Edisi 09-11-2018
Kinerja Perbankan Syariah Positif


JAKARTA–Tiga perbankan syariah, yakni PT Bank Syariah Mandiri (Mandiri Syariah), PT BNI Syariah, dan PT BRI Syariah Tbk (BRIS) pada kuartal III/2018 mencatat kan pertumbuhan kinerja positif.

Untuk pada kuartal III/2018 Mandiri Syariah berhasil membukukan pembiayaan sebesar Rp65,24 triliun atau naik 11,1% dari Rp58,72 triliun pada kuartal III/2017. Pertumbuhan tersebut didorong oleh pembiayaan ritel di mana pada akhir September 2018 naik 15,43% menjadi Rp38,13 triliun.

Direktur Utama Mandiri Syariah Toni EB Subari mengatakan, segmen konsumer mencatatkan pertumbuhan ter ting gi dengan kenaikan sebesar 28,65% (yoy) dari Rp19,54 triliun menjadi Rp25,14 triliun. Lalu, segmen business banking se besar Rp8,6 triliun dan segmen mikro sebesar Rp4,3 triliun.

Sementara pembiayaan whole sale mencapai Rp27,1 triliun atau naik 6,5%. “Pembiayaan whosale ini terdiri atas segmen korporasi menjadi Rp21,4 triliun dan segmen komersial menjadi Rp5,7 triliun,” kata Toni, saat konferensi pers paparan kinerja kuartal III/2018 di Jakarta, kemarin.

Dia pun mengatakan membaiknya pertumbuhan pembiayaan tersebut diiringi dengan kualitas kinerja yang membaik tercermin dari penurunan Non Performing Financing (NPF) Nett dari 3,12% menjadi 2,51%. Sementara NPF Gross turun dari 4,69% menjadi 3,65%.

Perseroan juga berhasil mem bukukan peningkatan laba bersih sebesar 67% menjadi Rp435 miliar dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya sebesar Rp261 miliar.

Menurut dia, pertumbuhan laba tersebut didorong oleh fee based income (FBI), perbaikan kualitas pembiayaan, dan efisiensi biaya. FBI naik sebesar 16,34% dari Rp681 miliar menjadi Rp792 miliar. Peningkatan tersebut disumbang oleh kenaikan transaksi elektronik channel dan bisnis treasury.

Transaksi e-channel dari Januari hingga September 2018 mencapai 60,9 juta transaksi. Direktur Finance & Strategy Mandari Syariah Ade Cahyo mengatakan, dari sisi pendanaan, perseroan mencatatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 10,07% dari Rp74,75 triliun pada kuartal III/2017 menjadi Rp82,28 triliun.

Pertumbuhan tersebut terutama didorong produk Tabungan yang meningkat 13,77% menjadi Rp32,99 triliun per kuartal III/2018. Dengan perolehan tersebut, lanjut dia, aset tumbuh 11,01% menjadi Rp93,35 triliun.

“CASA atau dana murah per Sep tember 2018 tumbuh dari Rp37,94 triliun menjadi Rp41,47 triliun,” ungkap Ade. Sementara itu, kinerja BNI Syariah juga mengalami pertumbuhan yang semakin positif di mana laba bersih pada kuartal III/2018 mencapai Rp306,6 miliar atau naik 24,3% dari September tahun 2017 sebesar Rp246,6 miliar.

Sementara aset BNI Syariah pada kuartal III/2018 juga naik 21,5% mencapai Rp38,9 triliun. Direktur Utama BNI Syariah Abdullah Firman Wibowo menu turkan, dari sisi bisnis, BNI Syariah telah menyalurkan pem biayaan sebesar Rp26,9 triliun atau naik 19,3% yoy.

Kontribusi pembiayaan terbesar pada segmen konsumer sebesar Rp13,6 triliun (50,8%) diikuti oleh segmen Komersial sebesar Rp6,1 triliun (22,5%). Lalu, segmen Kecil dan Menengah Rp5,8 triliun (21,5%), segmen Mik ro Rp1,0 triliun (3,8%) dan Hasanah Card Rp394 miliar (1,5%).

Selain pembiayaan, penghimpunan DPK mencapai Rp33,5 triliun atau naik 21,4%. “Angka tersebut lebih tinggi dari pertumbuhan industri se besar 9,6% dengan jumlah nasabah sebesar 2,8 juta,” ungkapnya.

Dia mengatakan, per September 2018 komposisi DPK didominasi oleh dana murah (giro dan tabungan) mencapai 54,19% meningkat dibandingkan posisi yang sama tahun lalu sebesar 48,70%. Adapun per Sep tember 2018, BOPO BNI Syariah tercatat sebesar 85,49% dengan rasio Non Per forming Financing (NPF) sebe sar 3,08%.

“Ke depan, dalam ekspansi pembiayaan, BNI Syariah fokus kepada sektor low risk dengan terus memonitor kualitas pembiayaan secara konsisten sehingga menghasilkan yield yang optimal,” tandasnya. Sementara kinerja positif juga ditorehkan BRI Syariah.

Hingga akhir September 2018 perseroan mencatatkan total aset sebesar Rp36,18 triliun atau naik 19% dari Rp30,42 triliun pada kuartal III/2017. Penyaluran dana melalui pembiayaan juga tumbuh sebesar 14% secara yoy.

Direktur Utama BRI Syariah Moch Hadi Santoso mengungkapkan, pem biayaan meningkat dari Rp18,66 triliun pada akhir September 2017 menjadi Rp21,28 triliun pada September 2018. Di tengah likuiditas yang masih ketat, BRI Syariah masih terus berhasil melakukan penghimpunan DPK.

Hingga akhir September 2018, Penghimpunan DPK mencapai angka Rp27,76 triliun atau secara yoy meningkat sebesar 9% dari posisi yang sama di 2017, yaitu sebesar Rp25,36 triliun. Sementara dari sisi laba, BRI Syariah ber hasil membukukan laba bersih sebesar Rp151 miliar atau meningkat 19% secara yoy.

kunthi fahmar sandy