Edisi 17-11-2018
Defisit APBN 2018 Capai 1,6%


JAKARTA –Kementerian Keuangan (Kemenkeu) mencatat rea lisasi defisit anggaran APBN hingga Oktober 2018 mencapai Rp236,99 triliun atau sekitar 1,6% PDB dengan defisit keseimbangan primer sebesar Rp23,76 triliun.

Angka tersebut menurun dibandingkan defisit anggaran periode yang sama 2017, yakni Rp298,33 triliun dengan defisit keseimbangan primer sebesar Rp115,22 triliun. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, pelaksanaan APBN 2018 secara garis besar masih on the track.

Realisasi defisit APBN hing ga Oktober 2018 merupakan terendah untuk periode yang sama dalam 5 tahun ter akhir. “APBN 2018 memberikan ruang defisit hingga 2,19%. Realisasi defisit ini jauh dari yang dianggarkan,” ujarnya di Jakarta, Kamis (15/11).

Sri Mulyani melanjutkan, realisasi defisit tersebut lebih rendah dibandingkan realisasi defisit pada periode yang sama tahun sebelumnya, baik secara nominal maupun persentase ter hadap PDB.

“Dengan realisasi pembiayaan sebesar Rp320,01 triliun termasuk untuk pembiayaan investasi sebesar Rp14,71 triliun, terdapat ke lebihan pembia yaan investasi sebesar Rp83,02 triliun,” je lasnya.

Secara rinci, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.483,86 triliun atau 78,32% dari target dalam APBN 2018. Pendapatan negara yang berasal dari penerimaan perpajakan, PNBP, dan hibah berturut-turut sebesar Rp1.160,66 triliun, Rp315,44 triliun, dan Rp7,77 triliun atau telah mencapai 71,73%, 114,53%, dan 648,84% terhadap target penerimaan masing-masing yang di tetapkan pada APBN 2018.

Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, pendapatan negara tumbuh 20,39% (yoy), sementara realisasi penerimaan perpajakan dan PNBP tumbuh berturut-turut masing-masing sebesar 17% (yoy) dan 34,52% (yoy).

“Realisasi penerimaan pajak sampai dengan 31 Oktober 2018 tercatat sebesar Rp1.016,52 triliun atau 71,39% terhadap target APBN 2018. Capaian tersebut tumbuh 17,64% (yoy),” papar Sri Mulyani. Apabila tidak memperhitungkan penerimaan dari uang tebusan tax amnesty pada 2017, maka penerimaan pajak tumbuh 19,30% (yoy).

Pertumbuhan penerimaan pajak terutama bersumber dari penerimaan PPh migas, PPh nonmigas, serta PPN dan PPnBM. Sementara itu, pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara mengatakan, kecilnya de fisit anggaran yang dibukukan hingga Oktober 2018 dinilainya sebagai defisit semu.

Hal ini karena beban subsidi yang semestinya dikeluarkan negara justru dibebankan kepada BUMN seperti Pertamina dan PLN. Bhima pun memperkirakan, besaran defisit anggaran di akhir tahun masih akan tergantung dari realisasi target penerimaan pajak. “Apabila realisasinya diatas 90%, defisit 2,2% masih memungkinkan,” ujar Bhima.

oktiani endarwati/ yanto kusdiantono






Berita Lainnya...