Edisi 22-10-2018
Apa yang Kita Cari dalam Hidup Ini?


Apa yang kita cari dalam hidup ini? Hampir bisa dipastikan setiap orang mem punyai jawaban beragam.

Ada yang mengejar nama, ja batan, pangkat, ada pula yang me nyebut keba ha - giaan sebagai tujuan utama. Namun, tak ja rang ada pula yang masih bi ngung tak tahu apa yang di ca rinya dalam hi - dup. Ba gai mana dengan Anda sendiri? Jika merasa termasuk orang yang masih belum tahu apa yang dicari dalam hidup, barang kali kita perlu mencoba melihat se jenak ke belakang. Apakah yang telah dan sedang kita lakukan adalah hal memang kita nik mati atau malah sebaliknya, kita rasakan sebagai sebuah pak saan?

Kalau m erasa sebagai sebuah pak sa - an, siapa sebe narnya yang me - maksa? Pen da pat orang lain misalnya soal ma teri yang belum sesuai harapan hingga keinginan dikenang se-bagai “seseorang”? Jika hal se macam itu adalah yang kita cari akibat “paksaan”, mungkin su dah saatnya kita mencoba mene - laah apa yang benar-benar kita cari dalam hidup. Ada sebuah ungkapan ba - hasa Jawa yang menurut saya patut kita renungkan ber - sama. Ungkapan itu adalah “golek ka sampurnaning urip lan golek ka sampurnaning pati”. Secara ha rfiah, ungkap an tersebut me ng ajak kita untuk mencari ke - sempurnaan hidup dunia dan setelah kematian.

Artinya, da lam ajaran itu, kita diajak men cari keseimbangan dunia dan akhirat sebagai sa - lah satu tu juan hidup. Menurut saya, ka - ta “men ca ri” ini sen - diri sebenarnya ada - lah sebuah kata kerja aktif. Artinya, kita me mang tak bisa ber - henti di sebuah pen - carian saja. Ung kapan itu terlepas dari ajaran agama dan kepercayaan apa pun sebenarnya me - ngajarkan kita untuk terus men cari apa yang menjadi “misi” dalam hi dup. Apa pun peran kita saat ini, di sanalah kita bisa me la - kukan pencarian. Dengan begitu, saat yang hadir adalah “paksaan” ber nama status kita kejar se ba gai sebuah pen ca - rian, maka kita akan bisa segera menemukan kem bali titik ke se - imbangan yang kita cari.

Karena itu, saat kita me - ra sa be lum nya man de - ngan apa yang kita jalani saat ini akibat “pak - sa an”kita bisa te - rus mencari apa se benarnya “tu - gas” kita dalam hi - dup. Saat kita sedang men da pati peran se ba gai se - orang pe ngusaha, kita bisa terus men ca ri usaha apa paling memberi kemanfaatan bagi kita sendiri dan bagi orang lain. Saat kita men dapati peran se - bagai se orang guru, maka akan menjadi guru seperti apa kita bisa terus mengeksplorasi ma - teri apa yang harus kita berikan untuk mencetak ge nerasi ter - baik.

Saat kita menjadi seorang pejabat pemerintah, kita pun bisa terus melakukan pen cari - an, untuk apa jabatan tersebut di amana hkan. Bukan se ba lik - nya, men curi ke sem pat an di te - ngah kepercayaan yang d i - berikan. Tentu semua itu tak semu - dah membalikkan telapak ta - ngan. Karena itu, proses pen - carian ini adalah sebuah kata aktif yang membuat kita se-ha - rusnya terus bergerak dinamis dengan segala yang telah, se - dang, dan akan kita kerjakan. Ibarat naik sepeda, untuk m ene mukan titik keseimbangan, kita harus selalu bergerak. Ke mana? Inilah tugas kita untuk terus mencari dan mengisi kehidupan.

The Cup of Wisdom

Mari teruskan langkah. Bah kan, di saat kita masih ragu apa kah yang sedang kita “cari”. Sepanjang kita mau me - langkah, terus bergerak, mau berjuang, niscaya akan banyak pencarian yangsadar atau ti - dak akan mem bentuk kita men jadi insan penuh ke man - faatan. Saat itu telah tercapai, apa pun yang kita cari, di sanalah “kompas” ke hi dupan akan mengantarkan kita pada kebahagiaan sejati.
Salam sukses luar biasa!