Edisi 09-11-2018
Jalur Aman Politikus Kontroversial


MENCERITAKAN kisah hidup politikus yang masih hidup, apalagi yang kontroversial, tentu punya banyak tantangan.

Hal ini tampaknya disadari betul oleh sutradara sekaligus produser film Putrama Tuta (Catatan Harian Si Boy, Sundul Gan: Kaskus the Movie ). Diberi tugas membesut film biopik tentang Basuki Tja haja Purnama alias Ahok, Tuta memilih tema universal yang aman dari hujatan; drama ten tang hubungan ayah dan anak.

Berbeda dengan judul filmnya yang terasa tegas ingin bercerita tentang Ahok, A Man Called Ahok nyatanya lebih banyak menempatkan karak ter Ahok bagai sebuah spons. Dia menyerap apa pun yang ayahnya lakukan dan katakan.

Konsekuensinya, justru karak ter ayahnyalah yang menjadi bintang dalam film ini. Pada awalnya, A Man Called Ahok terasa “film politik” se kali. Film dibuka dengan re kaman suara asli Ahok saat dia sudah terjerat kasus penistaan agama.

Dalam rekaman suara yang agak samar dan dileng kapi teks di layar, Ahok yang sudah berada di Mako Brimob mengimbau para pendukungnya untuk tidak bertindak gegabah. Sebagai scene pembuka, ini adalah adegan yang luar biasa karena langsung menghunjam emosi penonton.

Lepas dari situ, atmosfer tegang dan emosional langsung hilang. Suasana berganti ke Belitung Timur pada masa lampau. Ada suara Ahok de wasa (Daniel Mananta) yang ber narasi tentang betapa bangganya dia bisa punya ayah seperti Kim Nam (Deni Sumargo/Chew Kin Wah).

Dari sini, mengalirlah kisah tentang ayah Ahok yang dipanggil tauke (bos besar) oleh penduduk sekitar. Tauke yang punya perusahaan tambang, tetapi malah sering berutang. Bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk dipinjami lagi kepada warga miskin yang tiap hari memohon bantuan kepadanya.

Begitu dermawannya Kim Nam, sampai-sampai dia sering ribut dengan istrinya, Buniarti (Eriska Rein/Sita Nursanti), perihal uang. Kadang juga Buniarti harus menjual perhiasan hanya agar suaminya bisa terus meminjami uang kepada orang miskin.

Tidak hanya dermawan, Kim Nam juga teguh pendirian. Dia paling anti dengan korupsi. Ini dibuktikannya saat berhadapan dengan pejabat daerah yang selalu minta upeti, juga pada karyawannya yang mengakali dana pembelian aspal.

Ahok muda (Eric Febrian) selalu ada di sana, mengamati gerak-gerik ayahnya, menyerap pelajaran tentang prinsip hidup dan kemanusiaan, persis seperti yang dilakukan karakter Jusuf Kalla dalam film Athirah , film yang bercerita tentang hubungan rumit antara ayah dan ibunya.

Lebih dari separuh film berdurasi 90 menit itu begitu lancar berbicara tentang kemuliaan Kim Nam dan nasihat-nasihatnya kepada Ahok, dari permintaan agar anak sulungnya itu menjadi dokter hingga berubah permin taan menjadi pejabat.

Bagian ini adalah bagian yang paling mengaduk emosi karena cukup sukses menggambarkan hubungan ayah-anak. Sayangnya, skenario yang dibuat barengan oleh Putrama Tuta, Ilya Sigma, dan Dani Jaka Sembada itu seolah enggan un tuk menggali lebih jauh bagian konflik antara Ahok dan ayah nya.

Padahal, jika ini digam barkan, drama hubungan keduanya akan lebih utuh. Kelemahan cerita kembali diulang saat film mulai menyorot kiprah Ahok di politik. Film seolah berjalan terburu-buru dan hanya bisa menceritakan potonganpotongan peristiwa yang sama sekali tidak memberi emosi mendalam.

Seolah adegan dibuat sekadar ada. Pada akhirnya, adegan pembuka emosional berisi rekaman Ahok pun menjadi mentah karena sulit menemukan benang emosinya hingga cerita ditutup. Sungguh, dengan separuh lebih cerita yang mengesankan, buntut film ini membuat kisahnya berakhir hampa.

herita endriana