Edisi 12-10-2018
Perang Batin Neil Armstrong


FIRST Man bukanlah cerita tentang glorifikasi kesuksesan Amerika dan Neil Armstrong sebagai misi dan orang pertama yang mendarat di bulan.

Ini justru cerita tentang perjuangan untuk lepas dari trauma dan kehilangan.Jika dibuat daftar sosok paling populer sekaligus misterius di dunia, Neil Armstrong bisa jadi ada di dalamnya.

Sejak mendapat predikat sebagai orang pertama yang berhasil menginjakkan kakinya di bulan, Armstrong hanya sekali mau diwawancara, itu pun dalam konferensi pers.

Dia sama sekali tak tertarik berada dalam sorotan kamera, berbanding terbalik dengan rekannya, Buzz Aldrin, yang bahkan sampai muncul di serial The Simpsons hingga film seri Transformer.

Keputusan Armstrong menepi dari hiruk-pikuk kepopuleran inilah membuat kehidupan pribadinya jarang terkuak sekaligus membuat banyak orang penasaran.

Sejauh ini hanya ada dua buku berhasil mengupas detail kehidupan pribadi sang astronot, yaitu First Man: The Life of Neil A. Armstrong karya James Hansen (2005) yang disebut sebagai buku biografi resmi.

Kedua, baru terbit 2014 silam atau dua tahun setelah Armstrong wafat. Ditulis oleh jurnalis kawakan sekaligus teman Armstrong, Jay Barbree. Judulnya Neil Armstrong: A Life of Flight.

Film ini mengambil bahan dari buku yang disebut pertama. Sutradara Damien Chazelle (Whiplash, La La Land ) lalu memilih mengeksplorasi sisi privat Armstrong; sebagai astronot dan insinyur pesawat, seorang ayah, dan pria yang senang menyimpan emosinya rapat-rapat.

Awalnya kita akan diberi gambaran Armstrong sebagai seorang pilot sekaligus engineer. Dengan scene pembuka yang panjang, intens, dan mendebarkan, pada akhir adegan kita dengan mudah akan mengambil kesimpulan: Armstrong adalah pilot sekaligus teknisi tangkas, mampu berpikir cepat saat darurat, dan berani mengambil risiko.

Tak heran dia dipilih NASA untuk ke bulan. Namun, alihalih langsung lanjut membawa Armstrong pada kisah proyek ke bulan, skenario Josh Singer (Spotlight, The Post ) malah beralih ke kehidupan domestik Armstrong.

Scene berikutnya adalah tentang betapa campur aduknya perasaan pria itu saat melihat putrinya yang masih berumur 3 tahun perlahanlahan melemah akibat gerusan tumor ganas.

Saat akhirnya sang putri harus menyerah kalah, maka dimulailah kisah sebenarnya. Armstrong sulit menerima kematian anaknya, tapi dia memilih tak membicarakan kedukaan itu pada siapa pun, termasuk pada istrinya Jan (Claire Foy).

Kedukaan yang dibiarkan menumpuk lalu menemukan pelampiasannya pada ambisi pergi ke bulan. Sayangnya, proses ke bulan ternyata juga tak mudah. Berulang kali Armstrong malah menemukan bahwa kematian demi kematian selalu dekat dengan kehidupannya.

Berbeda dengan film biopik yang biasanya mengglorifikasi tokoh utamanya dan menempatkannya bak seorang superhero. First Man menempatkan Armstrong sebagai sosok sangat manusiawi.

Dalam film ini, dia memang jauh dari sikap tercela, tapi Armstrong versi Chazelle adalah manusia yang jatuh bangun menghadapi pergolakan dalam hatinya.

Dengan diplomatis, Chazelle dan Singer mampu menunjukkan bahwa Armstrong bukanlah kepala keluarga sempurna, tapi tanpa penonton harus antipati padanya. Penonton mungkin gemas dengan sikap super dingin Armstrong saat berpamitan dengan anakanaknya saat akan pergi ke bulan.

Namun, penonton pun akan paham bahwa itu hanya sistem pertahanan Armstrong karena sampai saat itu dia masih terjebak dalam rasa trauma dan kehilangan yang mendalam.

Ryan Gosling tanpa harus berakting dengan ekspresi berlebihan mampu mengantarkan emosi-emosi terdalam Armstrong pada penonton. Dramatis, tanpa harus lebay .

Sementara Claire Foy meski tak terlalu banyak mengambil scene, tetap mampu tampil menonjol, membuat pergulatan batin Armstrong makin terlihat nyata dan mengaduk-aduk perasaan. Sungguh keduanya layak duduk di daftar nomine Piala Oscar.

Meski kental unsur dramanya, First Man tentu saja punya banyak adegan luar angkasa dengan segala embel-embelnya. Sekadar pemberitahuan, meski visualnya tampak indah dengan angle-angle menarik, tapi bersiaplah untuk adegan-adegan bikin pusing kepala.

Seperti Armstrong dan para astronot yang mesti mencoba duduk di kursi lalu dijungkirbalikkan tak keruan saat simulasi di pesawat, mirip seperti naik wahana di Dufan, penonton pun kurang lebih akan berhadapan dengan kamera yang bergoyang hebat, jungkir balik, dan hal-hal lain yang tidak menyenangkan.

Di luar ketidaknyamanan itu, First Man jelas salah satu film terbaik untuk tahun ini. Bersiaplah untuk sering mendengar film ini disebut saat musim festival film nanti.

herita endriana