Edisi 08-11-2018
Eks Wabup Malang Ditahan


JAKARTA –Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kemarin menahan Wakil Bupati (Wabup) Malang periode 2010-2015 Akhmad Subhan dan dua pengusaha.

Akhmad Subhan ditahan setelah pemeriksaan sebagai tersangka. Juru Bicara KPK Febri Diansyah mengatakan, KPK sebelumnya telah membuka penyelidikan baru dari hasil pengembangan penyidikan kasus dugaan suap pengurusan izin dan pembangunan 22 menara telekomunikasi Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Setelah dilakukan gelar perk ara (ekspose) dan terpenuhinya alat bukti yang cukup, kemudian diputuskan penye lidikan baru tersebut dinaik kan ke tahap penyidikan. Ber samaan dengan itu, KPK menetapkan tiga orang sebagai tersangka pemberi suap. Mereka adalah Akhmad Subhan selaku wakil bupati Malang periode 2010-2015, Nabiel Titawano (swasta) pengusaha, dan Direktur PT Sumawijaya sekaligus Direktur CV Sumajaya Citra Abadi Achmad Suhawi.

MenurutFebri, pene tapan ketiga orang tersebut meleng - kapi tiga tersangka yang sudah ditetapkan pada 18 April 2018. Mereka adalah Bupati Mojokerto, Jawa Timur, Mustofa Kamal Pasa (sedang menjalani sidang) sebagai penerima suap dan Permit and Regulatory Division Head PT Tower Bersama Infrastructure (Tower Bersama Group) Ockyanto serta Direktur Operasional PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) Onggo Wijaya sebagai pemberi suap. Febri mengatakan, kemarin penyidik memeriksa Subhan, Nabiel, Suhawi, Ockyanto, dan Onggo sebagai tersangka. Setelah pemeriksaan intensif dilakukan, penyidik akhirnya memutuskan melakukan pena - hanan terhadap Subhan, Nabiel, dan Suhawi.

Menurut Febri, pemeriksaan dan penahanan ketiganya tidak menjadi per - soalan meskipun status hukum tersangka dilakukan pada hari yang sama. Ockyanto ditahan di Rumah Tahanan Negara (Rutan) Polres Jakarta Pusat, Onggo di Rutan Polda Metro Jaya, dan Suhawi di Rutan Cipi - nang Jakarta Timur. Adapun Nabiel dan Subhan di Rutan Jakarta Timur Cabang KPK. “Para tersangka ditahan untuk 20 hari pertama terhitung mulai hari ini, Rabu, 7 November 2017,” tandas Febri di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta, tadi malam. Mantan pegawai fungsional pada Direktorat Gratifikasi KPK itu mengatakan, Subhan dan Suhawi diduga bersama dengan Onggo telah mem beri kan suap kepada Bupati Mojokerto periode 2010-2015 dan 2016- 2021 Mustofa Kamal Pasa untuk pengurusan izin prinsip pemanfaatan ruang (IPPR) dan izin mendirikan bangunan (IMB) atas pembangunan 11 menara telekomunikasi.

Nabiel bersama Ockyanto menyuap Mustofa untuk peng - urusan IPPR dan IMB atas pem - bangunan 11 menara tele - komunikasi. “Diduga beberapa kali pemberian selama Juni 2015, penerimaan uang yang sudah terealisasi untuk MKP (Mustofa) adalah Rp2,75 miliar. Dari PT Tower Bersama Infrastructure (Tower Ber sama Group) Rp2,2 miliar dan dari PT Profesional Telekomunikasi Indonesia (Protelindo) Rp550 juta,” paparnya. Sebelumnya, untuk ke penting an penyidikan, KPK telah mengirimkan surat permintaan pelarangan atau pence gahan ke luar negeri kepada Direk - torat Jenderal Imigrasi Kemen - terian Hukum dan HAM atas nama Subhan, Suhawi, dan Nabiel.

Ketiganya dicegah untuk enam bulan ke depan sejak Senin (8/10). Akhmad Subhan merampung kan pemeriksaan sekitar pukul 19.33 WIB. Subhan mengaku tidak tahu-menahu bagaimana pertemuan dan perintah pengurusan izin dan pemberian suap kepada Mustofa Kamal Pasa. Subhan hanya tersenyum saat disinggung mengenai penetapan tersangka, pemeriksaan, dan pena hanan nya. “Ya sudah, sudah ditetap kan,” ujar Subhan sebelum memasuki mobil tahanan.

Sabir laluhu









Berita Lainnya...