Edisi 14-10-2018
Astronom Temukan Dentuman Sonik dari Ledakan Tak Terlihat


Tim astronom telah mendeteksi ledakan sonik dari ledakan kosmik yang sangat kuat. Meski begitu, ledakan itu tidak terlihat secara kasatmata dari bumi.

Selama bertahun-tahun, para astronom telah berburu di seluruh angkasa untuk contoh fenomena aneh ini, yang dikenal sebagai Orphan Afterglow. Akhirnya, sekarang mereka menemukan satu ledakan kosmik.

Letusan titanic, yang dikenal sebagai Gamma Ray Burst (GRB), dihasilkan oleh runtuhnya sebuah bintang masif di galaksi. Letusan tersebut diperkirakan hampir 300 juta tahun cahaya dari bumi. Dalam prosesnya, bintang itu runtuh menjadi bintang padat yang disebut magnetar atau mungkin dikenal sebagai lubang hitam.

Biasanya, GRB melepaskan sejumlah besar energi cahaya. Energi itu menyerupai matahari yang melepaskan cahaya lebih dari sepuluh miliar tahun. Ledakan kosmik menghasilkan dua pancaran sinar gama yang bergerak keluar dari bintang runtuh.

Pancaran sinar saling bertolak belakang ke arah berlawanan, mendekati kecepatan cahaya. Ketika pancaran ini diarahkan ke bumi, para astronom melihat pencurahan energi terfokus sebagai kilatan sinar gama yang intens.

Namun, GRB itu sama sekali tidak terdeteksi. “Ini adalah pertama kalinya seseorang telah mampu menangkap ledakan sonik dari ledakan GRB yang tak terlihat,” kata Bryan Gaensler, salah satu tim astronom yang menggambarkan pengamatan, dikutip dari sciencedaily .

Namun, jet GRB menabrak gas yang mengelilingi bintang asli, menghasilkan gelombang kejut besar yang mirip dengan ledakan sonik. Ini memanaskan gas dan menghasilkan cahaya yang memancarkan energi radio ke segala arah.

“Pada masa lalu, orang-orang telah melihat ledakan dan kemudian melihat ledakan lagi atau pada satu atau dua kesempatan telah melihat ledakan itu dan kemudian melihat ke belakang dan menemukan kembali ledakan itu setelah fakta,” lanjut Gaensler.

Gaensler juga menambahkan bahwa di sini kita telah melihat ledakan itu, tapi ledakan sebelumnya tampaknya benar-benar hilang karena dilihat dari bumi. Bryan Gaensler adalah Direktur Institut Dunlap untuk Astronomi & Astrofisika, Universitas Toronto.

Dia membantu penulis utama, Casey Law, University of California di Berkeley, tentang ledakan sonik yang diterbitkan dalam Astrophysical Journal Letters. “Kami membandingkan gambar dari peta langit lama dan menemukan satu sumber radio yang tidak lagi terlihat hari ini di VLASS,” kata Law.

Gaensler, Law, dan rekan-rekan mereka membuat penemuan dengan membandingkan data dari survei radio sebelumnya dengan data dari Very Large Array Sky Survey (VLASS). Perbandingan dilakukan dengan Karl G Jansky Very Large Array di New Mexico.

“Melihat sumber radio di data lama lainnya menunjukkan bahwa ia tinggal di galaksi yang relatif berdekatan dan kembali pada 1990- an, itu sama bercahayanya dengan ledakan terbesar yang diketahui, ledakan sinar gama,” tambah Law.

Kecemerlangan sumber serta evolusinya selama beberapa dekade adalah petunjuk bahwa itu berasal dari GRB. Sumber lain juga telah ditemukan, di mana para astronom berharap menemukan GRB, dalam galaksi yang relatif kecil dari jenis yang dikenal sebagai galaksi kerdil.

Penemuan ini memberikan wawasan baru yang penting tentang sifat GRB dan jet mereka. GRB menunjuk ke arah acak relatif terhadap kita. Fraksi yang kita lihat dari bumi bergantung pada seberapa sempit atau lebar pancarannya.

Analisis ini menjanjikan sensus GRB yang jauh lebih akurat. “Dengan membandingkan jumlah afterglows dengan GRB yang mendahuluinya, kita bisa mengukur fraksi itu jauh lebih tepat daripada sebelumnya,” kata Law.

Astronom menggunakan survei radio astronomi modern saat memindai sebagian besar langit. Misalnya, selama 7 tahun ke depan, VLASS akan membuat tiga pemindaian lengkap 80% dari seluruh langit.

“Ini menunjukkan kemampuan yang menarik dari generasi baru survei radio lapangan. Ada ledakan dramatis dan dinamis dan flare terjadi di luar sana, tetapi kita hanya dapat menemukannya jika kita terus menerus berpatroli di langit untuk melihat apa yang berubah,” kata Gaensler.

fandy