Edisi 08-11-2018
Demokrat Hambat Pemerintahan Trump


WASHINGTON–Partai Demokrat mampu menguasai Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) setelah delapan tahun dikuasai Partai Republik. Itu menjadikan posisi Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump akan menghadapi banyak halangan dan rintangan dua tahun ke depan.

Trump dan Partai Republik memperpanjang kontrol dan kekuasaan di Senat pada pemilu per tengahan yang digelar Selasa (6/11) waktu setempat. Itu karena mereka memainkan isu imigrasi d an menonjolkan kesuksesan perekonomian AS. Namun, kekalahan di DPR jelas menjadi kemunduran bagi Trump karena pemilu pertengahan diang gap sebagai referendum atas pemerintahannya selama dua tahun. Meskipun belum semua suara dihitung, Demokrat dipastikan mendapatkan lebih dari 30 kursi di DPR dari 23 kursi yang dibutuhkan untuk menj adi mayoritas dar i 435 anggota. Demokrat memang tidak mengincar mayoritas Senat karena mengang gap suara DPR lebih kuat.

Tap Namun, jika Demokrat menguasai Senat, maka mereka akan semakin tegas dalam menghalau la ju berbagai program dan kebijakan Trump, termasuk kemampuan memblok p enunjukan calon hakim Mahkamah Ag ung AS. Dengan Demokrat menguasai DPR, mereka bisa menginvestigasi pajak Trump, konflik kepentingan, ser ta ke - terkaitan dengan peretasan Pemilu 2016 dan intervensi Rusi a. Demokrat juga bisa memaksa Trump membatalkan banyak ambisi legislasi dan janji untuk membangun tembok di per batasan Meksiko.

Kemudian berbagai kebijakan perang dagang d an paket pemotongan pajak juga menjadi fokus utama Demokrat. ”Terima kasih Amerika, besok (hari ini) k ita akan menghadapi hari baru di Amerika,” kata Nancy Pelosi, pemimpin Demokrat di DPR yang diperkirakan akan menjadi K etua DPR A S. ”Saat ini bukan hanya tentang Demokrat dan Republik, tetapi menghidupkan pemantauan dan penyeimbangan sesuai Konstitusi terhadap pemerintahan Tr ump,” ujarnya dilansir Reuters . Namun, Tr ump masih membela diri. ”Malam ini mer upakan kesuksesan yang luar biasa,” ungkap Trump melalui akun Twitter-nya. Itu karena Republik masih menguasai Senat sehing ga masih bisa mengamankan dukungan legislasi.

Dikuasai Senat tidak lepas bagaimana pemimpin berusia 72 tahun itu menggelorakan retorika tentang isu bahaya rombongan karavan migran Amerika Latin ke perbatasan A S -Meksiko. Republik meningkatkan perwakilan di Senat d ari 51 menjadi 54 anggota. Itu memberikan jaminan Tr ump mendapatkan dukungan mayoritas Senat untuk penunjukan menteri dan hakim. Demokrat memang sulit berjuang di Senat karena har us mempertahankan 26 kursi, sed angkan Republik hanya sembilan kursi. Republik meraih kemenangan Senat di Indiana, Missouri, Florida, dan Nor th Dakota, tapi Republik kalah di Nevada. Bagaimana dengan pemi - lihan gubernur di 36 dari 50 ne gara bagian.

Di Florida , Demokrat dikalahkan loyalis Tr ump, Ron Desantis. Di Georgia, Stacey Abrams yang bisa menjadi gubernur kulit hitam pertama di A S , menolak kalah dari musuhnya Brian Kempt d ar i Partai Republik . Jared Polis dari Demokrat diperkirakan menang di Colorado dan menjadi guber nur pertama dari kalangan mar jinal. Demokrat juga memenangkan pemilihan gubernur di Michigan, Illinois, dan Kansas. Di New York, Guber nur Andrew Cuomo yang diprediksi menjadi calon presiden pada 2020 melanjutkan periode ketiga. Banyak yang menyebut pemilu per tengahan ini ad alah referendum bagi Trump. Imigrasi tetap menjadi isu yang diharapkan kedua pihak akan menguntungkan mereka.

Melansir BBC, Demokrat pe rcaya retorika garis keras presiden pada topik ini membantu mereka menarik pemilih muda, kaum moderat di pinggiran kota dan kalangan minoritas. Par tai Republik sebaliknya mengandalkan sikap kera s Trump untuk membuat kalangan konservatif yang berpikir Demokrat lebih peduli tentang imigran gelap dibanding warga AS untuk datang ke tempat pemungutan suara. Gerakan pengend alian senjata diluncurkan setelah penembakan SM A bulan Februari di Parkland, Florida, juga isu yang dimobi - lisasi untuk pemilihan.

Sementara itu, jajak penda pat Gallup baru-baru ini menyimpulkan bahwa perhati an utama bagi pe-milih A S ada-lah kesehatan. Partai Republik mengerahkan berbagai langkah untuk melemahkan Undang-Undang Perawatan Terjangkau, tapi mereka gagal untuk menggagalkan sistem jaminan kesehatan yang dikenal sebagai Obamacare itu. Pemilih cenderung menghukum partai berkuasa untuk meningkatnya biaya asuransi kesehatan, yang di bawah Trump ter us meningkat meng uras kantong warga Amerika.

Belajar Kompromi

Dengan terbelahnya kepemimpinan di Kongres karena Senat dikuasai Republik dan DPR dikuasai Demokrat, maka kekuasaan eksekutif harus semakin bijak. Selain ter jadinya polarisasi politik dan berbagai benturan di legislatif, maka itu akan menimbulkan ketidakpastian. ”Dengan Demokrat menguasai DPR, kita akan melihat banyak kebuntuan dalam hal kebijakan,” kata Torsten Slok , ketua ekonom internasional di Deutsche Bank. Sebenarnya dengan kekalahan di DPR, itu menjadi langkah bagi Trump mulai melakukan kompromi. Selama dua tahun terakhir, Trump tidak melakukan upaya kompromi dengan Demokrat karena menguasai DPR d an Senat.

Dua ta - hun mendatang akan sangat berbeda bagi Trump. Bisa j adi akan terbentuk ruang yang sama dengan Demokrat mengenai isu peningkatan infrastruktur. ”Kita akan memilik i tanggung jawab menemukan persamaan di mana kita bisa, dan tetap mempertahankan diri di mana kita tidak bisa,” kata Pelosi. Dalam kebijakan luar negara, Tr ump menunjukkan sikap sangat personal. Sedangkan Demokrat diperkirakan akan tetap keras terhadap Arab Saudi, Rusia, dan Korea Utara. Mereka juga akan mempertahankan status quo dalam menghadapi China dan Iran.

Kremlin kemarin menyatakan tid ak ada prospek memperbaiki hubungan dengan AS menyusul hasil pemilu terbaru. ”Kita tetap percaya dir i di mana tidak ada masa depan cerah d alam normalisasi hubungan A S-Rusia,” kata jur u bicara Pemerintah Rusia Dmitry Peskov.

Andika hendra














Berita Lainnya...