Edisi 08-11-2018
Industri Nasional Dituntut Miliki Daya Saing Tinggi


JAKARTA – Industri nasional dituntut untuk mampu memiliki daya saing dengan negara lain sehingga bisa menghadapi sejumlah tantangan di era revolusi industri 4.0.

Staf Ahli Menteri Perindustrian Bidang Peningkatan dan Peng gunaan Produk Dalam Ne geri Imam Haryono mengatakan, Indonesia telah memasuki era revolusi in dus tri 4.0 sejak 2011. Namun, se jumlah tantangan masih di hadapi pelaku industri di Ta nah Air dalam meng hadapi era digital.

“Industri nasional harus memiliki daya saing dengan ne gara lain, salah satunya de ngan meningkatkan efisiensi,” kata Imam saat menjadi pem bicara da lam “5th Indonesian Industrial Rela tions Con fe rence: The Align ment of New Industrial Relations Policy to ward Industry 4.0 Era New Challenges-New Solution” di Jakarta kemarin.

Menurut dia, Indonesia me miliki potensi yang besar dari segi sumber daya manusia (SDM). Pasalnya, Indonesia merupakan negara terbesar keempat di dunia. Namun, produktivitas tenaga kerja Indonesia masih lebih rendah dibandingkan negara China dan India.

Saat ini upah tenaga kerjanya ter masuk yang tertinggi di regional. Indeks efisiensi pasar tenaga kerja Indonesia berada pada level 108 dari 137 negara. Hal ini menyebabkan biaya ope rasional menjadi lebih besar dan dampaknya bisa dibebankan kepada konsumen.

“Kita harus menaikkan rating human development index di bawah 36 untuk mengejar ke tertinggalan. Terkait dengan ini, efisiensi pasar tenaga kerja masih dinilai sangat ren dah, rating-nya 108 dari 137 negara,” ujar Imam.

Untuk itu, lanjut dia, pelaku industri di Tanah Air didorong melakukan sejumlah transformasi untuk meningkatkan produktivitas kerja. Di sisi lain, pemerintah mendorong kalangan industri harus memaksimalkan data su paya pemasaran efektif menjangkau konsumen.

Produk yang dibuat juga diha rapkan lebih sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Caranya, dengan mengadopsi teknologi seperti kecerdasan buatan, big data, dan lain sebagainya. Dalam mendukung hal tersebut dibutuhkan infrastruktur telekomunikasi yang memadai.

Misalnya, infrastruk tur yang memungkinkan 5G sehingga bisa diakses secara merata di seluruh wilayah di Indonesia. Dengan demikian, industri nasional bisa me miliki daya saing dari segi pro duktivitas.

Sebagai informasi, acara Indonesian Industrial Rela tions Conference ke-5 ini di laksanakan oleh Apindo Training Center dan DPN Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apin do). Aca ra digelar selama dua hari, yaitu Sabtu-Minggu (7-8/11) dan turut dihadiri oleh sejumlah profesional di bi dang masingmasing sebagai pembicara.

Direktur Apindo Trai ning Center M Aditya Warman men jelaskan, acara ini bertujuan mengajak para ekspertis, akademisi, dan semua stakeholders yang terlibat di dalamnya untuk sama-sama merumuskan rekomendasi mengenai strategi tenaga kerja yang komprehensif dan siap menghadapi tantangan era baru ini.

“Untuk itu, dibutuhkan percepatan perubahan dan inovasi efisiensi tenaga kerja dan perubahan cara kerja serta bisnis proses menjadikan transformasi tenaga kerja semakin cepat,” katanya.

heru febrianto