Edisi 14-10-2018
Banjir-Longsor Terjang Sumut dan Sumbar


MEDAN - Hujan deras yang melanda wilayah Sumatera Utara (Sumut) dan Sumatera Barat (Sumbar) selama Kamis (11/10) dan Jumat (12/10) menyebabkan banjir, banjir bandang, dan longsor di beberapa tempat.

Dampak yang ditimbulkan cukup besar. Berdasarkan data sementara dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Sumut dan Sumbar, banjir dan longsor menyebabkan lebih dari 20 orang meninggal dunia dan belasan lainnya hilang, serta puluhan orang luka-luka di empat wilayah, yaitu di Kabupaten Mandai ling Natal, Kota Sibolga, Kabupaten Tanah Datar, dan Kabupaten Pasaman Barat.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho menjelaskan, bencana di Kabupaten Mandailing Natal akibat hujan deras sejak Jumat (12/10) pagi hingga sore.

Sebanyak sembilan kecamatan terkena banjir dan longsor. Di daerah hingga tadi malam korban meninggal sebanyak 17 orang meninggal dunia. Dari 17 orang yang meninggal dunia di Kabupaten Mandailing Natal, 12 di antaranya adalah murid madrasah di Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut.

Korban meninggal dunia karena tertimpa bangunan yang hancur diterjang banjir bandang. “Kejadian berlangsung mendadak. Sungai Aek Saladi tiba-tiba mengalir dengan debit besar dan membawa lumpur dan meluap sehingga menerjang madrasah,” kata Sutopo melalui press release kemarin.

Jumlah korban hilang masih dapat berubah karena belum dapat dipastikan. Korban tertimbun lumpur dan material tembok yang roboh. Kepala BPBD Mandailing Natal, M Yasir Nasution, mengatakan, jumlah siswa di madrasah tersebut diketahui sebanyak 29 orang.

“Tapi kita belum mengetahui apakah dari 29 pelajar itu hadir semuanya ketika bencana tersebut terjadi,” kata Yasir kepada SINDOnews kemarin. Saat ini tim gabungan terus melakukan pencarian terhadap para korban tersebut.

Yasir menuturkan, tim gabungan mengalami kesulitan untuk mencapai lokasi longsor. “Perlu kami informasikan saat kami menuju ke lokasi ada tiga titik longsor di tengah jalan jadi harus kami bersihkan dulu jalan dari reruntuhan tanah longsor baru kami bisa lalui,” ujarnya.

Tim BPBD dan Polres Madina mengalami kendala karena di kawasan Desa Muara Saladi, Kecamatan Ulu Pungkut sangat susah menemukan jaringan seluler, sehingga ada kesulitan untuk update informasi ke publik,”Kami kesulitan untuk memberikan informasi karena jaringan seluler di sana tidak ada sama sekali jadi untuk saat ini saya dan kita semua harap menunggu perkembangan informasi yang lebih akurat,” ucapnya.

Hujan juga menyebabkan longsor di beberapa daerah di Kota Sibolga, Sumatera Utara pada Kamis (11/10/2018) pukul 16.30 WIB. Longsor menyebabkan 4 orang meninggal dunia, 1 orang luka berat, dan 3 orang luka ringan.

Kerugian material meliputi 25 rumah rusak berat, 4 unit rumah rusak sedang, dan sekitar 100 rumah terendam banjir dengan tinggi 60-80 cm. Di Sumatera Barat, banjir bandang terjadi di Nagari Tanjung Bonai, Jorong Kalo- Kalo, Jorong Ranah Batu di Kecamatan Lintau Buo Utara, Kabupaten Tanah Datar, pada Kamis (11/10/2018) pukul 20.30 WIB.

Banjir bandang menyebabkan empat orang meninggal dunia dan tiga orang hilang. Selain itu terdapat enam orang luka-luka, enam unit rumah rusak berat, tiga kedai rusak berat, satu ruko rusak berat dan dua jembatan rusak berat.

BPBD Tanah Datar bersama TNI, Polri, SKPD, relawan dan masyarakat melakukan evakuasi dan pencarian korban. Pencarian dilakukan menyusuri sungai yang ada. “Alat berat digunakan untuk membantu pencarian korban dan membersihkan lumpur,” ujar Sutopo.

Bupati Tanah Datar Irdinansyah Tarmizi telah menetapkan masa tanggap darurat selama 7 hari (12-18 Oktober 2018). Pembukaan dapur umum untuk relawan dan masyarakat terdampak telah didirikan.

Beberapa wilayah di Kabupaten Pasaman Barat juga terjadi longsor dan banjir pada Kamis (11/10/2018) pukul 19.30 WIB. Wilayah yang mengalami bencana adalah Kecamatan Pasaman, Ranah Batan, Koto Balingka, Sei Beremas, Lembah Melintang, Gunung Tuleh, Talamau, Sasak dan Kinali.

Korban satu orang meninggal dunia dan dua orang hilang. Kerusakan meliputi sekitar 500 unit terendam banjir, tiga unit jembatan gantung roboh dan dua unit rumah hanyut.

inda susanti/sindonews