Edisi 16-10-2018
Kembali Setelah Terpuruk


Nick Woodman kembali ke hadapan media dengan senyuman. Di tangannya ada produk baru yang dia percaya akan mengembalikan GoPro ke jalannya. Namanya GoPro Hero 7. Seperti apa?

Jika diibaratkan sedang bertarung di arena oktagon UFC, GoPro adalah petarung yang sudah lebam dan penuh luka bahkan sebelum pertandingan dimulai. Ini fakta. Sejak dua tahun terakhir, perusahaan tersebut berdarahdarah. Kegagalan demi kegagalan membuat CEO Nick Woodman pusing, bahkan nyaris putus asa. Begitu putus asanya, dia sempat berpikir akan menjual perusahaannya karena dinilai tidak akan bisa bersaing dan mendapatkan untung lagi. Pada 2017 itu, dia terdesak, tidak ketemu jalan keluar. Dia pun mengontak JP Morgan untuk menawarkan GoPro kepada perusahaan lain yang tertarik mengakuisisi. Bagi Woodman, yang penting nama GoPro tetap ada.

Tidak masalah walau dia tidak lagi menjadi pemilik utama. Tetapi nyatanya, GoPro tidak jadi dijual. Bukan karena tidak ada yang membeli, tetapi karena GoPro dan Woodman tidak bisa dipisahkan. Tanpa naluri bisnis Woodman, GoPro tidak akan menjadi apa-apa. Tahun ini Woodman membuktikannya. Dalam kondisi sakit dan lebam-lebam, mereka siap bertarung. Karena itu, sepanjang 2018, dia mengumbar janji kepada Wall Street dan media bahwa mereka sedang menyiapkan kejutan; mengem balikan kekuatan utama mereka pada action camera , memberikan ulang consume alasan mengapa mereka harus membeli produk GoPro Hero 7.

Akhirnya hal itu terwujud beberapa waktu lalu, yaitu rangkaian Hero 7 White, Hero 7 Silver, dan Hero 7 Black yang dibanderol USD199, USD299, dan USD399. Hero 7 Black memiliki bodi hitam, tahan air, dengan bodi berlapis karet seperti pendahulunya, Hero 5 dan Hero 6 Black. Prosesornya mereka desain sendiri, GP1. Sama dengan Hero 6 Black, tidak lagi menggunakan Ambarella yang dipakai di model GoPro sebelumnya. Selama setahun terakhir, mereka membuat GP1 menjadi lebih cepat dan kuat sehingga bisa menjalankan fungsi seperti live-streaming, time lapse, smart HDR , dan fitur pamungkas algoritma yang membuat video bisa sangat stabil. Dua kamera lainnya, White dan Silver, mungkin tidak secepat versi Black, tetapi memiliki desain berbeda.

Misalnya, LCD kecil di depan yang menginformasikan mode pemotretan, daya tahan baterai, dan sisa memori. Bedanya dengan seri Black, tidak bisa merekam video 4K, tetapi memiliki fitur super slow motion . Ketiga kamera itu, menurut Woodman, akan menjadi jagoan GoPro pada masa depan. Mereka ingin meringkas varian, bahkan aksesori, yang dijual supaya meng hemat biaya operasional dan tidak membuat konsumen bingung.

Fitur Hypersmooth

Lewat ketiga produk barunya, GoPro kembali ke awal. Kembali ke keahlian mereka untuk menciptakan kamera action yang canggih. Kuncinya adalah teknologi stabilisasi gambar yang mendukung hardware . Namanya Hypersmooth. Teknologi ini menjadi penting, bahkan sangat krusial. Sebab, umumnya video yang diambil di kamera GoPro, baik yang dipasang di helm, mobil, ataupun badan, sangat goyang dan cap tidak nyaman ditonton. Hypersmooth akan mengubah itu semua. Video yang direkam menjadi sangat halus seperti sedang direkam menggunakan gimbal.

“Ini adalah peluncuran paling besar sejak 2012 ketika kami merilis Hero 3,” ungkap Woodman. Hypersmooth ini secara otomatis tersedia di berbagai tipe pemotretan. “Ini adalah fitur yang sangat besar. Memperbesar frame rate dan resolusi memang penting, tetapi yang lebih penting adalah menciptakan video yang sangat halus. Inilah masa depan,” ujar Woodman. Ke depannya Woodman menyebut, arah perusahaan memang membenamkan semua teknologi di kamera. Dengan begitu, konsumen tidak perlu lagi menggunakan terlalu banyak aksesori atau alat bantu.

Danang