekaman laga tertutup. Seperti pertandingan Barcelona melawan Las Palmas di Primera Liga tahun lalu serta pertandingan penyisihan grup Liga Champions antara Olympique Lyon kontra Shakhtar Donetsk (2/10).

Tujuannya, agar The Three Lions bisa men dapatkan angka di kandang Kroasia. Apalagi, Inggris belum mendapatkan kemenangan di Nations League A Grup 4. Kemenangan bisa membuat mereka terhindari dari zona degradasi.

Motivasi lain adalah membalas dendam kesumat kepada Kroasia yang mengakhiri perjalanan Inggris di Piala Dunia 2018 setelah kalah 1-2 di semifinal. “Kami ingin memenangkan pertandingan,” kata Southgate.

Ambisi itu terlihat dari daftar pemain yang di panggil melawan finalis Piala Dunia 2018 tersebut. Dia menyertakan pemain utamanya dalam starting line-up seperti Harry Kane, Raheem Sterling, Kieran Trippier, Eric Dier, Harry Maguire, hingga Jordan Pickford.

Selain itu, Southgate juga membawa tujuh pemain debutan seperti Marcus Bettinelli, Alex McCarthy, Lewis Dunk, Nathaniel Chalobah, James Maddison, Mason Mount, dan Jadon Sancho. Kehadiran pemain baru itu diharapkan bisa menutup celah absennya Dele Alli dan Jesse Lingard.

“Bisa saja kami memilih pemainpemain dengan karier hebat di Liga Primer. Tapi, prioritas kami adalah melihat beberapa pemain muda yang menarik. Pada levelnya, mereka telah membuktikan diri sangat bagus dari tim mana pun di dunia,”ungkap Southgate, dilansir Independent .

Southgate menilai skuad muda sangat dibutuhkan Inggris untuk jangka panjang, terutama dalam mengarungi padatnya jadwal pertandingan yang sudah dimulai dari periode September hingga Desember mendatang.

“Kita berbicara mengenai metode yang akan kami gunakan dan pelajaran dari periode sibuk di depan. Bukan hanya kualitas permainan dan kualitas lawan, kami juga ingin belajar beberapa hal taktis serta belajar tentang beberapa individu.

Kami punya 18 pertandingan sebelum Piala Eropa,” ungkap Southgate. Nama lain yang masuk line-up daftar panggil Southgate adalah Ross Barkley. Gelandang Chelsea ini melihat jika timnya memiliki skuad yang mumpuni.

“Anda harus menghormati setiap lawan. Tapi, Anda melihat di Piala Dunia 2018, bagaimana fantastisnya permainan (Luka) Modric. Begitu juga dengan (Ivan) Rakitic yang merupakan andalan Barcelona,” kata Barkley, dilansir yahoosports . Kendati demikian, Barkley menegaskan bahwa Inggris tidak merasa inferior.

Gelandang Chelsea tersebut yakin The Three Lions memiliki skuad muda hebat yang mampu mengimbangi kekuatan lini tengah Kroasia. “Kami mempunyai pemain-pemain yang bisa bersaing dengan negara-negara kuat. Kami memiliki identitas sendiri.

Kami mampu melaju ke semifinal Piala Dunia 2018 dan saya pikir kami berada pada jalur yang tepat,” tandasnya. Ambisi besar Inggris didukung kondisi tuan rumah. Sejak tumbang 2-4 di final Piala Dunia 2018, grafik Kroasia terus menukik.

Tim berjuluk Vatreni tersebut ditahan 1-1 oleh Portugal di laga uji coba (7/9) dan dipecundangi Spanyol 0-4 di laga Nations League (12/9). Situasi bertambah pelik karena tiga pemain utama Marcelo Brozovic, Borna Barisic, dan Sime Vrsaljko harus absen karena cedera.

Namun, Pelatih Kroasia Zlatko Dalic tidak khawatir karena menurunnya performa bisa terjadi kepada tim mana pun. Dia meminta pasukannya berkonsentrasi penuh memperbaiki performa agar kembali ke jalur kemenangan.

“Kami harus meningkatkan kualitas melawan Inggris untuk memperbaiki kesalahan yang ada dan mempersiapkan diri jelang laga kualifikasi Piala Eropa 2020. Kami tidak berada dalam kekuatan penuh saat kalah dari Spanyol. Tapi, kami menatap ke depan,” tandas Dalic.

alimansyah