Edisi 08-11-2018
Menepis Gelar Nyaris


JAKARTA - Apa prestasi terbaik sepak bola Indonesia? Jawabannya bisa beragam.

Tampil di Piala Dunia saat masih bernama Hindia Belanda pada 1938. Bermain di perempat final Olimpiade 1956 atau mendapatkan medali emas di ajang SEA Games 1991 yang menjadi gelar terakhir di level senior.

Tapi, sah juga menyebut gelar juara Piala AFF U-16 dan Piala AFF U-19 sebagai prestasi. Apa pun itu, pendukung selalu memiliki alasan untuk men cin tai skuad Garuda . Mereka rela berburu tiket dengan harga yang kadang terbilang mahal.

Antre di depan loket tiket meski harus datang dari pagi agar tidak harus antre berjam-jam. Bahkan, pendukung skuad Garuda tak jarang dominan meski di laga tandang seperti terlihat saat timnas U-16 tampil di Piala Asia 2018.

Puluhan ribu masyarakat Indonesia datang dan memenuhi Stadion Bukit Jalil saat pasukan Fachry Husaini bermain di perempat final demi ingin ,emjadi saksi sejarah lolosnya Indonesia ke Piala Dunia U-17.

Masalahnya, perjalanan sepak bola Indonesia lebih banyak menghadirkan gelar nyaris dibandingkan gelar sebenarnya. Tercatat, sepak bola Indonesia lima kali nyaris menjadi juara Piala AFF sejak pertama kali digulirkan pada 1996.

Tercatat, Indonesia gagal menjadi juara meski ke final pada 2000, 2002, 2004, 2010, dan 2016. Sementara di SEA Games, dari lima kali final, dua di antaranya berakhir dengan kegagal an, yaitu 1997 dan 1979. Tahun ini, sepak bola Indonesia juga disuguhi prestasi nyaris di level junior.

Indonesia nyaris tampil di Piala Dunia U-20 seandainya tidak dikalahkan Jepang di partai perempat final. Garuda Asia juga nyaris mendapatkan jatah ke Piala Dunia U-17 kalau saja bisa mengalahkan Australia di perempat final.

Tahun ini, di Piala AFF 2018, Indonesia diharapkan bisa me nepis predikat sepak bola nyaris yang sudah melekat lama. “Saat ini kami telah tiba di Singapura. Kondisi saya dan seluruh pe main dalam kondisi bagus.

Kami datang ke sini untuk meraih kemenangan,” kata pemain belakang Indonesia Putu Gede, dikutip situs resmi PSSI. Piala AFF menjadi harapan besar karena Indonesia memiliki skuad yang jauh lebih matang.

Kerangka tim yang di miliki pelatih Bima Sakti adalah tim yang mendapatkan gelar juara di Piala AFF U-19 pada 2013. Skuad ini memiliki penga laman dan jam terbang di level internasional cukup banyak.

Mereka pernah tampil di Asian Games 2018, kualifikasi Piala AFC U-19, bermain di Tur na men Solidarity Games Aceh, dua kali bertarung di ajang SEA Games 2017, dan beberapa uji coba internasional lainnya.

Kekuatan ini dikombinasikan dengan pemain berpengalaman seperti Andritany Ardhiyasa di posisi penjaga gawang, Fach ruddin Aryanto (bek), Rizki Pora (bek), Riko Simanjuntak (sayap), Alberto Goncalves (striker), Stefano Lilipaly (gelandang), dan Andik Vermansyah (sayap).

“Semoga tidak ada lagi yang cedera sehingga kami bisa menurunkan pemain yang benar-benar fit dalam pertandingan melawan Singapura,” tutur Bima Sakti, sebelum bertolak ke Singapura. Beban Indonesia tidak bisa dibilang ringan.

Tim Garuda berada di Grup B bersama Thailand, Filipina, Singapura, dan Timor Leste. Masingmasing grup diambil dua tim untuk lolos ke semifinal. Indonesia mendapatkan jatah dua kali tandang, masing-masing menghadapi Filipina dan Timor Leste.

Dua laga lagi harus bermain di kandang Singapura dan Thailand. “Mudah-mudahan dengan format baru ini Indonesia bisa mengakhiri penantian gelar. Selama ini, Indonesia dikenal sebagai tim terbaik dan runnerup terbaik karena lima kali tidak pernah juara,” tandas Wakil Ketua Umum PSSI Joko Driyono.

Sementara itu, hasil pengundian kualifikasi Piala Asia U-23 2020 Indonesia berada satu grup bersama Vietnam, Thailand, dan Brunei Darussalam. Kualifikasi Piala Asia U-23 diikuti 44 negara.

ma’ruf