Edisi 09-11-2018
Para Pemakai Topeng Pahlawan


Sewaktu ada acara Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL) di Surabaya, Jawa Timur, beberapa waktu lalu, saya bersama rombongan kecil dan Ketua Umum IKAL Janderal (Purn) Agum Gumelar yang juga anggota Dewan Pertimbangan Presiden-bermalam di Hotel Majapahit.

Hotel ini dulunya ber - nama Ho tel Oranye, di mana pada 19 Sep tember 1945, ma - sih memasang bendera Be lan - da dengan warna Merah-Putih- Biru. Maka saat itu sejumlah warga di Surabaya tersinggung atas pemasangan bendera ter - sebut. Alasannya, Indonesia su dah merdeka (walau baru se bulan dua hari) namun masih ada ben dera Belanda. Maka ke da - tangan masyarakat ber tu juan meminta agar bendera Be landa itu segera diturunkan. Ternyata per mintaan itu tidak digubris oleh war ga Belanda yang saat itu berada di Hotel Oranye. Ber - barengan dengan itu pula pa - sukan sekutu (Ingg ris) memberi ultimatum: semua pimpinan dan orang In do nesia yang bersenjata harus me lapor dan meletakkan senja tanya di tempat yang di ten tukan dan me - nyerahkan diri dengan me ng - angkat tangan di atas.

Batas ul - timatum adalah pukul 06.00 pada 10 November 1945. Ultimatum tersebut di la - wan. Sebab, Republik In do - nesia waktu itu sudah berdiri. Maka pada 10 November pagi itu, ten tara Inggris mulai me - lancarkan serangan besar-be - saran dan dah syat sekali, de - ngan menge rah kan sekitar 30.000serdadu, 50pesawatter - bang, dan se jum lah besar kapal perang. Per tem puran hebat dan sengit pun me le tus, ter ma - suk di Hotel Oranye itu. Perang 10 November inilah, perang be - sar antara tentara Indonesia (bersama rakyat) melawan pasu kan sekutu (Ing gris)—men - ja di perang pertama Republik Indonesia dengan pa sukan asing setelah Proklamasi Ke - merdekaan Indonesia.

Dari mo mentum patriotik dan heroik inilah yang kemudian hari ditetapkan menjadi: Hari Pah - lawan. Hari Pahlawan, kini, kita peringati bukan semata sekadar mengenang sebuah perang yang dahsyat dan termasyur itu: per tempuran ganas yang ber lang sung tiga minggu me le - bihi kengerian perang Norman dia di Eropa. Bukan sampai di situ, me lainkan lebih jauh, memperingati Hari Pahla wan sekaligus menjadikan momentum yang tepat dalam memperkuat tra di si kepa h lawanan. Karena itu, cara meng - hormati jasa-jasa pah lawan, antara lain kita harus me ngimplementasikan nilai-nilai kepahlawanan dalam kehi dup - an bermasyarakat dan ber negara secara lebih konkret, realis tis, lebih dalam dan tajam, bu kan yang sifanya per mu - kaan.

Namun harus sampai ke - pada hal-hal yang subtansial. Artinya dalam konteks ini se - tiap warga negara harus ber - usaha keras menjadi pahlawan. Dengan begitu ketika men - jadi politisi, akademisi, bi ro - krat, pengusaha, dan lain se - bagainya, ini adalah peluang menjadi pahlawan dengan cara melayani masyarakat secara bersunguh-sungguh, penuh pe ngabdian, bekerja dengan baik, sesuai me kanisme dan atur an hukum yang berlaku. Dalam konteks membumikan nilai-nilai ke pah lawan itu juga, setiap kita—apa kah birokrat, politisi, akademisi, pengusaha, maupun termasuk eksekutif, legislatif dan yu di katiff—ha - rus betul-betul bera ni rela berkorbandemikepen tinganbang - sa dan negara.

Namun membumikan se - ma ngat kepahlawan itu dalam si tuasi negeri yang sedang ge - mu ruh merebut opini publik, de mi kian berat. Sebab banyak pah la wan yang muncul dewasa ini ber indikasi “pahlawan ke - sia ngan”. Atau, cuma memakai to peng-topeng pahlawan. Di ma na pada masa kini apa yang ber nama tradisi kepahlawanan —seperti keteguhan mempunyai jiwa be sar, rela berkorban, dan tidak me mentingkan diri sendiri—de mikian serasa gegabah ketika di tuangkan kedalam asksi pel ba gai bidang realitas kehidupan, maka laku egoisentris begitu menguat. Karena itu, bangsa ini pun se - dang membutuhkan banyak pah lawan untuk mewujudkan Indo nesia yang penuh kebersama an, damai, dan sejahtera— Indonesia yang adil dan demokratis.

Kebutuhan ini perlu demi men jaga keutuhan bang - sa di tengah isu suku, agama, ras, dan antar-golongan yang cenderung dikoyak (atau terkoyak). Demi menjaga persatuan dan kesatuan bangsa, ma - ka dibutuhkan sub jek-sub jek yang langsung mem per li hatk - an aksinya itu.Dengan de mi - kian kita pahami nilai-nilai kepahlawanan ini, masih re - levan. Bisa diaktualisasikan. Tetapi bersamaan pada hiruk pikuk sosial politik harihari ini, kita tercengang: ba nyak elite dari kalangan ek se kutif, legis la tif, yudikatif, mau pun pelaku du nia usaha justru pada memakai topeng-topeng pahlawan— biar disebut pahla wan yang ma sih hidup.

Dalam tahun politik ini hal demikian kentara sekali terlihat. Jadi mereka memakai topeng-topeng pahlawan bukan secara harfiah macam pah la - wan bertopeng Batman ataupun Zorro. Di mana Batman mesti bertopeng agar iden ti - tasnya tertutupi dalam memerangi kejahatan. Atau yang secara harfiah memakai kedok macam Zorro, agar Don Diego de la Vega selaku bangsawan tertutupi guna memerangi ke - tidakadilan penguasa terhadap rakyat. Namun mereka tidak begitu, tidak memakai topeng secara harfiah, hingga wajah mereka begitu gamblang ter li - hat di pelbagai media massa. Tiliklah saat mereka diskusi di televisi, senyuman mereka aduhai manisnya. Diksi-diksi yang bermunculan selalu me - ng indikasikan membela rakyat.

Bahkan, ketika mereka ber - debat satu sama lainnya, am boi, mereka seperti berada di me - dan laga memper juangkan hidup- matinya rakyat. Be ta pa mahirnya mereka me makai topeng-to peng pahlawan . Tetapi secara positif ini ha - rus dicatat pula, siapa pun bisa menjadi pahlawan -setidaktidaknya bisa berbuat macam pahlawan membela rakyat. Ken dati demikian bangsa ini punya kearifan lokal: secara halus mencemooh mereka yang memakai topeng-topeng pahlawan, atau pura-pura pah lawan, lewat ungkapan per i ba hasa: pahlawan ke siangan.

Da lam bahasa aka de mi s - nya apa itu kelakuan pah la wan kesia ng an, sejarawan Asvi War man Adam dari LIPI lewat salah satu artikelnya berjudul Jangan Jadi Pahlawan Kesia ngan, memberi definisi kela kuan n ya:”Ber si kap oportunis, memanfaatkan ke sempatan dalam kesempitan.” Dengan konsepsi “memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan” itu akan membuat pengembangan sebesarbe sarnya untuk mencapai tu - juannya. Tentu saja hal ini tidak akan dicurigai karena orangorang (atau publik) bersimpati kepadanya, karena dia selalu dianggap orang baik: pah lawan. Hal ini dalam dunia politik digunakan oleh mereka yang secara halus mengincar kursi kekuasaan dengan cara meraih simpatik sejumlah kalangan lewat politik kebohongan.

Konteks realitas semacam ini mengemuka, maka bisa dimenger ti ketika Presiden Joko Widodo pada satu kesempatan berseru: “Hentikanlah politik kebohongan.” Alegori itu bisa kita katakan mengikuti Prof Dr Tjipta Lesmana MA dalam bukunya Intrik & Lobi Politik Para Penguasa — bahwa politik se nantiasa memanfaatkan kesempat an dalam kesempitan men - jadi sebuah dunia yang de mikian indah untuk memakai topeng-topeng pahlawan. Atau secara holistik: dimana intrik dan siasat mengalami kemajuan pesat pada (hampir) segala lini kehidupan, maka kita sa - ngat membutuhkan pahlawan.

Sekurang-kurangnya, kita butuh keberanian mengaktualisasikan nilai-nilai kep ahlawanan. Tanpa ini, kita tahu: di dunia ini tetap saja meng hadirkan mereka memakai to pengtopeng pahlawan de ngan se gala mala kemunafikan yang diakibatkannya.

Zackir L Makmur
Eseis dan anggota Ikatan Keluarga Alumni Lemhannas (IKAL)






Berita Lainnya...