Edisi 09-11-2018
Indonesia Butuh Pemimpin Transformatif


JAKARTA –Perubahan sosial di daerah yang bergerak cepat dan masyarakat yang terbuka menuntut kehadiran para pemimpin berintegritas, bervisi kuat serta transformatif.

Indonesia memiliki stok melimpah pemimpin-pemimpin daerah yang seperti ini. Potensi besar pemimpin transformatif tersebut antara lain terungkap dalam gelaran Indonesia Visionary Leader (IVL) Season 3 yang diadakan KORAN SINDO dan Sindonews.com pekan lalu. Pemimpin transformatif tak hanya mengandalkan karisma, tetapi memiliki kemampuan untuk merevitalisasi wilayahnya menjadi lebih baik. Melalui program-program atau visi andalannya, mereka juga mampu menggerakkan ma syarakatnya untuk mewujud kan pemerintahan yang bersih dan baik. Mereka tak ke su litan menuntaskan program-programnya karena memang hadir di tengah masyarakat dan aktif merespons dinamika yang ada di dalamnya.

IVL Season 3 yang digelar di Auditorium Gedung SINDO diikuti delapan kepala daerah, yakni Bupati Batang Wihaji, Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin S, Wali Kota Depok Mohammad Idris, Wali Kota Bontang Neni Moerniaeni, Wali Kota Malang Sutiaji, Bupati Takalar Syamsari Kitta, Bupati Lem bata Eliaser Yentji Sunur, dan Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando. Ajang IVL menguji sejauh mana visi dan kompetensi para kepala daerah di depan para juri. Dari penilaian akhir juri, Wa li Kota Bontang Neni Moerniaeni mendapatkan peng hargaan kategori Best Overall. Ada pun kategori Best in Partner ship Management diraih Wali Kota Malang Sutiaji.

Kategori Best in Promoting Productive Agriculture di dapatkan Bupati Takalar Syamsari Kitta, Best in Tourism Innovation oleh Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur, dan Best in Life Quality Improvement oleh Bupati Pakpak Bharat Remigo Yolando. Adapun Certificate of Visionary Leader Presentation diraih Bupati Batang Wihaji, Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin S, dan Wali Kota Depok Mohammad Idris. Direktur Eksekutif The Political Literacy Institute Gun Gun Heryanto yang menjadi salah satu juri mengatakan, Indonesia sangat mem bu tuhkan transformative leader. Mereka adalah para pemimpin yang berprestasi, berdedikasi, dan memiliki integritas untuk membangun Negara Republik Indonesia yang jauh lebih baik. “Kebutuhan mereka tidak hanya berpusat di Jakarta, melain kan juga di seluruh kawasan Nusantara,” kata pakar komunikasi politik Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta itu.

Masalah Bangsa Kompleks

Juri lainnya, Dirjen Oto nomi Daerah Kementerian Da lam Negeri (Kemendagri) Soemarsono, mengatakan, Indo ne sia saat ini membutuhkan pe mimpin yang visioner ka re na sedang menghadapi pe r ma salahan yang sangat kompleks. “Tentu saja dibutuhkan stra tegi yang baik untuk mencapai visi secara jelas dan tegas,” kata dia. Adapun Rektor Universitas Paramadina Firmanzah yang turut menjadi juri menga ta kan, IVL 3 merupakan bentuk usaha nyata untuk mem be ri kan apresiasi kepada kepala dae rah yang berprestasi guna lebih me majukan dan me nye jahterakan dae rahnya.

“Melalui programpro gram yang inovatif, mereka tetap menjaga terlaksananya good gover nan ce,” ujar dia. Dari kegiatan ini, Fir manzah menilai bahwa Indonesia tidak akan pernah kekurangan pemimpin-pemimpin yang berkualitas. Dia meyakini masih banyak pemimpin yang berprestasi, tetapi belum banyak terekspos publik. Juri lain yang terlibat dalam IVL 3 adalah Direktur Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Peme rintahan Daerah (EKPKD) Kemendagri Drajat Wisnu Se tyawan dan Ketua Indonesia Ins titute For Corporate Director ship (IICD) Andi Ilham Said. Wali Kota Bontang Neni Moer niaeni dalam presentasinya bertekad menjadikan wi la yahnya sebagai Kota Maritim Ber kebudayaan Industri. Ada ti ga aspek komitmennya, yaitu smart city, green city, dan crea tive city.

Smart city adalah peningkat an kualitas dan relevansi pen didikan, peningkatan mutu dan pelayanan kesehatan, sedangkan green city ber bentuk peningkatan pengelolaan sanitasi dan limbah, pe ningkat an ruang terbuka hijau, dan peningkatan kualitas ling kung an permukiman). Adapun crea tive city adalah me ning katkan pertumbuhan ekonomi da ri sektor nonmigas dan pe - ngembangan kegiatan. Wali Kota Malang Sutiaji yang mendapat predikat Best in Partnership Management memi li ki cara tersendiri untuk me wujudkan misinya. Di antaranya meningkatkan kerja sama dengan berbagai pihak di bid ang pendidikan. Di lapangan, pi haknya melibatkan beberapa per guruan tinggi di Kota Malang untuk membentuk zona pengelolaan perguruan tinggi swasta sehingga bisa saling ber kompetisi dan bersinergi.

Bupati Takalar Syamsari Kitta yang meraih predikat Best in Promoting Productive Agri culture berhasil melaku kan terobos an dengan me man faatkan lahan tidur menjadi lebih produktif dan memiliki nilai ekonomi tinggi. Total yang berhasil dimanfaatkan dari lahan tidur adalah garapan sekitar 50 hektare lahan. Bupati me man faatkan lahan tersebut untuk me nanam jagung yang ke mudian dijadikan objek wisata kuliner. Sementara itu dengan predikat Best in Tourism Innovation, Bupati Lembata Eliaser Yentji Sunur tidak ingin menyia-nyiakan potensi pa riwi - sa ta alam yang dimilikinya. Karenanya Lembata memasukkan pilar pembangunan, yaitu pembangunan kebudayaan ser ta ekonomi.

Untuk mencapai target tersebut, peme rintah setempat telah menyiapkan model pengembangan triangle line tourism melalui event yang berkelanjutan. Ini dila kukan demi mengangkat citra wisata Kabupaten Lembata yang beragam, unik, dan menarik. Inovasi pariwisata yang dilakukan di antaranya melalui Festival 3 Gunung yang me rupa kan konsep pengembangan pariwisata dengan basis commu nity based tourism, co branding , dan sharing economic. Adapun Bupati Pakpak Bha rat Remigo Yolando Berutu dengan predikat Best In Life Quality Improvement mem punyai visi yang kuat menjadikan Pakpak Bharat unggul dalam kualitas hidup yang di wu judkan melalui banyak program pendukung, di antaranya melalui program pendidikan, kesehatan serta kesejahteraan yang bersifat strategis.

Selain lima predikat tadi, de wan juri juga memberikan Ceritificat of Visionary Leader Pre sentation kepada Bupati Batang Wihaji, Wali Kota Medan HT Dzulmi Eldin, dan Wali Kota Depok Mohammad Idris. Wihaji dalam presen ta si nya memaparkan empat poin utama dalam pembangunan daerahnya, antara lain me ningkatkan kualitas pelayanan publik dengan tata kelola pe merintahan berbasis smart city. Adapun Mohammad Idris juga memaparkan upaya-upa ya yang dilakukan untuk men jadikan Depok menjadi kota yang unggul, nyaman dan re li gius. Berbagai “filosofi” juga melekat pada kota ini seperti Friendly City yang diusung ka rena karakter warganya serta tingkat keakraban lintas etnis dan agama.

Ke depan, Depok dimimpikan menjadi Lab City karena banyak nya potensi SDM dan lembaga-lembaga il mu dan pendidikan di wilayah ini. Adapun Dzulmi Eldin berte kad mewujudkan Medan men jadi Kota Masa Depan yang Multikultural, Berdaya Saing, Humanis, Sejahtera, dan Religius. Medan memiliki sistem smart government yang ter integrasi sehingga terwu jud penyelenggaraan peme rin tah daerah yang efektif, efisien, ekonomis, partisipatif, transparan dan akuntabel.

Nuriwan trihendrawan/ neneng zubaidah/ sindonews