Edisi 08-11-2018
Dua Sisi Mata Uang sang Tiran


DANA White dibenci sekaligus dipuja. Ibarat dua sisi mata uang, banyak orang yang begitu takjub dan terpesona dengan kemampuan Dana White mengubah brand UFC yang awut-awutan menjadi salah satu merek termahal di dunia.

Di sisi lain, banyak orang yang begitu dendam dengan pria berbadan gempal tersebut. Menariknya lagi, semua orang yang kecewa dengan Dana White adalah orang-orang yang dulu bekerja dengannya.

Nama-nama seperti Tito Ortiz, Brendan Schaub, Ariel Helwani hingga yang terakhir Khabib Nurmagomedov. Mereka kecewa tidak hanya karena Dana White terkesan pilih kasih kepada para petarung yang berada di bendera UFC, juga dengan gaya kepemimpinannya yang seperti seorang perundung.

Brendan Schaub, mantan atlet UFC, mengatakan Dana White hanya peduli pada keuntungan. Dia tidak memberikan kesempatan yang sama bagi siapa pun jika hal itu tidak menguntungkan. “Setelah pertandingan, Anda akan sangat beruntung jika dia menyapa kamu,” kenang Brendan Schaub.

Ketidakadilan inilah yang membuat Brendan angkat kaki dari UFC. Setelah angkat kaki, Brendan jadi sangat vokal terhadap Dana White. Di sinilah Dana White begitu habis-habisan merespons sikap Brendan.

Dia terus-terusan menyerang Brendan lewat media hingga dunia maya. Ketidakadilan juga sempat mengemuka ketika Khabib Nurmagomedov hendak melawan Conor McGregor di UFC 229.

Waktu itu Khabib meminta kepada Dana White agar meminta bantuan kepada Presiden Amerika Serikat Donald Trump agar bisa memberikan visa untuk ayahnya, Abdulmanap Nurmagomedov. Saat itu Khabib ingin saat bertanding dengan Conor McGregor, ayahnya bisa ada di samping ring.

Namun, hingga akhirnya dia bertanding dengan petarung Irlandia itu, Abdumanap tidak bisa masuk ke Amerika Serikat. Kekecewaan Khabib semakin menjadi-jadi ketika Dana White terkesan membela Connor McGregor ketika insiden tawuran antara tim Khabib dan tim Connor terjadi setelah UFC 229 usai.

Begitu juga saat salah satu rekan Khabib, Zubaira, tiba-tiba tidak bisa melakukan pertandingan UFC hanya karena terlibat dalam kekacauan UFC 229 itu. “Saya akan hengkang jika dia menghapuskan pertandingan Zubaira,” tulis Khabib lewat akun Instagram miliknya.

Di antara kebencian dan kekecewaan yang mendalam tersebut masih banyak orang yang kagum dengan Dana White. Tidak usah mengambil contoh Connor McGregor yang memang terlihat begitu dimanjakan.

George St-Pierre, salah satu legendaris UFC, merasakan betul bagaimana Dana White sangat peduli dengan semua petarung UFC. Tidak hanya saat masih aktif, bahkan hingga pensiun.

Dana White adalah orang paling pertama yang melindungi George St-Pierre yang dianggap tidak terlalu brutal bertarung sebagai juara bertahan UFC medio 2006-2009. “Dia adalah role model dan sangat cocok untuk jadi panutan di semua bidang olahraga,” bela Dana White.

Bahkan, Dana White menyambut keinginan George St-Pierre saat tahun lalu mencoba kembali bertarung di UFC. “Selalu ada pintu yang terbuka buat siapa saja yang ingin memajukan olahraga ini,” ujar Dana White.

Kebaikan hati Dana White sendiri memang seolah tertutup dengan sikapnya yang arogan. Siapa sangka, seorang gadis berumur 7 tahun, Tuptim Jadnooleum, yang tinggal di Phuket, Thailand, jadi bukti kebaikan hati Dana White.

Peristiwa berawal ketika Dana White secara diamdiam sering mengunjungi situs-situs dan komunitas dunia maya bela diri campuran. Dari salah satu situs, dia mengetahui ada seorang guru bela diri Muay-Thai bernama Rattanachai tengah kesusahan karena anaknya, Tuptim, harus melakukan operasi hati.

Biaya operasi sangat besar, yakni USD50.000 atau setara Rp733 juta. Diam-diam Dana White langsung menghubungi Rattanachai dan menanggung semua biaya operasi tersebut.

Tujuh tahun berselang, saat Dana White datang ke Thailand, Rattanachai rela datang bertemu dengan Dana White hanya untuk mengenalkan anaknya itu kepada orang yang diam-diam membantu.

Sikap yang bersahabat ini memang tertutupi oleh gaya arogan Dana White. Namun, dia punya alas an sendiri mengapa dia ha rus bersikap over the top kepada para fighter UFC. “Setiap tahun semua petarung yang datang ke sini lebih muda dari saya. Mau tidak mau saya harus menaikkan level dalam memimpin,” ujarnya.

wahyu sibarani