Edisi 08-11-2018
Menjamin Kompetensi dan Mentalitas Pilot untuk Keselamatan


Masa kecil seakan men jadi masa yang indah tanpa beban, sehingga dengan mudahnya anak kecil mengucap kan cita-citanya untuk menjadi seorang pilot.

Berbagai alasan seperti profesi dengan seragam yang keren, nominal gaji yang menggiurkan, hingga bisa sering bepergian ke suatu daerah di Indonesia dan luar negeri membuat profesi sebagai pilot adalah sebuah idaman. Namun, hanya sedikit orang-orang yang konsisten me megang cita-citanya untuk menjadi pilot, lantaran biaya pendidikannya yang mahal, atau risiko besar yang dihadapi saat harus bertanggung jawab terhadap keselamatan orangorang yang ada di pesawat. Terlebih telah banyak kasus kecelakaan udara yang membuat anak bangsa lantas melepas cita-citanya untuk menjadi seorang pilot.

Terakhir, jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 di Tanjung Kara wang pada 29 Oktober lalu tentu masih menyisakan duka mendalam dan membuat trauma sebagian masyarakat untuk menggunakan pesawat terbang. Terlepas dari adanya gang guan teknis atau kerusakan mesin, atau faktor lainnya seperti gangguan cuaca yang mengganggu penerbangan, per lu pula disoroti kinerja seorang pilot maskapai penerbang an pada tiap-tiap kecelakaan pesawat. Menurut catatan Plane Crash Info, sejak 1960-2015, ter dapat 1.104 kecelakaan fatal pesawat terbang yang dido minasi oleh human error atau kesalahan pilot dan tim penerbang, yakni 59%.

Ancaman hukum yang menanti adalah UU Nomor 15 Tahun 1992 Pasal 60 yang menyebutkan: barang siapa yang menerbangkan pesawat yang dapat membahayakan keselamatan pesawat, penumpang dan barang, dan/atau penduduk, atau mengganggu keamanan dan ketertiban umum atau merugikan harta benda milik orang lain, dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda setinggi-tingginya Rp 60.000.000,- (enam puluh juta rupiah). Meski diguyur dengan gaji yang cukup menggiurkan, pe kerjaan sebagai pilot rupanya juga dibayang-bayangi ancaman yang tidak main-main, karena harus menanggung kese lamatan banyak orang. Untuk itu, profesi sebagai pilot harus diemban oleh orang-orang yang benar-benar teruji secara kompetensi dan secara mentalitas.

Kompetensi ditandai dengan sertifikasi yang didapat sesuai jalur pendidikan dan penga la - man menerbangkan pesawat, namun mentalitas perlu dilatih di luar momentum tersebut. Untuk menjadi seorang pilot, kiranya perlu sikap tegas dan tanggung jawab dalam menentukan keputusan. Seorang pilot juga harus tegas saat menemukan awak maskapai yang memaksa untuk melanjutkan penerbangan meski ada kendala teknis sekecil apa pun. Demikian pula sikap tanggung jawab sangat dibutuhkan agar tepat waktu dalam pener bangan, tidak mengalami keter lambatan yang akhirnya merugikan maskapai yang menaungi pilot tersebut.

Sikap tegas dan tanggung jawab dapat dipupuk sejak kecil. Perlu peran orang terdekat dan pendidik untuk memelihara cita-cita anak yang ingin menjadi pilot agar didampingi sehingga pribadinya tumbuh sesuai dengan apa yang diharapkan oleh masyarakat, bangsa dan agama. Tanamkan pada diri anak untuk bersikap tegas dan bertanggung jawab, terlepas dari pekerjaannya suatu hari nanti, apakah menjadi seorang pilot atau lainnya.

Martini
Mahasiswa Jurusan Komunikasi dan Penyiaran Islam








Berita Lainnya...