Edisi 14-10-2018
Bahasa Korupsi: Rasa, Manipulasi, Hipokrisi


Bahasa menguasai segenap aspek kehidupan kita. Dari percakapan manusia sehari-hari hingga beragam bentuk komunikasi resmi antarinstitusi.

Bahasa menghasilkan narasi, fiksi, sejarah, kebenaran, hukum, pengetahuan, beragam makna, dan interpretasi. Ketika kita bicara “bahasa” itu bukan hanya bahasa dalam makna “language “ seperti bahasa Indonesia, bahasa Buton, bahasa Inggris, bahasa Arab, bahasa Spanyol, dan sebagainya.

Bahasa adalah bagaimana kita bertukar pesan. Gerakan tangan adalah bahasa, kibaran bendera adalah bahasa, simbol-simbol manusia purba yang tertulis di gua-gua adalah bahasa. Jika kita bicara generasi hari ini, emojiemoji, emoticon , adalah bahasa penting dalam komunikasi zaman ini.

Hanya dengan emoji J kita bisa memberi tahu seseorang bahwa kita tersenyum, begitu juga menangis, tertawa, kebingungan, mengantuk, atau marah. Alat komunikasi modern menyediakan beragam pilihan simbol, yang bisa mewakili emosi dan perasaan kita, dan itu semua adalah bahasa.

Bahasa membentuk masyarakat juga sekaligus bergerak dinamis mengikuti dina mika masyarakat. Kekuatan besar bahasa menempatkannya tak lagi sekadar menjadi alat dalam bertukar pesan, tapi juga alat utama kekuasaan dalam menaklukkan dan menguasai.

Pidato pemimpin, iklan dan baliho politisi, sejarah resmi versi penguasa, pengetahu an yang masuk kurikulum sekolah, hukum dan undang-undang yang dihasilkan legislator, itu semua adalah bentuk kerja bahasa dalam menguasai kehidupan kita semua.

Bahasa pun kemudian menjadi sebuah komoditas yang harus dijaga, yang harus diatur bagaimana yang baik dan benar, yang harus diseragamkan, yang harus disensor. Dalam kuasa teknologi informasi, negara bukan satu-satunya kekuatan yang bisa mengontrol cara bekerjanya bahasa.

Masyarakat pun kini bisa ikut berperan. Melalui Facebook atau Twitter , setiap orang memiliki kontrol dan kuasa untuk memberi makna dan interpretasi untuk menggunakan bahasa sesuai kepentingan mereka.

Maka kita kenallah ada “kecebong” dan “kampret”, ada istilah anak zaman now dan milenial, ada beragam cerita diciptakan dan disebarkan baik yang sesuai kenyataan maupun hanya sekadar isapan jempol. Itu semua adalah kekuatan bahasa.

Lalu, bagaimana bahasa digunakan dalam tindak pidana korupsi? Buku “Metamorfosis Sandi Komunikasi Korupsi” karya Sabir Laluhu mengungkapkan kekuatan sekaligus keluwesan bahasa yang terekam dalam perjalanan pemberantasan korupsi di Indonesia.

Apa yang terlintas dalam pikiran kita ketika mendengar “apel Malang” dan “apel Washington”? Yang ada dalam pikiran kitaterutama jika kita memang selalu mengikuti berita politik dan hukum tak lagi hanya buah apel berwarna hijau dan berwarna merah.

Apel Malang dan apel Washington akan mengingatkan kita pada korupsi, pada suap, pada Angelina Sondakh. Apel Malang dan apel Washington bisa disebut sebagai sandi paling populer dalam kasus korupsi.

Bisa jadi karena terkait kepopuleran orang yang terlibat sehingga membuat pemberitaannya meluas. Bisa jadi juga karena pemilihan sandi apel yang unik, cukup dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga membuat banyak orang merasa terkoneksi.

Bandingkan dengan kasus lain dengan tersangka Anggoro Widjojo yang menggunakan sandi titipan, bungkusan, pesanan, barang, dan rezeki. Diksi-diksi ini bersifat umum, tak langsung mewujud dalam imaji benda yang spesifik dalam kehidupan masyarakat.

Dan lebih dari itu, semuanya terasa lazim untuk menggambarkan sebuah pemberian apa pun isinya, termasuk uang. Hal yang tak bisa diingkari adalah berbahasa adalah soal rasa. Pilihan seseorang un tuk menggunakan diksi tertentu terkait de ngan latar belakangnya, kebiasaannya, dan pengetahuannya.

Kenapa Angelina menggunakan apel dan dalam salah satu percakapan juga menggunakan semangka? Besar kemungkinan karena dia penggemar buah-buahan. Apalagi, percakapan itu terjadi antara sesama perempuan. Sementara untuk Anggoro, yang mampu ia utarakan sebatas titipan dan bungkusan.

Karena ia merasa tak perlu bermanis-manis, yang penting adalah isinya. Bisa dilihat juga bagaimana seorang insinyur dalam kasus yang melibatkan SKK Migas menggunakan kata ledakan, kedipan, suntikan, dan peluru dalam menggantikan kata uang dan suap.

Diksi-diksi itu hanya mungkin digunakan ketika si pelaku akrab menggunakannya dalam kehidupan seharihari. Berikutnya, bagaimana latar belakang seseorang membentuk pilihan berbahasa termasuk dalam memilih sandi korupsi terlihat sangat kentara dalam kasus pengadaan Alquran dengan pelaku Zulkar naen Djabar.

Di sini sandi-sandi korupsi terasa begitu islami. Ada kata santri, pengajian, murtad, kiai, dan imam. Permainan katakatanya begitu rapi, hingga nyaris tak menunjukkan sebuah percakapan di mana si A hendak memberikan suap pada si B.

Kata pengajian dalam kasus ini dipilih untuk menggantikan setiap kata pertemuan yang berujung transaksi atau suap. Bahkan untuk menjelaskan sebuah kesepakatan, kalimat yang dipilih adalah: Kita diajarkan kiai untuk taat mazhab ahli sunah. Yang luar biasa, dalam situasi korupsi seperti itu, pelaku dalam kasus ini masih sempat berpesan: “Pokoknya yang mengerjakan jangan China, robekannya Quran diinjak-injak.”

Kasus Zulkarnaen ini menjadi cermin paradoks dalam masyarakat kita ketika berhadapan dengan kasus korupsi. Penggunaan sandi yang demikian rapi sesungguhnya bukan sekadar untuk menyamarkan atau menghindari ada bukti, tapi lebih karena para pelaku tersebut merasa risih, sungkan, malu hati untuk bicara langsung apa adanya.

Lagi-lagi kita tak bisa menampik bahwa bahasa adalah soal rasa. Itu sebabnya dalam percakapan sehari-hari pun kerap kita sengaja untuk tak menggunakan kata-kata tertentu karena merasa itu kasar, kurang sopan, dan sebagainya.

Maka itu, kita pun memilih menggunakan kata lain yang sering bersifat kiasan dan bukan makna sebenarnya, tapi sudah sama-sama dimengerti dan digunakan. Paradoks berikutnya adalah betapa korupsi tak dianggap sebagai sebuah perilaku dosa yang bisa mencederai kesalehan seseorang.

Bagi Zulkarnaen terlihat jelas, ia masih menganggap dirinya adalah seorang muslim yang baik dan akan selalu membela agamanya termasuk dari kemungkinan kitab sucinya diinjak-injak orang.

Di sini pilihan sandi sekali lagi bukan dimaksudkan untuk menghindari bukti dalam pemeriksaan oleh KPK dan aparat hukum. Sebab siapa pun orangnya, pasti ketika berani bertransaksi, ia punya keyakinan aksinya tak akan terendus oleh aparat.

Sumbangan terbesar dari buku karya Sabir Laluhu ini pada akhirnya adalah membongkar hipokrisi, kemunafikan, dan kepura-puraan masyarakat kita dalam menggunakan bahasa yang sopan dan religius untuk menyembunyikan kebobrokan dan kejahatan mereka, termasuk dalam soal korupsi. Pada akhirnya bahasa pun setara dengan segala yang kasatmata, penampilan, cara bicara, dan cara berpakaian.

okky madasari

novelis dan peraih penghargaan sastra ‘khatulistiwa literary award’ 2012