Edisi 14-10-2018
Berebut Karier melalui Personal Branding


JAKARTA–Media sosial saat ini juga berfungsi mempromosikan diri sendiri atau sebagai media personal branding.

Tak sedikit profesional yang memaksimalkan diri membranding dirinya untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik atau bahkan meningkatkan karier. LinkedIn misalnya sebagai salah satu platform yang sedang digemari profesional memiliki lebih dari 575 juta anggota dari lebih 200 negara dan wilayah di dunia.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 141 juta anggota berasal dari wilayah Asia-Pasifik dan lebih dari 26 juta di antaranya berasal dari wilayah Asia Tenggara. Tak hanya berjejaring dengan sesama profesional dan perusahaan, mereka juga dapat melakukan personal branding.

Pakar branding Yuswohadi mengungkapkan, media sosial karier seperti LinkedIn saat ini saling jual beli bukan hanya pegawai yang menjual, tapi juga berlaku untuk perusahaan. “Sekarang perusahaan juga melakukan branding agar orang-orang terbaik mau bekerja di tempat mereka,” tutur Yuswohadi kepada KORAN SINDO.

Company branding dilakukan oleh perusahaan besar karena khawatir para milenial kehilangan minat untuk bekerja di tempat mereka. Generasi masa kini lebih senang bekerja di startup yang baru muncul.

Menurutnya, perusahaan-perusahaan tersebut masih memiliki jumlah karyawan yang tidak banyak, namun dapat memberikan penghasilan yang cukup besar. “Lingkungan kerja yang cenderung lebih santai, bekerja secara kolaboratif.

Perusahaan besar yang sudah lama berdiri mulai resah jadi kini mereka memosisikan diri sebagai perusahaan yang ramah milenial. Itu terjadi hampir di semua negara,” ujar Yuswohadi.

LinkedIn sadar akan keinginan kaum milenial hingga mereka sempat membuat sebuah kampanye LinkedIn DreamJob. Managing Director, APAC, LinkedIn, Olivier Legrand mengatakan, sebagai salah satu kota yang paling terhubung di dunia, anak muda adalah penggerak ekonomi digital di Indonesia.

“Kami sangat optimistis bahwa LinkedIn Dream Jobs dapat membantu mereka terhubung ke peluang karier yang tepat di beberapa perusahaan internasional dan nasional terbaik,” ucapnya.

Olivier berharap kampanye ini dapat dijadikan sebagai langkah awal karier bagi banyak anak muda Indonesia guna mendukung perjalanan mereka dalam usaha mengembangkan karier di masa depan, seraya memperbaiki kehidupan mereka. Asia Tenggara, khususnya Indonesia, merupakan wilayah yang masih relatif baru dalam ekosistem teknologi.

Di samping memberikan kesempatan untuk memperluas koneksi dan mempelajari best practices, mereka juga percaya bahwa LinkedIn Dream Jobs dapat membantu bakat-bakat muda untuk memahami lingkungan dan budaya kerja, peran mereka pada masa mendatang, dan perusahaan lebih baik dengan memberikan pemahaman tentang kebutuhan perusahaan dan bisnis.

Di Indonesia terdapat lebih dari 10 juta anggota LinkedIn, 214.000 perusahaan yang terdaftar di LinkedIn, 48.000 lowongan kerja yang di-posting di LinkedIn, 23.000 kemampuan atau keahlian yang dicantumkan, dan lebih dari 10.000 institusi pendidikan tingkat tinggi terdaftar di LinkedIn.

Wilayah Jakarta dan sekitarnya termasuk sebagai wilayah yang paling terhubung di LinkedIn setelah London, Amsterdam, dan San Fransisco. Sebanyak 13,5% dari anggota LinkedIn dari Indonesia saat ini bekerja di sektor finansial.

Menurut pengamat karier, Dino Martin, di Indonesia hanya awalnya ramai-ramai berjejaring dengan sesama profesional di LinkedIn. Banyak dari pengguna tidak lagi memperbaharui informasi seperti saat pindah kerja.

“Tetapi, saya meyakini masih efektif karena semua head hunter masih menggunakan LinkedIn untuk mencari kandidat yang diinginkan kliennya,” ungkap Dino.

Dibutuhkan personal branding yang tepat, Dino mengingatkan mempromosikan diri jangan berlebihan sebab malah bisa menjatuhkan diri sendiri. “Human resource perusahaan juga orang pintar, punya pengala man dalam merekrut orang.

Mereka bisa menilai seseorang kalau terlalu membanggakan diri dengan katakata malah terlihat narsis akan mengubah penilaian,” saran mantan CEO Karir.com ini. Menurutnya, di negara lain juga seperti itu, cara mengenalkan diri di media sosial perlu kehati-hatian.

Buktikan dengan karya yang dapat di-posting. Salah satu platform karier yang dapat memamerkan hasil karya atau konten yakni freelancer.com. Meskipun menjadi pekerja lepas, justru dalam melakukan personal branding para profesional dari seluruh dunia menampilkan karya mereka.

Perusahaan tentu dengan mudah mendapatkan pegawai atau pekerja proyeknya hanya dengan melihat hasil kerja yang bersangkutan. Bahkan penilaian dari perusahaan sebelumnya yang sudah menggunakan jasanya.

Tentu keuntungan finansial didapatkan dari mereka yang menggunakan jasa pencarian tenaga kerja ini. Hingga senantiasa mempercayakan setiap kebutuhan mereka pada platform karier ini.

“Kalau perusahaan tidak mendapatkan keuntungan, tidak mungkin mereka kembali mem-post -kan proyek atau kontes di platform kami untuk mencari freelancer. Perusahaan besar seperti NASA saja menggunakan platform kami sejak 2015 sampai saat ini mereka masih secara terus-menerus mempost -kan proyek di platform kami guna mencari freelancer,” jelas Communications Manager Asia Freelancer.com Helma Kusuma Menurutnya, Freelancer.com membantu startup, bisnis kecil, dan para entrepreneur mengembangkan bisnis mereka atau mengubah ide-ide bisnis mereka menjadi kenyataan dengan mengoneksikan mereka dengan para freelancer dari berbagai belahan dunia.

Di sisi lain, platform ini menyediakan pekerjaan dan kesempatan bagi para profesional dalam beratusratus bidang atau keahlian. “Kami mendengar cerita dan kisah dari para pengguna kami, baik itu freelancer maupunemployer dari berbagai belahan dunia.

Tentang bagaimana Freelancer.com dari fitur-fiturnya, service -nya dan komunitas globalnya membantu mengubah hidup banyak orang,” tutur Helma. Bagi para perusahaan di Freelancer.com, mereka akhirnya bisa membangun atau memasarkan produk mereka, dan para freelancer menemukan opsi pekerjaan yang lebih fleksibel.

Helma menambahkan, para pekerja lepas itu tidak lagi tergantung opsi pekerjaan-pekerjaan lokal yang tersedia yang jumlahnya terbatas di negara masingmasing. Bahkan terkadang ini menjadi ajang kesempatan bagi mereka untuk memulai bisnis mereka sendiri sambil menikmati gaya hidup yang fleksibel.

ananda nararya