Edisi 09-11-2018
Tren Pengangguran Terbuka Terus Menurun


JAKARTA - Pemerintah optimistis target menekan angka pengangguran dan menciptakan 10 juta lapangan kerja hingga 2019 bisa tercapai.

Industri pengolahan paling berperan dalam penyerapan tenaga kerja di era pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla. Menteri Tenaga Kerja Hanif Dhakiri mengatakan secara keseluruhan tren tingkat pengangguran terbuka (TPT) selalu menurun.

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada 2015 TPT tercatat 6,18% lalu turun lagi menjadi 5,61% pada 2016, kemudian turun menjadi 5,50% pada 2017 dan sampai Agustus 2018 mencapai 5,34%.

“Trennya terus menurun setiap tahun. Ini angka pengangguran paling rendah sejak Indonesia memasuki reformasi. Secara keseluruhan trennya tetap positif. Pertumbuhan sektor manufaktur, pariwisata, makanan dan minuman ini cukup berkontribusi menyerap tenaga kerja,” ujarnya di Jakarta, kemarin.

Hanif mengatakan, dari penyerapan angkatan kerja baru di era pemerintahan Jokowi periode 2015-2018 yang jumlah total sekitar 9,6 juta orang, industri pengolahan menyerap 24%. Selanjutnya ritel besar, kecil, dan reparasi motor (11,1%), administrasi pemerintahan/jaminan sosial (10,9%), konstruksi (10,88%), kegiatan jasa (7%), dan akomo dasi/kuliner/rekreasi (4%).

“Bicara mengenai pengangguran, kita harus katakan capaian yang ada belum sepenuhnya seperti yang kita harapkan. Namun, kita harus jujur melihat trennya. Pengangguran terus menurun,” ujarnya. Hanif mengakui pengangguran di perdesaan meningkat se kitar 0,03%.

Menurut dia, salah satu faktor penyebabnya ada lah banyak angkatan kerja baru bekerja secara informal di sektor pertanian, tapi begitu musim panen selesai, mereka menganggur lagi.

Meski begitu, Hanif optimistis dengan adanya program dari Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Ter ting gal dan Transmigrasi terkait pro gram Dana Desa yang di da lamnya ada Program Padat Kar ya sehingga membuka pe luang kerja di desa.

“Jadi, situasi naiknya pengangguran di desa sifatnya tidak permanen. Saat masa panen datang dan harga komoditas meningkat, maka pengangguran otomatis akan turun,” tuturnya. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro mengatakan, rata-rata pertumbuhan kesempatan kerja sebesar 1,99% dalam lima tahun terakhir.

Dari target penciptaan kesempatan kerja pada 2015-2019 sebesar 10 juta orang, hingga 2018 pemerintah sudah bisa menciptakan 9,38 juta kesempatan kerja. “Jika tahun 2019 tercipta kembali sekitar 2 juta lapangan kerja, maka kami optimistis target Nawa Cita untuk menciptakan 10 juta lapangan kerja akan terlampaui,” ucapnya.

Bambang mengatakan, jumlah lapangan kerja Indonesia pada 2018 telah melampaui target Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2018 dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, yaitu meningkat 2,99 juta dibandingkan tahun 2017.

Dalam rentang 2015-2018, pemerintah telah berhasil menciptakan 9,38 juta lapangan kerja. Secara absolut jumlah pengangguran juga turun sebesar 40.000 orang sehingga TPT telah berhasil diturunkan menjadi 5,34% tahun ini.

“Jika pertumbuhan ekonomi mencapai target RKP 2019 sebesar 5,2-5,6%, TPT dapat diturunkan menjadi 4,8-5,2% pada 2019. Penurunan ini bisa di capai dengan penciptaan kesempatan kerja sebanyak 2,6- 2,9 juta orang dan lapangan kerja formal di sektor bernilai tinggi dapat menyerap angkatan kerja berpendidikan SMA ke atas,” ujarnya.

Bambang memaparkan, lapangan kerja di sektor pertanian, industri, dan jasa mengalami dinamika berbeda, mengingat penciptaan kesempatan kerja terjadi di sektor jasa. Proporsi lapangan kerja sektor jasa terus meningkat, sedangkan pertanian berkurang.

“Proporsi lapangan kerja sektor industri pengolahan stagnan di antara 13-15%. Selama 2015-2018, sektor jasa menyerap 9,77 juta pekerja, sedangkan industri hanya 2,99 juta orang. Transformasi struktural tenaga kerja terjadi dari sektor pertanian kesektor jasa,” ujarnya. Sementara itu, proporsi lapangan kerja formal terus meningkat.

Lapangan kerja formal adalah mereka dengan status buruh, pegawai, karyawan, dan berusaha dibantu buruh tetap. Sementara sektor informal mencakup berusaha sendiri, berusaha dibantu buruh tidak tetap, pekerja bebas, dan pekerja tidak dibayar.

Pada 2014, proporsi lapangan kerja formal mulai di atas 40% yang me ning kat perlahan. Tahun 2018 pro porsi lapangan kerja formal men capai 43,16% atau 53,5 juta orang. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah terus melakukan sejumlah perbaikan dan penataan SMK di Tanah Air.

Berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) pada Agustus 2018 yang dilaksanakan BPS, pada Agustus 2015 tercatat angka partisipasi kerja lulusan SMK berada di ang ka 10.837 lulusan SMK, sementara pada Agustus 2018 ber ada di angka 13.682.

“Persentase tingkat pengangguran terbuka pun terus menurun bagi lulusan SMK. Tercatat jika pada 2016 sebesar 9,84%, pada 2018 menjadi 8,92%,” tuturnya. Muhadjir mengatakan, pemerintah berkomitmen mengurangi pengangguran melalui Inpres Nomor 9/2016 Tentang Revitalisasi SMK Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Sumber Daya Manusia Indonesia.

Adapun desain yang dirancang, antara lain membuat peta jalan pengembangan SMK, pengembangan dan penyelarasan kurikulum, melakukan inovasi pemenuhan dan peningkatan profesionalitas guru serta tenaga pen didik, menggelar kerja sama sekolah dengan dunia usaha, industri, serta perguruan tinggi, meningkatkan akses sertifikasi lulusan SMK dan akreditasi SMK, dan membentuk kelompok kerja pengembangan SMK.

oktiani endarwati