Edisi 12-10-2018
Unika Atma Jaya Gelar SE Marketplace 2018


UNTUK kedua kalinya, Unika Atma Jaya (UAJ) Jakarta akan menyelenggarakan ajang Social Entrepreneurship (SE ) Marketplace .

Acara tersebut akan digelar pada 16- 17 Oktober 2018. SE Marketplace adalah aktivitas untuk menemu-kenali produk (barang, jasa, dan ide) dari unit-unit (fakultas, lembaga, pusat studi dan lainlain), unit kegiatan mahasiswa (UKM (), perorangan/kelompok dosen/-peneliti/mahasiswa di Unika Atma Jaya.

Dalam kegiatan ini dipertemukan jejaring Unika Atma Jaya, corporate social responsibility (CSR) dari korporat dan industri, serta pengambil kebijakan untuk menemukan kemungkinan kolaborasi.

Peserta dapat berkenalan dengan para inovator, sekaligus kreator aktivitasaktivitas sosial kemasyarakatan melalui kegiatan sosial, edukasi, kesehatan, dan seni sehingga dapat memberikan dukungan dalam bentuk yang beragam sesuai misi dan visi lembaga masing-masing.

Kepala Biro Kerjasama Unika Atmajaya, Agustina Dwiretno Nurcahyanti, mengatakan event ini digelar untuk mewadahi para civitas akademia baik dosen ataupun mahasiswa dalam menggerakkan ide-ide kreatif dan bisnisnya.

Sementara untuk tahun ini SE Marketplace 2018 mengangkat tema Inovasi, Interaktif, dan Influence . “Tujuan dari tema tersebut adalah kami ingin menekankan pada civitas akademik Unika Atma Jaya untuk tidak lelah berinovasi, apa pun bidang keahliannya, mulai dari ilmu teknik, farmasi, hukum.

Apa pun itu kami ingin selalu menggerakkan semangat inovasi,” ujar Agustina di Unika Atma Jaya Jakarta, Kamis (11/10). Dia menilai inovasi tidak akan bermakna jika tidak dibarengi dengan interaktif antara satu sektor dengan yang lainnya.

Sementara influence sangat penting agar produk inovasi yang dihasilkan oleh Unika Atma Jaya memberikan dampak positif. Salah satu peserta SE Marketplace 2018 adalah Acope (Atma Jaya Community Pphtamology Program and Education) yang terdiri dari tim medis, dokter mata, dan dokter umum yang memiliki pelayanan kesehatan mata di daerah terpencil Indonesia Timur, khususnya di Nusa Tenggara Timur (NTT).

Menurut dokter spesialis mata dari Acope, dr Cisca Kuswidyati, daerah NTT memiliki angka kebutaan yang cukup tinggi di Indonesia. Itulah yang melatarbelakangi timnya memberikan perhatian yang cukup tinggi.

iman firmansyah



Berita Lainnya...