Edisi 08-11-2018
Lucas Halangi Penyidikan Kasus Eddy sejak 2016


JAKARTA – Jaksa Penuntut Umum (JPU) pada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendakwa advokat Lucasse kaligus pendiri dan chairman kantor hukum Lucas & Partners, melaku kan perbuatan menghalangi penyidikan sejak 2016 hingga 2018.

Perbuatan Lucas tertuang dalam surat dakwaan nomor: 103/TUT.01.04/24/10/2016 yang dibacakan secara berganti an oleh JPU yang diketuai Abdul Basir, dengan anggota Roy Riady, Ni Nengah Gina Saraswati, dan Nur Haris Arhadi di Pengadilan Tipikor Jakarta kemarin. JPU mendakwa Lucas dengan menggunakan Pasal 21 UU Pemberantasan Tipikor jo Pasal 55 ayat (1) ke-(1) KUH Pidana.

JPU Abdul Basir mengatakan, Lucas bersama Dina Soraya Putranto telah melakukan perbuatan pidana sepanjang 4 Desember 2016 hingga 29 Agustus 2018 melakukan perbuatan dengan sengaja merintangi atau menghalang-halangi penyidikan kasus duga an suap pengurusan beberapa perkara Lippo Group di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat (PN Jakpus), dengan tersangka pemberi suap Chairman PT Paramount Enterprise International Eddy Sindoro. Ada dua perbuatan utama yang dilakukan Lucas. “Menyarankan Eddy Sindoro se laku tersangka tindak pidana korupsi untuk tidak kembali ke Indonesia serta mengupaya kan Eddy Sindoro masuk dan keluar wila - yah Indonesia tanpa pemerik saan Imigrasi untuk menghindari pemeriksa an atau tindakan hukum lainnya terhadap Eddy Sindoro oleh penyidik KPK,” ungkap JPU Basir.

Dia melanjutkan, selepas pimpinan KPK menekan surat perintahdimulainyapenyidik an (sprindik) atas nama Eddy Sindoro tertanggal 21 Novem - ber 2016, disusul dengan be be - rapa kali pemanggilan peme - riksaan dan pencegahan atas nama Eddy Sindoro. Sebelum itu, Eddy sudah lebih dulu kabur ke luar negeri. Pada 4 Desember 2016, Eddy yang berada di luar negeri meng hubungi Lucas. Eddymenyam paikaninginkem - bali ke Indonesia untuk menghadapi proses hukum di KPK.

“Namun, terdakwa (Lucas) justru menyarankan Eddy tidak kembali ke Indonesia. Selain itu, terdakwa juga menyarankan Eddy melepas status warga Negara Indonesia dan membuat paspor negara lain agar dapat melepaskan diri dari proses hukum di KPK, yang untuk itu terdakwa akan membantunya. Atas saran terdakwa tersebut, Eddy di bantu Chua Chwee Chye alias Jimmy alias Lie membuat paspor palsu Republik Dominika Nomor RD4936460 atas nama Eddy Handoyo Sindoro,” ungkapnya. Eddy dengan menggunakan paspor palsu tersebut berang kat dari Bangkok, Thailand ke Malaysia pada 5 Agustus 2018 dan dengan rencana kembali 7 Agustus.

Hanya saat akan bertolak pulang dari Malaysia, Eddy ditangkap petugas Imigrasi Malaysia di Bandara Internasional Kuala Lumpur karena menggunakan paspor palsu. Mengetahui Eddy akan dipulangkan ke Indonesia, Lucas merencana kan agar ketika dipulangkan dan tiba Indonesia maka Eddy dapat diterbangkan kembali ke Bangkok tanpa diketahui Imigrasi, sehingga terhindar dari tindakan hukum penyidik KPK. Lucas menuding dakwaan yang disusun dan dibacakan JPU pada KPK sangat tidak jelas.

Bahkan dia mengklaim, dariberkas perkara dan dak waan, terlihat keanehan yang luar biasa. Apalagi, menurut Lucas, dakwaan yang hanya disusun delapan lembar tersebut ter kesan untuk menghindari gu gatan praperadil an yang se dang diajukannya di PN Jakarta Selatan.

Sabir laluhu





Berita Lainnya...