Edisi 08-11-2018
Kampanyekan Isu Antipemerintah, Raih Dukungan dari Multietnis


Para pemilih di Minnesota dan Michigan memberikan suaranya kepada dua perempuan Muslim Amerika Serikat (AS) untuk menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR).

Ilhan Omar dari Minnesota merupakan mantan pengungsi yang melarikan diri dari perang sipil di Somalia. Sedangkan Rashida Tlaib merupakan keturunan Palestina-AS. Mereka berdua merupakan perwakilan kelompok minoritas yang mendapatkan kesempatan untuk unjuk diri di DPR AS. Keduanya berasal dari Partai Demokrat yang memang sejak awal mendukung tampilnya para politikus muda dari kalangan minoritas. Itu juga sebagai representasi bagaimana generasi dari warga keturunan migran menunjukkan perlawanan terhadap pemerintahan AS saat ini. Di Minnesota, Ilhan, 36, warga naturalisasi AS, akan menggantikan anggota Kongres AS Keith Ellison pada 2006 merupakan Muslim pertama yang menjadi anggota DPR.

Ilhan mengampanyekan kebijakan Partai Demokrat, seperti bebas biaya kuliah, asuransi kesehatan universal, dan peningkatan anggaran perumahan. Dua tahun lalu, lIhan menjadi warga AS keturunan Somalia yang memenangkan kursi di DPRD Minnesota. Dia juga akan menjadi anggota DPR AS pertama yang mengenakan hijab. ”Saya akan membawa nilai-nilai progresif ke Washington,” kata Ilhan kepada MinnPost. Kemudian Rashida, 42, juga memecahkan rekor sebagai perempuan Muslim yang menjadi anggota DPR AS. Sebelumnya, dia menjadi anggota parlemen di Michigan.

Anak tertua dari 14 saudara itu merupakan keturunan imigran Palestina di Detroit tempat ayahnya bekerja di Ford Motor. Rashida memang memperjuangkan nilai liberal dan ingin membatalkan kebijakan Trump yang melarang warga dari negara Muslim masuk ke AS. ”Kita pernah berdemonstrasi di Capitol, tapi kini kita akan masuk ke Capitol,” ujarnya. Bukan Rashida dan Ilhan saja yang menggebrak perpolitikan AS. Dua perempuan keturunan asli penduduk AS juga sukses menjadi anggota DPR AS. Mereka adalah Deb Haaland dari New Mexico dan Sharice Davids berasal dari Kansas. Diharapkan terwujudnya representasi perempuan dari kalangan minoritas, pelayanan terhadap mereka juga akan semakin meningkat.

”Sejarah mencatat kita membuat kebijakan dan hukum ditulis oleh sebagian kecil populasi dan pengalaman mereka tidak sama,” kata Brenda Choresi Carter, Direktur Reflective Democracy Campaign. Namun, perjuangan perempuan minoritas di parlemen tidaklah mudah. A’shanti Gholar, direktur politik Emerge America, perempuan kulit berwarna harus berjuang dengan politikus tradisional dan donor serta pemimpin partai. ”Lawan mereka adalah lelaki kulit putih,” ujarnya.

Andika Hendra

Berita Lainnya...