Edisi 14-10-2018
Sukses Berbisnis dengan Dukungan Media Sosial


CFO/CBDO Triponyu.com Alfonsus Aditya sangat pilihpilih dalam menggunakan media sosial (medsos).

Pendiri startup di bidang pariwisata yang telah mendapat penghargaan dari United Nations World Tourism Organization (UNWTO) tersebut, kini hanya menggunakan LinkedIn dan Instragram . Sebelum memilih mendirikan platform traveling , Alfonsus Aditya merupakan seorang analis bisnis.

Dia pernah bekerja di sejumlah perusahaan ternama di Indonesia. Baginya, LinkedIn memang sangat cocok untuk para profesional. Sebab, di dalamnya terdapat berbagai informasi tentang perusahaan dan korporasi.

Jaringan di dalamnya memungkinkan orang saling terkoneksi bisa saling kenal, termasuk juga berkonsultasi dan mencari pekerjaan. “Jika ada lowongan kerja, tinggal klik masuk dan perusahaan tinggal mengambil data yang telah dimasukkan ke LinkedIn ,” kata Aditya.

Jadi, LinkedIn diakui memang cenderung untuk kalangan profesional karena curriculum vitae dan pengalaman kerja akan dilihat. LinkedIn lebih mengerucut kepada orang-orang yang benar-benar memiliki pengalaman kerja.

“Jadi di situ merupakan sarana berbagi informasi. Kondisinya juga tidak semrawut dibanding media sosial lainnya,” lanjut Aditya. Dirinya juga menilai kerahasiaan data di LinkedIn cukup terjaga. Termasuk foto pun hanya profil.

Selama menggunakan LinkedIn , dirinya pernah beberapa kali mendapatkan tawaran kerja di tempat baru. Setelah menjadi CFO/CBDO Triponyu.com, dirinya juga mendapatkan penawaran sebagai konsultan bisnis di perusahaan tertentu dengan sistem part time .

Sehingga sejauh ini, LinkedIn dinilai merupakan kanal terbaik bagi para profesional. Hanya saja, kualifikasi yang ada di dalamnya ratarata memang untuk kelas atas. Sebab, perusahaan-perusahaan yang memanfaatkan rata-rata sudah masuk kategori besar.

Sementara orang-orang yang ada di dalamnya rata-rata juga berumur 30 tahun ke atas. Baginya, membuka LinkedIn seperti menemukan harta karun. Sebab dalam sehari dirinya bisa memasukkan sepuluh lamaran pekerjaan sesuai dengan kualifikasi.

Cara melamar pekerjaan juga sangat efisien karena tidak memakai kertas. “Di sisi lain, juga sangat bagus untuk personal branding , karena kita sendiri yang mengkreasi bahasa di dalamnya,” pungkasnya.

Siapa kira platform media sosial yang awalnya diciptakan untuk membangun interaksi sosial, kini justru memberi manfaat lebih. Tidak sedikit masyarakat memanfaatkannya untuk mendulang pundi-pundi harta.

Jalannya pun cukup sederhana, menjadi selebgram agar branding lebih mudah. Menurut Chief Digital Startup, ecommerce, dan Fintech (CDEF) Sharing Vision Nur Javad Islami, fenomena penggunaan media sosial untuk bisnis dan ajang profesional menampilkan dirinya merupakan fenomena yang sudah terjadi beberapa tahun terakhir.

“Menariknya, lebih jauh daripada itu, keberadaan media sosial juga membuka peluang bagi anak-anak muda menjadi pebisnis baru. Misalnya fenomena selebgram ,” kata Nur Javad yang akrab dipanggil Jeff.

Pengamat sosial media dan e-commerce itu mengatakan, para selebgram menjalankan bisnisnya dengan endorse produk tertentu. Tujuannya agar lebih dikenal masyarakat luas serta mencatat kenaikan penjualan.

“Para selebgram ini, umumnya business owner menyesuaikan dengan segmen audiens dari selebgram terkait. Dia pun akan menyesuaikan atas jumlah follower . Sebab, tarif selebgram juga beragam, disesuaikan dengan banyaknya follower ,” beber dia. Tak heran bila ada selebgram yang bisa mendapatkan uang puluhan juta untuk promosi satu produk.

Kendati ada yang bersedia menerima bayaran Rp10.000, ada juga yang tak perlu dibayar. Dengan perhitungan mendapatkan tambahan follower atas penggunaan produk tertentu. Lebih dari itu, selebgram tak hanya memberi manfaat pribadi bagi eksistensi dirinya, juga ikut membantu meramaikan munculnya startup baru.

Karena, startup teknologi membutuhkan audiens atau customer yang luas. Misalnya startup muslimapps.id , mengundang para selebgram dari Sative Crew, untuk meramaikan. Hasilnya, dalam minggu pertama, jumlah pengunduh mencapai 12.000 unduhan.

Menurut dia, branding personal ataupun produk pada media sosial ada hubungannya dengan potensi market dari e-commerce . Survei yang dilakukan Sharing Vision misalnya, potensi pasar e-commerce hingga 2020 diperkirakan mencapai Rp1.500 triliun.

Sejauh ini, beberapa marketplace besar dan penyedia aplikasi Gojek cukup besar menyerap potensi e-commerce . Tak mau kalah, media sosial juga menyediakan tempat untuk berjualan. Twitter misalnya, memiliki fasilitas ëbuy nowí, Instagram ëshop nowí, dan lainnya.

Menariknya, kata dia, 92% responden membeli online di marketplace dan 46% membeli melalui media sosial. Instagram sejauh ini menjadi media sosial yang paling banyak dipakai responden. Walaupun secara rata-rata frekuensi pembelian satu bulan sekali, secara nominal antara Rp100.000-300.000.

Tren Branding lewat Medsos Terus Diminati

Keberadaan media sosial (medsos) dalam beberapa tahun terakhir ini memberikan nilai lebih bagi para profesional. Mereka bisa meningkatkan personal branding serta jaringan baru yang mendukung lini bisnis ataupun karier politik.

Pakar Komunikasi Universitas Airlangga (Unair) Surabaya Suko Widodo menuturkan, keberadaan medsos memang tidak lagi sebagai ruang interaksi biasa. Kehadirannya bisa menjadi nilai lebih bagi seseorang untuk melakukan pengenalan.

“Medsos tetap menjadi ruang penyebaran informasi yang paling efektif saat ini,” ujar Suko, Rabu (10/10). Dia melanjutkan, di medsos memang butuh kemasan yang menarik untuk bisa mengalihkan perhatian seseorang.

Penataan kemasan itu yang menjadi kunci untuk masuk dalam minat khalayak. “Selanjutnya tinggal penataan diksi yang menjual. Kalimat yang dipilih pun harus tepat untuk bisa diterima banyak orang,” ungkapnya.

Namun, katanya, saat ini persaingan yang ada di medsos cukup kompetitif sehingga butuh peneguhan ulang yang dilakukan berkali-kali. Semua itu tak lepas dari efektivitas pesan yang akan disampaikan.

“Jadi istilahnya di medsos itu kata menjadi kuasa. Penataan kata yang bagus untuk mendukung branding seseorang bisa dilakukan,” ucapnya. Suko juga menjelaskan, transaksi ide serta gagasan yang dibangun harus bisa selaras.

Ketika itu dilakukan, maka akomodasi kepentingan seseorang untuk melakukan branding dirinya ataupun kelompoknya bisa dilakukan. “Karena harus diakui, saat ini persaingan yang ada di medsos memang semakin kompetitif,” jelasnya. Masyarakat, katanya, lebih sederhana dalam menganggapi keinginan itu.

Kalau mereka tak cocok atau tak ada kepentingan, mereka bisa langsung meninggalkannya. “Jadi harus kreatif di medsos,” sambungnya. Dalam beberapa tahun ke depan, ruangruang di medsos tetap bisa dijadikan alat untuk mempromosikan diri yang paling efektif dan murah. Isu yang dikemas menarik serta menjual bisa menjadi penentu.

ary wahyu wibowo/ arif budianto/ aan haryono