Edisi 14-10-2018
Puzzle Sejarah Negeri dalam Seni Rupa


Menyebut karya koleksi negara tentu membicarakan karya yang memiliki wacana kesejarahan yang penting dalam menandai suatu era, menceritakan fenomena pada zamannya, dan memiliki andil dalam perkembangan seni rupa Indonesia.

Karya seni rupa koleksi negara merupakan karya yang berciri khas dengan daya tarik kuat sehingga hampir selalu membuat takjub dan mengundang rasa penasaran. Persebaran karya-karya koleksi negara dikelola dan berada di berbagai lembaga atau instansi di seluruh wilayah Indonesia.

Karena itulah karya tersebut merupakan karya koleksi nasional. Saat ini, keberadaan karya koleksi nasional yang tersimpan di berbagai lembaga/instansi belum sepenuhnya diketahui dan disadari oleh masyarakat.

Berangkat dari kesadaran ini, Galeri Nasional Indonesia, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, memiliki inisiatif untuk mengumpulkan karyakarya tersebut dalam satu titik dan menyajikannya kepada masyarakat luas dalam sebuah Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional dengan tajuk “Menyigi Masa”.

Pameran “Menyigi Masa” menyajikan 61 karya seni berupa lukisan, patung, dan grafis koleksi empat lembaga budaya di Indonesia, yakni Galeri Nasional Indonesia, Museum Aceh, Dewan Kesenian Jakarta, dan UP Museum Kesejarahan Jakarta.

Karya-karya yang merupakan hasil olah artistik 41 seniman Tanah Air ini menguak cerita tentang perjalanan kelana karya-karya tersebut sehingga memiliki “rumah” di berbagai wilayah dan kini disatukan dalam sebuah “rumah” yang diharapkan menjadi pusat kegiatan seni rupa, yaitu Galeri Nasional Indonesia.

Suwarno Wisetrotomo, kurator dalam pameran ini mengatakan, pameran “Menyigi Masa” merupakan upaya sangat awal untuk menyigi, menginvestigasi, mencatat, menyiangi, dan menerangjelaskan karya-karya yang terhimpun (terkoleksi) dalam berbagai institusi negara, yang bisa dicatat sebagai Karya Seni Rupa Koleksi Negara (state collection ).

Karya-karya itu perlu dilacak, dicatat, dan dihadirkan kepada khalayak ramai. Terkait dengan ëkesaksian seniman terhadap gerak zamaní dan karya-karya sebagai fakta benda, fakta mental, dan fakta sosial, maka antara karya yang satu dan karya yang lainnya memiliki pertautan sejarah.

Setiap karya merupakan serpihan puzzle sejarah yang perlu dicarikan pasangan rangkaiannya. Aspek lainnya yang juga penting adalah narasi tentang sejarah pengoleksian, relasi dengan peristiwa tertentu, perkembangan, gaya, dan lainnya, sebagai upaya memaknai setiap karya dengan konteks zamannya.

Melalui karya-karya koleksi institusi negara -dengan sendirinya menjadi koleksi negara- berpeluang untuk melengkapi sejarah Indonesia melalui karya-karya seni rupa. Dengan demikian, akan membicarakan pula peranperan seniman (perupa) dalam konteks berjuang dan menjadi Indonesia serta segala hal yang terkait dengan keindonesiaan.

“Aspek peran dan makna seniman beserta karya seninya -dalam konteks Indonesia dan keindonesiaan- itulah yang saya maksud sebagai mata rantai yang hilang. Pameran ini berupaya melacak, menginvestigasi, dan menyiangi artefak-artefaknya - yang tangible dan yang intangible - agar bisa menandai sebagai mata rantai yang lepas, untuk kemudian menyambungkannya,” ujar Suwarno.

Sebagai penajaman wacana, pameran dilengkapi dengan Diskusi Seni Rupa bertema “Karya Seni Rupa Koleksi Negara yang Terbarukan”. Diskusi ini menghadirkan narasumber Rizki A Zaelani (Kurator Pameran Seni Rupa Koleksi Nasional “Menyigi Masa”) dan Irawan Karseno (Ketua Pengurus Harian Dewan Kesenian Jakarta).

Sedangkan sebagai moderator adalah Yusuf Susilo Hartono (Wartawan Seni). Diskusi ini menghadirkan para peserta dari lembagalembaga/ instansi yang terlibat langsung dalam pengelolaan koleksi karya seni rupa.

Kepala Galeri Nasional Indonesia Pustanto menyatakan, pameran Menyigi Masa yang dibuka pada Rabu (10/10) hingga Minggu (28/10) di Gedung A Galeri Nasional Indonesia, Jakarta ini, dipandang dari sisi kelembagaan merupakan wujud implementasi dari tugas dan fungsi Galeri Nasional Indonesia dalam melaksanakan pameran, menjalin kemitraan, dan memberikan pelayanan edukasi di bidang seni rupa kepada masyarakat luas.

“Dengan menyaksikan karya koleksi nasional dalam pameran ini, kita berharap Galeri Nasional Indonesia dapat menjadi fasilitator dalam memperkenalkan kembali karya-karya seni rupa koleksi nasional kepada publik luas sehingga publik memiliki kesempatan untuk mengapresiasi karyakarya seni rupa Indonesia yang disajikan secara artistik.

Selain itu, juga diharapkan masyarakat dapat menggali informasi dan memperoleh pengetahuan, baik tentang kekaryaan maupun profil para perupa Indonesia. Lebih lanjut, gelaran ini diharapkan dapat memberikan inspirasi, motivasi, dan menggugah masyarakat untuk terus bereksplorasi dan turut mengembangkan seni rupa Indonesia.

hendri irawan