Edisi 17-10-2018
Berdayakan UKM Ciptakan Pertumbuhan Inklusi


BENARKAH teknologi disruptif memengaruhi pertumbuhan, tapi berbahaya bagi hajat hidup manusia? Teknologi disruptif ialah kondisi saat teknologi menggantikan cara tradisional.

Sistem ini kerap dinilai membuat banyak orang kehilangan pekerjaan. Di sisi lain, ada ekonomi inklusif yang luas dan berkelanjutan, yang sering dinilai sebagai pertumbuhan yang mengarah ke berbagi manfaat dan peluang secara sosial, lingkungan dan fiskal yang berkelanjutan. Kedua sistem ini kadang sering dianggap berlawanan, tapi Achmad Zaky selaku pendiri sekaligus CEO Bukalapak dengan tegas menolak anggapan tersebut. Dia menyebut, Bukalapak yang dibangunnya 8 tahun silam bukan lagi sekadar perusahaan e-commerce , tapi sebuah perusahaan pemberdayaan. Teknologi akan membawa kebaikan untuk semua sehingga ekonomi Indonesia bisa merata termasuk usaha kecil.

“Kami kini sudah punya mitra, dulu disebut agen. Sebanyak 300 ribu warung dari satu juta mitra kami selama satu setengah tahun terakhir,” ujarnya, usai menjadi pembicara dalam seminar dengan tema “Disruptive Technology and Inclusive Development, What Works?” dalam Annual Meeting Internasional Monetary Fund (IMF ) - World Bank 2018 , di Nusa Dua, Bali Rabu (10/10). Zaky menuturkan, masih banyak UKM yang tidak bisa dipasarkan melalui e-commerce . Padahal, bisnis kecil perlu dibantu seperti warung rumahan atau penjual makanan gerobak. Bukalapak Mitra memiliki warung yang menjual kebutuhan sehari-hari.

Mitra bisa mendapatkan produk lebih murah karena e-commer c e ini sudah bekerja sama dengan perusahaan produsen produk. Sebut saja Unilever, Danone, dan Nestle. Mereka juga sudah memiliki supply chain dari pihak ketiga serta 25 warehouse . Pendistribusian satu jalur ini menjadi lebih efektif serta efisien. Warung juga mendapat harga baik, juga keuntungan yang lebih. Zaky juga terus berpikir bagaimana inovasi untuk makanan kecil seperti donat dan gorengan produksinya dibuat lebih modern, lalu didistribusikan ke warungwarung.

Menjadi mitra di Bukalapak menggunakan aplikasi sendiri yang mirip dengan market place . Sudah banyak fitur seperti pembayaran menggunakan digital, bisa membeli kulakan, membantu akses permodalan, dan dapat point of sells . Aplikasi mitra juga bisa menginventori manajemen agar warung kecil memiliki sistem. “Kami ingin membuat warung berbeda, jumlahnya banyak dan saling bersaing, tetapi sayang tidak ada yang membuat mereka modern,” ucap Zaky. Permasalahan lain, tidak ada jatah promosi serta logistik tidak efisien.

“Dengan karyawan, saya juga selalu saya ingatkan kalau misi kami berjuang untuk kesetaraan. Mendukung UKM supaya berkembang, tujuan kita mulia bukan soal angka dan goal semata,” sambung Zaky. Mitra Bukalapak sudah berjalan 1,5 tahun dengan memberdayakan 1 juta mitra dengan total nilai bersih Rp1,5 miliar. Pada diskusi tersebut, Profesor Nora Lustig, Direktur Commitment to Equity Institute Tulane University, cukup mengkritisi mengenai teknologi disruptif. Menurutnya, ada risiko penyalahgunaan tenaga kerja hingga tidak adanya persamaan hak. “Teknologi disruptif menciptakan yang kalah dan menang. Apakah kita siap menghadapi yang kalah. Saya tidak optimistis, kita bisa menghadapi yang kalah, tidak bisa hanya diberi pekerjaan, menghadapi masalah itu tidak sama. Tidak bisa bekerja di tempat yang lama, butuh skill baru,” ujarnya.

Lustig yang pernah menjabat sebagai co-director Laporan Melawan Kemiskinan tahun 2000 Bank Dunia ini menambahkan, tidak ada yang bisa memastikan bahwa orang miskin dan mereka yang sering dikecualikan seperti wanita, pemuda, dan minoritas memiliki akses memanfaatkan peluang yang dihasilkan oleh teknologi disruptif. Bahkan, mereka yang tidak memiliki tanah, atau tidak memiliki rekening bank atau alat yang dibutuhkan untuk mengakses layanan canggih pemerintah.

Zaky menjawab hal tersebut dengan memberikan contoh di kampungnya sebuah desa di Jawa Tengah, warganya baru bisa jualan online . Alhasil mereka menjadi pedagang online . Ada peluang yang sama dengan koperasi menciptakan kesejahteraan. Diskusi ini juga sekaligus melihat pengalaman Bank Dunia agar negara dapat memanfaatkan kekuatan teknologi disruptif dan mendorong pertumbuhan inklusif sambil memitigasi risiko. Sementara, Ferid Belhaj, Wakil Presiden Bank Dunia wilayah Timur Tengah dan Afrika Utara, menyebutkan, teknologi membantu pengungsi, membantu anakanak untuk mendapat pendidikan.

Teknologi membantu mereka bertahan hidup dengan cara saling terhubung. Menurutnya, inilah revolusi industri keempat yang berbasis luas, juga berdampak lebih banyak. “Bank Dunia sudah 14 tahun menyetujui 1.300 proyek untuk meningkatkan bidang teknologi. Kami juga menjadi penasihat dan bekerja sama dengan swasta agar mereka lebih berkompetisi. Kami juga sudah mendukung riset di universitas untuk memajukan teknologi,” sebutnya.

Ananda nararya