Edisi 08-11-2018
Ekspor Produk Kehutanan Capai USD52 Miliar


JAKARTA – Kementerian Ling kungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyatakan total nilai ekspor produk kehutanan berstandar Sistem Informasi Legalitas Kayu (SILK) hingga 24 Oktober men capai USD52 miliar.

Ke menterian ini juga mencatat telah menerbitkan 920.133 Dokumen V-Legal dan Lisensi FLEGT yang menyertai eks por produk kehutanan kepasar dunia. Inovasi SILK merupakan platform online pertama di dunia untuk penerbitan dokumen penjaminan legalitas kayu.

“Alhamdulillah, saya sangat bersyukur atas prestasi ini. Karena inovasi adalah satu dari tiga elemen pokok kemampuan daya saing, selain resources dan efektivitas manajemen,” kata Menteri LHK Siti Nurbaya Bakar dalam rilisnya, kemarin.

SILK merupakan sistem pelacakan disusun untuk memastikan legalitas sumber kayu yang beredar dan di perdagangkan. Dengan sistem ini, maka akan menjamin legalitas produk kayu sehingga dapat meningkatkan daya saing ekspor produk Indo nesia.

“Kita satu-satunya negara yang sudah pakai sistem legalitas kayu dalam perdagangan kayu di Eropa sehingga tidak perlu lagi due diligence,” ungkap Menteri Siti. Diketahui, KLHK meraih peng hargaan Top 40 Inovasi Pelayanan Publik 2018.

Peng hargaan diserahkan Wakil Pre siden Jusuf Kalla kepada Men teri LHK Siti Nurbaya saat pembukaan International Pu blic Service Forum di Jakarta, kemarin. Penghargaan berdasarkan Keputusan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) ini berhasil diraih KLHK melalui inovasi SILK yang menjadi solusi untuk menjawab tantangan global perdagangan kayu legal.

Top 40 Inovasi Pelayanan Publik tahun 2018 merupakan inovasi yang di ka tegorikan out standing (ter puji) hasil seleksi dari Top 99. SILK berhasil terpilih dari 2.824 inovasi yang ikut kom petisi.

SILK juga menjadi satu-satunya inovasi pelayanan publik wakil dari Indonesia yang dikirim Menpan-RB ke OECD dalam kompetisi “Observatory of Public Sector Innovation” tingkat dunia. “Jadi, saya sampaikan terima kasih kepada seluruh jajaran staf atas kerja kerasnya.

Menyusun sistem dan pola legalitas kayu ini cukup lama, baru jadi 2-3 tahun ini, setelah perintisannya sejak 11-12 tahun lalu,” kata Menteri Siti. Meski mendapat banyak tantangan, tapi ditegaskan Menteri Siti, pihaknya tetap yakin inovasi SILK bisa memberi kontribusi terbaik bagi Indonesia.

“Memang dibutuhkan keberanian dan keyakinan diri. Saya saat memutuskannya yakin dan artikulasinya memang berat, tapi kita terus bekerja yang terbaik untuk Indonesia,” katanya.

sudarsono