Edisi 15-10-2018
Buku-Buku Kontroversial Terlarang Abad 21


Sejarah kelam pelarangan buku sudah terjadi sejak berabad-abad silam. Di zaman modern, kebencian terhadap buku khususnya yang berbau kontroversi seringkali diekspresikan dalam beragam bentuk, mulai dari pelarangan dan sensor hingga menghancurkan fisik buku tersebut.

Berikut sejumlah buku yang dilarang di abad 21.

The Da Vinci Code (Dan Brown)

Novel Da Vinci Code terjual sekitar 80 juta eksemplar di seluruh dunia dan menjadikan buku ini sebagai salah satu novel terlaris di dunia. Da Vinci Code mengikuti seorang simbolis dan ahli cryptologi ketika mereka mencoba mengungkap rahasia-rahasia sebuah kode kuno. Buku berkisah tentang tokoh-tokoh yang menemukan rahasia gelap yang disembunyikan oleh Gereja Katolik selama berabad-abad khususnya menyoroti soal keilahian Kristus. Novel ini juga mengkritik Vatikan bahwa mereka hidup dalam suatu kepalsuan namun tetap bertahan demi mempertahankan.

The Peaceful Pill Handbook (Philip Nitschke)

“The Peaceful Pill Handbook” tidak berhubungan dengan politik, seks, atau rahasia pemerintah. Namun, ini berbicara tentang bunuh diri. Lebih khusus lagi, buku ini menjelaskan bagaimana seorang individu mungkin memilih cara terbaik untuk bunuh diri dan mendiskusikan sejumlah pilihan, termasuk overdosis insulin atau opioid. Di banyak negara, bunuh diri adalah tindakan ilegal. Tetapi Philip Nitschke, penulis buku itu, berpendapat bahwa orang memiliki hak atas hidup mereka sendiri, termasuk pilihan kapan harus mengakhiri hidup mereka.

Fifty Shades Trilogy (E. L. James)

Fifty Shades of Grey adalah novel yang menceritakan hubungan antara seorang mahasiswa muda dan seorang CEO kaya. Buku ini dikotori dengan adegan seks eksplisit. Banyak kelompok konservatif juga memberi respons negatif terhadap keberadaaan novel ini terutama mengenai bagaimana isinya yang dikhawatirkan akan memengaruhi perilaku remaja yang lebih muda dan orang dewasa.

Banyak perpustakaan umum dan universitas di Amerika Serikat (AS) telah menolak untuk menyimpan buku ini karena menganggapnya "Pornografi." Sejumlah negara, seperti Malaysia, telah melarang seluruh seri serta adaptasi film dari buku kontroversial ini karena dianggap sebagai "ancaman terhadap moralitas.".

Into The River (Ted Dawe)

Novel “Into the River” adalah kisah seorang bocah remaja Suku Maori yang harus menghadapi perubahan mendadak dari kehidupannya yang tenang di pedesaan untuk bersekolah di kota. Buku ini menggambarkan semua pengalaman anak laki-laki — baik, buruk, dan di antara keduanya.

Di antara pengalaman-pengalaman ini adalah penggunaan narkoba dan hubungan seksual. Adegan-adegan itu menyebabkan banyak kalangan khususnya kalangan konservatif menolak keberadaan buku tersebut. Dewan Review Film dan Literatur Selandia Baru dengan cepat merespons polemik ini dan mengeluarkan pelarangan pada buku itu. Namun semua pembatasan terhadap buku ini dicabut pada 2015.

The King Never Smiles (Paul M. Handley)

Sebelum kematiannya pada Oktober 2016, Raja Thailand Bhumibol Adulyadej ditahbiskan sebagai raja paling lama berkuasa di dunia. Selama ini ia menanamkan citra sebagai orang yang baik hati serta tidak tertarik dalam politik. Namun, dalam buku biografi “The King Never Smiles” karya penulis dan jurnalis Paul M.

Handley memberi perspektif berbeda. Dalam buku ini diceritakan bahwa Bhumibol sebenarnya lebih suka menjaga ketertiban atas demokrasi lebih lanjut. Penerbit buku ini, Yale University Press, sempat ditekan oleh pemerintah Thailand untuk tidak merilis buku ini. Meskipun demikian, “The King Never Smiles” tetap dirilis pada 2006. Sontak pemerintah Thailand mengeluarkan larangan terhadap peredaran buku ini.

Operation Dark Heart (Anthony Shaffer)

Memoar “Operation Dark Heart” menceritakan seorang tentara Angkatan Darat AS Anthony Shaffer yang memimpin tim black-ops di Afghanistan pada 2003. Ketika berusaha menerbitkan buku itu, Shaffer meminta izin kepada Angkatan Darat untuk memastikan bahwa materi yang termasuk dalam buku itu tidak memantik kontroversi.

Ia menerbitkan buku itu pada 31 Agustus 2010. Tiga badan intelijen pemerintah (Badan Intelijen Pertahanan, NSA, dan CIA) memutuskan bahwa buku itu berisi banyak informasi sensitif. Pada 20 September 2010, Departemen Pertahanan AS telah menghabiskan lebih dari USD47.000 untuk membeli dan menghancurkan 9.500 eksemplar dari buku ini.

You: An Introduction (Michael Jensen)

Pendidikan seks adalah topik yang sangat kontroversial. Secara tradisional, organisasi-organisasi keagamaan telah berada di sisi konservatif terkait tema ini. Buku ini diarahkan untuk menjawab beberapa pertanyaan umum yang ditanyakan oleh orang dewasa seperti siapa mereka atau apa tujuan mereka, dari perspektif alkitab.

Ditulis oleh Michael Jensen, buku ini adalah bagian dari SRE (Pendidikan Agama Khusus ) di New South Wales sebelum dihentikan oleh Departemen Pendidikan dan Komunitas (DEC) Australia pada 2015. DEC mengutip kebijakan departemen sebagai alasan pelarangan buku ini.

Persepolis (Marjane Satrapi)

Persepolis adalah memoar Marjane Satrapi yang menceritakan kehidupannya saat Revolusi Iran. Buku Persepolis dilarang beredar di beberapa negara bagian Amerika Serikat. Dalam buku itu, tergambar bagaimana relasi Amerika Serikat dan Iran sebelum revolusi Iran terjadi. Buku itu juga dianggap menyebarkan komunisme karena tokoh utamanya, seorang anak perempuan, kerap mengobrol dengan karakter Tuhan yang mirip Karl Marx.

Love Comes Later (Mohanalakshmi Rajakumar)

Love Comes Later adalah novel karya Mohanalakshmi Rajakumar, seorang profesor bahasa Inggris di sebuah universitas di Qatar. Novel ini menceritakan kisah seorang pria Qatar yang bertunangan dengan sepupunya setelah istri pertamanya meninggal. Perjuangan keduanya memperjuangan cinta menjadi salah satu konflik kunci dalam buku ini.

Hingga pada satu titik, si pria mencium wanita yang bukan tunangannya. Inilah alasan mengapa banyak orang menduga buku itu dilarang meskipun pemerintah gagal memberikan alasan apa pun atas putusan mereka. Rajakumar menawarkan merevisi bagian-bagian buku yang bermasalah, tetapi ia gagal menerima balasan dari pemerintah Qatar.

The Cover-Up General (Edwin Giltay)

Diterbitkan pada 2014, buku ini menjelaskan pengalaman penulis Edwin Giltay terkait upaya pemerintah Belanda menutup-nutupi pembantaian Srebrenica, konflik Perang Bosnia di mana lebih dari 8.000 pria dan anak lelaki militer dibunuh secara brutal.

Pada 2015, seorang mata-mata Belanda mengklaim bahwa ia adalah salah diwakili dalam buku ini. Belakangan, buku itu dilarang di Belanda oleh perintah pengadilan. Giltay ditolak memberikan informasi palsu, dan pada 2016 larangan itu dicabut oleh Pengadilan Banding Den Haag, salah satu dari lima pengadilan banding di Belanda.

Buku Yang Pernah Dilarang Beredar Di Indonesia

Tetralogi Buru, Pramoedya Ananta Toer

Tetralogi novel Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca karya Pramoedya Ananta Toer termasuk karya yang banyak digandrungi para pecinta sastra. Tapi siapa sangka jika novel apik tersebut dulu pernah dilarang dibaca dan beredar? Tak hanya empat novel itu, ada puluhan novel Pram yang saat itu juga dicekal seperti Hoakiau di Indonesia, Keluarga Gerilya, Perburuan, dan Panggil Aku Kartini Sadja jilid 1 & 2, Hoakiau di Indonesia. Sebagian karya yang dilarang itu ternyata kini jadi rujukan buku kuliah di Universitas Queen Mary London.

Tan Malaka: Pergulatan Menuju Republik, Harry A. Poeze

Buku terbitan Pustaka Utama Grafiti ini dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1989. Buku karya Poeze ini memuat riwayat hidup, perjuangan politik, dan perkembangan pemikiran Tan Malaka semenjak ia lahir ke dunia sampai menjelang akhir Agustus 1945.

Wawancara Imajiner dengan Bung Karno - Christianto Wibisono

Dalam buku ini, Christianto Wibisono menampilkan Soekarno sebagai sosok imajiner yang bercerita dan menyampaikan pendapatnya atas kondisi pemerintahan Indonesia di awal pemerintahan Soeharto dan pada awal tahun '70-an. Penulisan buku dengan format wawancara ini mengingatkan para pemimpin agar bisa belajar dari sejarah terdahulu. Kemudian buku yang terbit tahun '77 ini pun setahun kemudian dilarang peredarannya.

Amerika Serikat dan Penggulingan Soekarno, Peter Dale Scott

Buku yang dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1990 ini mengungkapkan campur tangan Amerika Serikat dalam pengulingan Presiden Soekarno dengan cara kotor dan berdarah tahun 1965-1967. Dale Scott tidak hanya memberi kesan bahwa provokasi dan kekerasan pada tahun 1965 berasal dari militer Indonesia yang telah bekerja sama dengan Amerika Serikat bersama intelijen Inggris, Jerman dan Jepang. Namun dari keseluruhan ulasannya, Dale Scott menemukan peristiwa ini sebagai konspirasi yang rumit dan terselubung.

Indonesia di Bawah Sepatu Lars, Sukamdani Indro Tjahjono

Buku ini merupakan pledoi Sukmadji Indro Tjahjono, caretaker Presidium DM-ITB yang berisi pembelaan di muka Pengadilan Mahasiswa Agustus-September 1979. Buku ini dilarang beredar pada zaman orde Baru Soeharto oleh Kejaksaan Agung pada 1980.

Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman, A. H. Nasution

Buku terbitan Karya Unipress ini dilarang oleh Kejaksaan Agung pada 1984. Tingkah Laku Politik Panglima Besar Soedirman dianggap sebagai biografi khas pejabat—tokoh yang diulas diagung-agungkan tanpa ada cacat sama sekali. Buku yang berisi tulisan beberapa penulis ini memakai nama besar A.H. Nasution untuk dipampangkan di depan agar bisa membuat kumpulan tulisan ini aman. Tapi nyatanya buku ini juga dibredel saat itu.

Di Bawah Lentera Merah, Soe Hok Gie

Buku karangan Soe Hok Gie ini menarasikan satu periode krusial dalam sejarah Indonesia, yaitu ketika benih-benih gagasan kebangsaan mulai disemaikan lewat upaya berorganisasi. Dalam buku ini Soe Hok Gie juga mengajak pembacanya menelusuri kembali jejak-jejak pergerakan Indonesia pada era 1917-1920-an sekaligus mencoba menyalakan lentera merah perjuangan pergerakan Indonesia dan mengajak pembaca mencermati bagaimana para tokoh pergerakan tradisionalis Indonesia menyikapi perubahan pada abad ke-20. Buku Soe Hok Gie yang sempat dilarang Kejaksaan Agung pada 1991 ini sampai saat ini masih beredar dan menjadi bacaan para mahasiswa.

Penulis-Penulis Kaya Dunia

J.K. Rowling

Rowling adalah novelis Inggris yang terkenal dengan pembuatan seri Harry Potter. Saat berada di kereta api dari Manchester ke London pada 1990, dia memikirkan gagasan untuk seri yang menakjubkan ini. Orang-orang di seluruh dunia, baik muda maupun tua telah jatuh cinta dengan karakter Harry Potter. Menjual 400 juta kopi, buku-buku ini memperoleh pengakuan di seluruh dunia. Film dan buku karyanya telah memenangkan banyak penghargaan. Selain banyak penghargaan, Rowling telah menerima British Academy Film Award dan Freedom of the City of London.

Jim Davis

Jim Davis adalah seorang kartunis/penulis yang terkenal dengan komiknya "Garfield". Dia telah mengerjakan lima komik lainnya dan telah menulis berbagai acara spesial untuk Garfield. Dia masih terus memproduksi komik saat ini dan sedang dalam proses menciptakan seri CGI yang disebut "The Garfield Show." Dia juga bergabung dengan tim produser yang berada di balik TV Show “Garfield & Friends”. Bahkan sampai hari ini, dia terus berkarya.

Candy Spelling

Dia bukan hanya seorang penulis Amerika Serikat (AS), tapi juga seorang filantropis, pengusaha, pewaris, dan sosialita yang dihormati. Candy menikah dengan Aaron Spelling, produser acara televisi dan hiburan AS pada 1968. Pernikahannya dengan Aaron yang meninggal pada 2006 membuahkan dua anak yakni Randy dan Tori, keduanya adalah aktor terkenal.Otobiografinya, Cerita dari Candlyland dirilis pada 2009 dan hanya dua minggu setelah terbit, buku tersebut mendarat di New York Times Best Sellers List.

Stephen King

Penulis yang disebut sebagai 'king of horror' ini berhasil menjual 1,9 Juta buku novelnya yang ke 55, End of Watch tahun lalu. Stephen King terkenal akan novel-novelnya yang bertemakan horor, fiksi gaib, fiksi ilmiah, fantasi dan penuh unsur ketegangan. Banyak karyanya yang telah diangkat menjadi film atau diadaptasi dalam sebuah mini seri di stasiun televisi. Sayangnya, adaptasi dari novelnya jarang ada yang mampu menyaingi popularitas novelnya sendiri. Hanya dua film, The Shining (1980) dan It (2017) yang berhasil memasuki jajaran box office.

Danielle Steele

Memulai karirnya pada usia 19 tahun, Danielle Steel telah menerbitkan 204 buku sepanjang semenjak itu. Salah satu bukunya bahkan pernah berada dalam daftar buku terlaris The New York Times selama 390 minggu. Namanya pun terukir dalam Guinness Book of World Records berkat pencapaiannya itu. Meski sebagian besar bukunya bertemakan romansa, Danielle juga menulis buku untuk anak-anak yang mengajarkan bagaimana menghadapi masa-masa krusial dalam hidup seperti, ayah atau ibu baru, sekolah baru, kehilangan orang tersayang dan sebagainya.

KORAN SINDO/BOBBY FIRMANSYAH