Edisi 08-11-2018
Pertumbuhan Ekonomi Masih Cukup Kuat


JAKARTA - Kinerja ekonomi kuartal III/2018 yang tumbuh 5,17% memicu optimisme di tengah gejolak ekonomi global. Kendati angkanya lebih rendah dibanding kuartal sebelumnya yang mencapai 5,27%, beberapa sektor mengalami pertumbuhan signifikan.

Di antara beberapa faktor yang bisa menjadi acuan adalah membaiknya neraca perdagangan pada Oktober lalu yang mem bukukan surplus USD230 juta. Di samping itu, laporan terkini Bank Indonesia (BI) me nyebutkan bahwa cadangan devisa pada bulan yang sama juga naik menjadi USD115,2 miliar, lebih tinggi dibanding September 2018 yang hanya USD114,8 miliar. Menteri Koordinator Bidang Pereko no mian Darmin Nasution mengatakan, secara ke - se luruhan ekonomi pada kuartal III/2018 cukup tahan terhadap gejolak ekonomi global. Menurutnya, sektor konsumsi rumah tangga dan investasi pada periode tersebut juga masih cukup baik.

“Saya kira itu cukup baik untuk menghadapi gejolak yang sedang ber akumulasi dari normalisasi kebijakan moneter di negara maju, kemudian perang dagang, harga minyak yang meningkat. Jadi, pada akhirnya market mengapresiasi itu,” ujar Darmin di Jakarta kemarin. Menurut Darmin, data-data ekonomi ter - baru itulah yang menyebabkan nilai tukar rupiah menguat dalam beberapa hari ter akhir. Berdasarkan kurs acuan Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor), kemarin nilai tukar rupiah berada di level Rp14.764 per dolar AS. Angka tersebut membaik dibanding posisi pada Senin (5/11), yaitu rupiah diper da gangkan di level Rp14.962 per dolar AS dan Selasa (6/11) Rp14.891 per dolar AS.

“Artinya, di ba wah Rp15.000 itu karena intinya ada konsumsi rumah tangga dan investasi, syukur ada eks - por. Susah mengharapkan eks - por di situasi perang dagang. Hampir tidak ada negara yang membaik ekspornya maupun pertumbuhan industrinya dalam periode perang dagang,” tutur Darmin. Dia optimistis pada kuartal IV/2018 pertumbuhan ekonomi bakal mencapai 5,2% sehingga hingga akhir tahun rata-rata pertumbuhan eko nomi bisa 5,2%. Meski demikian, harus ada kebijakan tambahan untuk mendukungnya. “Harus dipersiapkan dalam waktu dekat dan tidak lama kita bisa keluarkan,” ungkapnya. Menurut Darmin, paling tidak ada satu perluasan insentif pajak yang sedang dise le saikan, termasuk yang belum di - ke luarkan seperti super tax deduction dan perluasan insentif pajak yang lain.

“Kemudian ada juga revisi DNI (daftar negatif investasi). Ya, jangan tahun ini, kita akan usahakan dalam waktu cepat. Mudah-mudahan 2-3 minggu ke depan,” katanya. Terkait penguatan rupiah, ujar Darmin, salah satu pe nyebabnya adalah karena pasar me lihat bahwa mata uang garuda sudah undervalue. “Pasar menganggap rupiah itu sudah terlalu murah sehingga dia masuk, beli, dan akhirnya rupiah menguat. Memang ada yang namanya bank investasi yang mengatakan itu sehingga modal asingnya ada yang mulai ma suk yang membuat rupiah mulai menguat,” ungkapnya.

Meski begitu, Darmin belum bisa memastikan apakah penguatan rupiah ini semen tara atau jangka panjang. Hal ini bergantung dari ke bijakan dari Amerika Serikat (AS) dan perkembangan perang dagang. “Ya, tergantung karena AS pun masih akan menaikkan tingkat suku bu nga - nya. Kemudian perang dagang nanti entah bagaimana. Kita belum bisa bilang,” kilahnya. Optimisme juga disam paikan oleh Deputi Gubernur BI Dody Budi Waluyo, bahwa pertum buhan ekonomi tahun ini bisa mencapai 5,2%. Hal ter sebut terbantu karena adanya per helatan akbar Asian Games ada World Bank Annual Meeting yang digelar pada Oktober lalu. “Jadi kemungkinan konsumsi akan tinggi di Desember itu bisa jadi drive di kuartal IV dan tahun 2018 optimistis masih 5,2%,” katanya.

Dia melanjutkan, pada kuar tal IV/2018, konsumsi rumah tangga masih akan membe rikan kontribusi cukup baik se hingga bisa jadi motor pereko nomian. “Begitu juga dengan ekspor dan investasi masih tinggi,” katanya. Kendati demikian, kata Dody, sektor perdagangan masih harus menjadi per ha ti an karena pertumbuhan impor cenderung lebih tinggi dibanding pertumbuhan impor. “Mes kipun ekspor sebenarnya sudah tumbuh, kecepatannya di bawah impor. Ke depan pe merintah akan mendorong investasi, akan ada insentif. Ter masuk tax holiday, pem ba ngun an KEK akan didorong, dan akan masuk dana baru un tuk men dorong ekonomi,” paparnya.

Konsumsi Jadi Andalan

Wakil Ketua Umum Aso sia si Pengusaha Indonesia (Apin do) Shinta W Kamdani menilai perekonomian Indonesia masih cukup baik mengingat adanya berbagai tekanan dari luar. Shinta menjelaskan, per tumbuh an ekonomi kuartal III/ 2018 lebih tinggi dari per tumbuhan kuartal yang sama di 2017 dan 2016. “Ekonomi kita masih cukup baik, namun target APBN 2018 yang 5,4% rasanya tidak mungkin. Dengan kon disi saat ini, angka 5,15- 5,2% rasanya masih cukup memungkinkan karena masih ada belanja pemilu dan konsumsi Natal dan Tahun Baru,” ujarnya. Menurut Shinta, konsumsi di sektor politik juga akan meno pang pertumbuhan. Hal ini terlihat dari sisi pengeluaran untuk lembaga nonprofit yang melayani rumah tangga (LNPRT) yang pertum bu h annya 8,5%.

“Pembentukan mo - dal terhadap bruto (PMTB) juga naik cukup tinggi sehingga kita bisa melihat pertumbuhan ekonomi yang terjaga nanti,” ungkapnya. Shinta melanjutkan, tahun depan tantangan global di per - kirakan mulai mereda. Perang dagang dan kenaikan suku bunga The Fed mungkin masih akan terus terjadi, namun dampaknya akan lebih bisa diatur dan diprediksi. Selain itu, tantangan terbesar masih dari sisi kemudahan berusaha. Hal ini tecermin dari peringkat kemudahan berusaha atau Ease of Doing Business (EoDB) Indo nesia 2019 yang turun satu pe ring kat ke posisi 73 dari 190 negara.

Direktur Eksekutif Ins ti tute for Development of Eco no mics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati mengatakan, meski pertumbuhan ekonomi di kuartal III/2018 masih cu kup kuat karena ditopang sek tor kon - sumsi rumah tangga dan pe merintah, hal itu harus diimbangi dengan pertum buh an di sektor produktif. “Ka lau pemulihan daya beli ma sya rakat dan stimulus fiskal me ningkatkan sektor produktif, pertumbuhan akan bisa lebih berkelanjutan. Kalau hanya memacu sektor konsumtif, dikhawatirkan hanya tem porer,” ujarnya.

Dia memperkirakan pada kuartal IV/2018 pertumbuhan ekonomi masih akan berada di kisaran 5,1% dengan catatan stabilitas harga kebutuhan pokok dan elastisitas kesem patan kerja bisa terjaga. Ekonom Universitas Gad jah Mada, A Tony Pra se tian tono, memperkirakan pertum buhan ekonomi tahun ini tidak akan mencapai 5,4%, me lain kan hanya di level 5,2%. Alasan nya, gairah konsumsi yang tidak cu - kup besar, yaitu hanya tumbuh 5%. “Padahal konsumsi rumah tangga mem beri kontribusi 55% terhadap pembentukan PDB,” kata Tony saat dihubungi kemarin. “Per tum buhan ekono mi sebesar 5,2% adalah paling realistis pada 2018, se - dangkan eko no mi di angka 5,3% atau bahkan 5,4% boleh dibilang realistis untuk 2019.”

Pengamat ekonomi dari ADB Institute, Eric Alexander Sugandi, mengatakan, pertum buhan ekonomi kuartal IV/2018 akan berada pada kisaran 5,1-5,2% secara year on year (yoy) atau lebih mendekati 5,2%. Dari sisi pengeluaran, pen dorong utama pertum buhan masih tetap pada sektor inves tasi dan ekspor. Lalu disusul oleh konsumsi rumah tangga. “Dan ini akan terbantu faktor Natal dan liburan akhir tahun,” kata Eric.

Oktiani endarwati/ kunthi fahmar sandy














Berita Lainnya...