Edisi 12-10-2018
Film Thriller yang Lucu


JIKAmenonton trailernya sebelum menonton, sangat mudah untuk menduga bahwa film ini punya cerita mirip Gone Girl yang dibintangi Rosamund Pike dan Ben Affleck.

Anggapan ini memang tak salah, meski atmosfer yang ditawarkan A Simple Favor jauh berbeda. Nama Paul Feig sebagai sutradara harusnya sudah memberi petunjuk tentang aura yang dibawa film ini.

Feig dikenal sebagai orang yang banyak menangani film-film komedi, baik layar lebar maupun layar kaca, seperti Bridesmaids (2011), The Heat (2013), Spy (2015), serta serial 30 Rock, Parks and Recreation , dan The Office . Begitu pun film ini, meski ceritanya misteri, di kemas dengan bungkus komedi.

Sedari awal, semangat komedi sudah diperlihatkan saat Feig memperkenalkan karakter Stephanie Smothers (Anna Kendrick), orang tua tunggal yang baik hati dan kelebihan energi, sampai sering jadi bahan gosipan ibuibu dan bapak di sekolah anaknya.

Maklum, mereka tinggal di kota kecil, jadi mungkin kurang kerjaan. Stephanie juga punya vlog soal panduan memasak, dengan jumlah penonton yang lumayan juga. Suatu hari di sekolah, Stephanie bertemu dengan orang tua murid lainnya, Emily Nelson (Blake Lively).

Emily adalah sosok yang sangat berbeda dengan orang kebanyakan di kota itu. Dia tampil necis, cantik, tinggi menjulang, kerja di pusat kota sebagai kepala humas sebuah perusahaan mode. Rumahnya tak hanya besar, juga berkelas.

Kebetulan, anak Stephanie dan Emily berteman dekat. Jadilah kedua anak itu merengek minta main bareng selepas sekolah. Tak punya pilihan, akhirnya Emily yang bicaranya ceplas-ceplos dan kadang jutek ter paksa mengundang Stephanie ke rumahnya.

Tak dinyana, keduanya malah ak rab. Sampai berbagi rahasia segala. Sampai akhirnya, Emily menghilang. Stephanie yang dititipkan anak, rumah (juga suami ganteng Emily), kebingungan.

Masih linglung, polisi keburu datang menginvestigasi. Sulit untuk bagaimana harus menetapkan emosi saat menonton film ini. Suatu waktu, kita sebagai penonton dijejali fakta-fakta misterius dan bertolak belakang tentang Emily.

Belum lagi saat ada mayat ditemukan. Hawa thriller jadi mengemuka. Namun sedetik kemudian, kita malah disuguhi aksi konyol dan kikuk Stephanie. Aura mencekam pun langsung luntur, berganti dengan komedi. Begitu terus bergantian.

Jadi, suasana mencekam maupun kelucuan tak pernah sampai klimaks. Namun asyiknya, skenario buatan Jessica Sharzer ini mampu memberikan cerita yang berliku-liku, juga tipuan berkali-kali.

Jadi, film ini tetap enak dinikmati. Ditambah, duet akting Blake Lively dan Anna Kedrick betul-betul padu dan saling mengisi. Lively sangat pas memerankan karakter alpha female .

Sementara Anna Kendrick, meski seperti mengulang karakter-karakternya di film lain, tetap kocak dilihat sebagai perempuan kikuk yang cerdas tapi sering diremehkan. Satu lagi hal yang membuat film ini terasa menarik adalah, cukup banyaknya representasi ras dan golongan dalam film ini.

Mulai dari dipilihnya Henry Golding, si tampan tajir di Crazy Rich Asians, sebagai suami Emily. Para orang tua di sekolah Stephanie; ada yang berkulit cokelat, juga ada satu bapak gemulai yang senang bergosip.

Hingga guru di sekolah yang berjilbab. Untuk sebuah mini-major studio yang juga masuk dalam anggota Motion Pictures Asso ciation of America (MPAA) bersama enam studio besar Hollywood, ini langkah kecil dari Lionsgate yang patut diapresiasi dan jadi nilai lebih film ini.

herita endriana

Berita Lainnya...