Edisi 17-10-2018
Makin Berkelas dengan si Ubin Lawas


BERBICARA ubin klasik, pasti semua setuju bila Yogyakarta dikatakan sebagai tempat lahirnya ubin ini. Bahkan, salah satu ubin klasik merek Tegel Kunci yang berlokasi di Jalan KS Tubun 95, Yogyakarta, sudah terkenal sangat melegenda.

Ya, ubin yang dibuat dengan teknik cement floor tile ini memang diper - kenalkan bangsa Belanda pertama kali kepada masyarakat Yogyakarta pada awal abad ke-20. “Semenjak diperkenalkan, material ubin klasik ini berhasil membius banyak orang sehingga mereka tertarik untuk mengaplikasikannya di rumah,” ujar desainer interior Rina Renvil. Tak hanya masyarakat awam yang suka dengan pesona kecantikan dan kekuatan ubin ini, orang-orang berdarah biru dari Keraton Yogyakarta pun jatuh hati dengan material ini. Bahkan, jika Anda jalanjalan ke Keraton Yogyakarta saat ini, Anda masih dapat melihat keindahan ubin yang dalam bahasa Jawa disebut dengan nama tegel ini di seantero Keraton.

Pesona keindahan ubin klasik tak hanya diminati masyarakat Yogyakarta, juga kota lainnya di Indonesia. Bahkan, ubin sempat mencapai tangga popularitas tertinggi dan merajai pangsa pasar penutup lantai pada tahun 1980 hingga 1990- an. “Dulu kalau pakai tegel ini kayaknya wah banget. Ibaratnya, kayak rumah sekarang pakai lantai granit asli,” tambah Rina. Hanya, semenjak lahirnya keramik dan penutup lantai keramik homogenous pada tahun 2000-an, pesona ubin klasik ini kian meredup dan susah dicari di pasaran. Bahkan, beberapa orang memprediksi ubn ini akan “mati” dan tinggal kenangan. Namun, ubin ternyata hanya mati suri.

Waktu jugalah yang akhirnya membangkitkan sang primadona ini kembali. Bahkan, pencinta dan penggemarnya kini terus bertambah banyak. Ya, tren kembali ke klasik yang kini ada di masyarakat membuat pesona ubin klasik ini naik lagi ke permukaan. Bahkan, ada orang yang rela jauh-jauh ke Kota Yogyakarta sekadar untuk membeli ubin klasik ini. Menurut pantauan KORAN SINDO, selain Yogyakarta, ada dua kota yang juga memproduksi ubin klasik ini, yaitu Bandung dan Jakarta. “Terus terang, saya enggak sengaja menggeluti bisnis ini. Awalnya, saya bertemu seseorang yang menjual mesin ini. Dan ternyata benar, setelah saya geluti, pencintanya kian banyak,” ucap I ketut Bagus Suharsa, salah seorang pemilik Bali Design Center.

Bukan tanpa alasan Ketut menyebut bahwa pencintanya kian banyak. Ia sendiri melihat langsung bagaimana jumlah peminat yang kian banyak terhadap material ini. Dari awal dibukanya bisnis ini, ia hanya menggunakan satu mesin. Waktu itu yang membeli sedikit, bahkan ia masih memiliki stok. Jadi, jika ada yang tertarik bisa langsung beli dan bawa pulang. Kini dengan 11 mesin yang ia miliki, Ketut tidak memiliki stok. Padahal, dalam satu hari bisa menghasilkan 100 buah ubin per mesin dengan waktu kerja 8 jam. Artinya, 1.100 buah tegel per hari belum mampu menutup kebutuhan pemesan. “Mau pilih ubin polos atau bermotif, idealnya 3 hari, barang jadi. Tapi karena banyak yang pesan, barang baru bisa jadi 1 sampai 2 bulan, itu pun harus antre,” ucap Ketut.

Dari gambaran yang sudah diberikan di atas, Anda bisa menentukan jumlah ubin klasik yang polos atau bermotif yang ingin Anda pesan. Untuk yang polos, pilihannya cukup banyak, tinggal Anda sesuaikan dengan konsep dan selera Anda. Untuk yang bermotif, pilihannya lebih banyak lagi, bahkan bisa dibilang tak terbatas. Untuk ubin bermotif, Anda bisa pesan sesuai dengan motif yang Anda inginkan. Asal, lebar garis motif yang Anda buat, tidak kurang dari 0,5 cm.

Aprilia s andyna