Edisi 09-11-2018
Khilafah dan Konflik Laten dengan Allah


Dalam sebuah tulisan yang diunggah di media sosial dan disertai pajangan foto diri, Emha Ainun Nadjib (akrab disapa Cak Nun) menulis: “Kepada teman-teman Polri saya minta jangan membenci HTI (Hizbut Tahrir Indonesia) karena mereka menginginkan kehidupan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.

Mestinya Anda panggil mereka untuk berdialog, simposium 3-5 sesi supaya matang. Kalau lang sung Anda berangus, nanti ada cipratannya, akan membengkak, serbuk-serbuknya akan malah melebar ke organ-organ lain. Mohon Anda juga jangan anti-khilafah, kita jangan cari masalah dengan Allah, sebab khilafah itu gagasan paling dasar dari qadla dan qadar-Nya. Kita punya keluarga dan anak cucu, mari kita hindarkan kon flik laten dengan Tuhan.” Poin penting pendapat Cak Nun yang perlu didiskusikan adalah khilafah merupakan gagasan paling dasar qadla dan qadar Allah. Benarkah khilafah me rupakan gagasan paling da - sar qadla dan qadar Allah yang berlaku bagi manusia se ba gaimana disebut Cak Nun itu?

Apa landasan doktrinal-diniah dan rujukan ilmiah Cak Nun dalam mendukung dan mem perkuat pendapatnya bahwa khilalah adalah gagasan paling dasar qadla dan qadar Allah? Emha Ainun Nadjib tidak mem a par - kan episode sejarah yang mem - buktikan bahwa khilafah adalah gagasan dasar qadla dan qadar Allah. Dalam tulisannya yang ringkas, Cak Nun tidak me nge la borasinya. Pembaca berhak tahu karena Cak Nun adalah se orang intelektual mu - s lim yang dikenal luas (selain sebagai pe nyair, sastrawan, dan pimpinan Grup Musik Kiai Kanjeng) serta menjadi pa nu - tan di kalangan dan di luar ko - munitasnya. Untuk memberikan ca tat - an kritis-ap res ia tif terhadap pe n dapat Cak Nun, terlebih da - hu lu perlu diuraikan ten tang pe nger tian qadla dan qadar.

Me nu rut ba hasa, kata qadla ber arti hukum, ketetapan, pe - rintah, kehendak, pemberi tahuan, dan penciptaan. Menurut isti lah, qadla adalah ketentuan dan ketetapan Allah SWT dari sejak za man azali tentang se gala se suatu yang ber kaitan dengan makh luk-Nya sesuai de ngan iradah (kehendak- Nya) me li puti hal-hal yang baik dan hal-hal yang buruk, hidup dan mati, serta ketetapankete tap an-Nya yang lain. Se - lanjutnya, kata qadar menurut bahasa berarti kepastian, peraturan, dan ukur an. Se cara istilah, qadar adalah rea - lisasi ketetapan/qadla (yang telah ada sejak zaman azali sesuai dengan iradah-Nya) yang ber laku bagi semua makhluk- Nya.

Qadar disebut pula takdir Tu han yang berlaku bagi semua makhluk-Nya, baik yang telah, sedang, maupun akan terjadi di masa depan. Iman kepada qadla -qadar Allah ber - arti mempercayai dan me yak ini sepenuh hati ada nya ke ten - tuan dan ketetapan Allah SWT bagi semua makhluk-Nya. Sa - yang nya, Emha Ainun Nadjib tidak mengemukakan ar gu - men doktrinal-teologis-di niah dan juga tidak memaparkan episodesejarah kekhalifan Islam yang bisa meyakinkan pembaca bahwa khilafah adalah gagasan paling dasar dari qadla dan qadar Allah. Poin penting lain pendapat Emha Ainun Nadjib yang perlu dicermati adalah khilafah yang dia maksud adalah khilafah da - lam pengertian sistem pe merin tahan.

Hal ini dapat di ke - tahui, dipahami, dan dibuk ti - kan, dengan pernyataannya yang ia kaitkan dengan ide dan gerakan HTI yang mengusung khilafah, seruannya kepada Pol ri untuk tidak membenci khi la fah, imbauannya untuk me ng adakan dialog dan simpo sium 3-5 sesi tentang khi - lafah, seru annya agar jangan anti- khilafah, serta jangan memberangus ide dan gerakan khilafah karena me reka (HTI) me - ng inginkan kehidupan yang lebih baik bagi bangsa Indo nesia. Benarkah dengan menerapkan sistem khilafah seba gaimana dicita-ci ta kan HTI akan membe rikan kehidupan lebih baik bagi bangsa In do nesia seperti yang disebut Cak Nun itu?

Mainstream umat Islam Indonesia menolak (menolak tidak harus di artikan me mu suhi, mem ben ci, atau anti, FI) khilafah dan pemerintah telah membu bar kan HTI ka re na organisasi/kelompok ini me ng usung ide khilafah yang dinilai bertentangan dengan Pancasila, UUD 1945, na sio nalisme, dan NKRI. Fakta ini men je las kan bahwa Panc a sila, UUD 1945, nasionalisme, sis tem presidensial, dan NKRI—bukan sistem khi lafah —justru sangat pas dan memberikan kehidupan lebih baik bagi bangsa Indonesia. Selanjutnya poin penting lain pandangan Cak Nun yang pe rlu dicermati adalah se ruannya agar “jangan anti-khilafah, jangan cari masalah dengan Allah” dan “mari kita hin dar - kan konflik laten dengan Tuhan.”

Jika logika Cak Nun di - ikuti, orang-orang yang antikhilafah berarti mereka men ca - ri ma sa lah dengan Allah dan hal itu menciptakan konflik laten de ngan Allah. Logika apa ini? Se dikitnya ada 20 negara di dunia, seperti Mesir, Yordania, Arab Saudi, Turki, Malaysia, serta In donesia melarang dan mem bu barkan Hizbut Tahir (HT) yang mengusung ide dan gerakan khi lafah. Jika logika Cak Nun di ikuti, negara-ne ga - ra/bangsa-bangsa yang mem - bu barkan HT (pengusung ide dan gerakan khilafah) mencari masalah de ngan Allah dan men ciptakan konflik laten de - ngan Allah? Saya yakin negaranegara yang membubarkan HT (pengusung ide dan gerakan khilafah) sama sekali tidak men cari masalah dengan Allah dan tidak men cip takan konflik laten dengan Allah.

Cak Nun perlu menjelaskan maksud pernyataannya “jangan anti-khilafah , jangan cari masalah dengan Allah.” Memangnya orang yang tidak suka atau anti-khilafah mencari masalah apa dengan Allah? Juga Cak Nun harus menjelaskan maksud per nya taannya “mari kita hindarkan konflik laten dengan Allah.” Konflik laten dengan Allah itu seperti apa, apa wujudnya, dan bagaimana kejadian atau peristiwanya? Apa konkretnya bentuk-bentuk konflik laten dengan Allah itu? Emha Ainun Nadjib seha rus - nya menjelaskan dan mengelaborasi dengan mengangkat con toh-contoh tentang (ke - mung kinan) timbulnya “masa lah de ngan Allah” dan ter - jadinya ke tegangan dan perten ta ngan/ ”konflik laten de ngan Allah” itu.

Hal yang saya pelajari dari sejarah kekhalifahan Islam pada zaman klasik adalah me - nge ras nya perseteruan, per - mu suhan, pertentangan, dan konflik an tara Dinasti Umay - yah dan Di nasti Abbasiyah. Pada 750 M, Dinasti Abbasiyah secara tragis menumbangkan Dinasti Umay yah di Damaskus dan pasukan Abbasiyah me lakukan pem ban taian massal terhadap keluarga Umayyah. Sudah sejak lama terjadi konflik laten antara Dinasti Ab basiyah dan Dinasti Umay yah.

Saya yakin, umat Islam Indonesia dan bangsa Indonesia (dan bangsa-bangsa lain) yang menolak khilafah (karena itu pengusungnya, Hizbut Tah rir, dibubarkan dan dilarang) tidak mencari masalah dengan Allah dan tidak menciptakan konflik laten dengan Allah.

Faisal Ismail
Guru Besar Pascasarjana FIAI Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta













Berita Lainnya...