Edisi 14-10-2018
Menjujuri Karya Disabilitas


Hingga saat ini Indonesia belum pernah memiliki sebuah panggung yang mempertemukan karya disabilitas dengan kurasi ketat lazimnya sebuah arena kesenian.

Karya-karya disabilitas banyak terserak dalam berbagai program seni budaya yang berhenti pada arena menampilkan eksistensi dan ekspresi disabilitas; atau berkutat di area seni sebagai terapi.Sampai hari ini karyakarya seni disabilitas masih jauh dari apresiasi yang jujur.

Karya mereka sering dianggap bagus karena iba pada keterbatasan penciptanya - beserta proses penciptaannya. Apresiasi yang lazim muncul kerap tidak berdasar indikator artistik layaknya apresiasi kepada karya-karya seni nondisabilitas.

Di saat yang sama, irisan antara seni dan disabilitas banyak juga berkutat di arena bernama seni untuk terapi. Sudah seharusnya karya disabilitas mendapat apresiasi jujur. Apresiasi yang melihat karya sebagai karya. Tentu benar bila para penyandang disabilitas memiliki keterbatasan dalam interaksi sosialnya.

Namun, keterbatasan itu menjadi tidak selalu tepat di ranah ekspresi seni para penyandang disabilitas. Keterbatasan mereka justru bisa melampaui batas-batas bernama konvensi dalam seni itu sendiri.

Mereka tak peduli dengan komposisi, tak memusingkan proporsi, dan tak memiliki beban untuk menyampaikan maknamakna canggih di balik sebuah karya. Mereka juga tak pening dengan bayangan apakah karyanya akan dapat disambut apresiatornya atau tidak.

Bertolak dari situasi semacam itu, Direktorat Kesenian, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyelenggarakan Festival Bebas Batas 2018 pada 12-29 Oktober di Galeri Nasional Indonesia.

Festival Bebas Batas (FBB) 2018 bertujuan menjadi bagian dari edukasi kepada publik bahwa para disabel/difabel memiliki peran yang sama dalam kehidupan bermasyarakat, sekaligus memberikan ruang berkarya, serta menumbuhkan apresiasi masyarakat terhadap karya seni para disabel/difabel.

Festival Bebas Batas juga bertujuan untuk menunjukkan kepada publik rupa-rupa karya disabel/difabel, memantik pemahaman publik tentang relasi antara seni dan disabel/difabel, membuka apresiasi publik kepada karya seni seniman disabel/difabel, serta mendorong karya disabel/difabel menjadi bagian penting dalam dunia seni Indonesia.

Adapun rangkaian kegiatan dalam Festival Bebas Batas 2018 salah satunya Pameran Utama “Pokok di Ambang Batas” yang menampilkan karya-karya dari 35 peserta hasil dari seleksi ëopen callí.

Juga berbagai karya dari sepuluh peserta undangan, baik dari dalam maupun luar negeri: karya-karya koleksi Borderless Art Museum No- Ma Jepang, hasil workshop dari Kedutaan Spanyol di Indonesia, proyek seni yang didukung Institut Francais d’Indonesie, proyek seni yang didukung British Council, plus karya-karya terseleksi dari lima Rumah Sakit Jiwa (RSJ) di Indonesia.

Karya-karya yang ditampilkan sebagian besar meliputi karya dua dimensi, dari lukisan, fotografi, gambar (drawing ), media campur (mixed media ), hingga karya audio visual dan interaktif. Semua karya menghadirkan bentuk dan teknik yang beragam, dari bentuk konvensional hingga kontemporer.

Pameran yang berlangsung 12-29 Oktober di Gedung B, C, D Galeri Nasional Indo-nesia ini dikuratori Sudjud Dartanto dan Hendromasto Prasetyo. Pameran ini menjadi bagian penting dari upaya untuk mengembangkan apresiasi dan meningkatkan kesadaran apresiator dalam mendukung terciptanya masyarakat inklusif bersama dengan para seniman yang disebut “menyandang” disabilitas/difabilitas.

“Perspektif kurasi ini berangkat dari keyakinan bahwa ekspresi mereka adalah vital dalam praktik bermasyarakat dan berekspresi. Karena itu, kurasi ini bertema “Pokok di Ambang Batas” (Vital in Margin ) yang mengisyaratkan ada yang vital dalam ruang ambang batas.

“Pokok (margin )” di sini tidak diartikan sebagai yang pinggiran/luar, namun berkonotasi aktif dan progresif,” kata Sudjud Dartanto dalam kuratorialnya. Masih dalam kuratorialnya, menurut Sudjud, ide karya yang dihadirkan dalam pameran ini membentang dari pengalaman pribadi, bahkan kritik dan penghayatan mereka atas kondisi sosial/budaya.

Dengan mengabaikan berbagai hasil diagnosis dari otoritas medis, dapat dikatakan bahwa ekspresi mereka lugas, spontan, dan kuat. “Pada titik kita sampai pada sebuah pertanyaan di ambang batas: apakah masih penting dan perlukah mereka menyandang predikat/cap/status/identitas sebagai kaum disabilitas/difabilitas ketika berada dalam ranah seni? Pertanyaan ini adalah sebuah refleksi kurasi sekaligus kritik atas wacana normalitas,” ujarnya.

Sebelumnya juga telah digelar pameran pendukung “Aneka Rupa Lima RSJ”. Pameran di ruang publik ini menyajikan karya-karya pilihan yang didapat dari observasi dan workshop melukis bersama di sejumlah rumah sakit jiwa di lima kota: Jakarta, Solo, Lawang, Denpasar, dan Lampung.

Pameran ini bagian dari pra-acara sekaligus sosialisasi menuju Festival Bebas Batas 2018 yang diselenggarakan di sekitar Asian Games dan Paralympics Games pada 30 Agustus- 4 Oktober.

Tak hanya itu, juga ada Lokakarya Melukis Bersama pada 13 Oktober, di Ruang Serbaguna Galeri Nasional Indonesia; beragam pergelaran seni pertunjukan, musik, dan film pada 12-14 Oktober; serta arena komunitas dan panggung terbuka di luar ruang Galeri Nasional Indonesia, yang berisi pementasan karya disabel/difabel selain seni rupa.

Pada 15 Oktober digelar diskusi “Seni dan Disabilitas/Difabilitas” bertempat di Ruang Seminar Galeri Nasional Indonesia dengan menghadirkan nara sumber Sudjud Dartanto (kurator pameran), Jean Couteau (budayawan), Rachmat Koesnadi (direktur Rehabilitasi Sosial Penyandang Disabilitas), Barbara Lisicki (British Council), Kengo Kitaoka (President of International Exchange Program, Executive Committee for Disabled peopleís Culture and Arts of Japan), dan moderator Adi Wicaksono.

hendri irawan