Edisi 17-11-2018
Investor Merpati Suntikkan Uang Jaminan Rp250 M


BANYUWANGI–PT Perusahaan Pengelola Aset (Persero) atau PPA sebagai BUMN yang menangani restrukturisasi PT Merpati Nusantara Airlines menyatakan, Intra Asia Corpora sebagai investor siap menyuntikkan dana jaminan ke Merpati sebesar Rp250 miliar.

Direktur Utama Perusahaan Pengelola Aset Henry Sihotang mengatakan, Intra Asia Corpora cukup serius untuk kembali menerbangkan maskapai pelat merah tersebut. Hal ini terlihat dari rencana Intra Asia Cor pora yang akan memberi uang jaminan kepada Merpati sebesar Rp250 miliar.

“Awalnya kami minta uang jaminan sebesar Rp500 miliar, tapi setelah negosiasi mereka sanggup memberi Rp250 mi liar,” kata Henry saat menghadiri media ga thering PT PPA di Ba nyu wangi, Jawa Timur, kemarin.

Seperti diketahui, Merpati Nusantara Airlines berencana kembali beroperasi setelah dinyatakan lolos dari pailit oleh Majelis Hakim Pengadilan Niaga Surabaya. Intra Asia Corpora men yatakan kesiapannya memberikan suntikan dana hingga Rp6,4 triliun kepada Merpati.

“Kita ditugaskan untuk melakukan restrukturisasi sejak 2008, permasalahan di Merpati yaitu struktur organisasi dan utang yang besar yaitu Rp10,7 triliun dengan aset Rp1,2 triliun, akhirnya Merpati berhenti beroperasi Maret 2014 hingga izin nya dicabut Kemenhub,” papar dia.

Menurut Henry, Intra Asia Corpora merupakan salah satu dari ratusan investor yang sebelumnya dinyatakan berminat untuk bekerja sama dengan Merpati.

Dari sekitar 100 investor, jumlahnya berkurang men jadi 12. Hingga akhirnya Intra Asia Corpora menjadi satu-satunya investor yang dinyatakan siap untuk menyuntikkan dana ke Merpati.

“Kita mencoba menjaring apakah ada investor yang berminat, dari 100 investor lalu jum lahnya berkurang menjadi 12, kemudian dipilih satu, yaitu Intra Asia Corpora,” akunya. Henry menambahkan, dalam proposal yang disampaikan kepada para kreditur, Intra Asia Corpora bahkan telah menyertakan rencana bisnis Merpati hingga 15 tahun ke depan.

Hanya saja mengenai detailnya, Hen ry tidak bisa mengungkapkannya. Meski demikian, dalam proposal tersebut, Merpati bersama investornya sudah mencantumkan kapan kewajiban utang perusahaan mulai dibayar hingga kapan kewajiban itu akan lunas.

“Jika dilihat proposal yang sudah dibuat, itu menurut kami sangat bagus dan masuk akal, tapi mereka perlu waktu untuk menyuntikkan dana Rp6,4 triliun,” ungkapnya. Henry juga menjelaskan, pengoperasian Merpati mampu menggerakkan perekonomian nasional.

Jika Merpati kembali beroperasi, investasi besar akan masuk ke Indonesia. Di sisi lain, penyerapan tenaga kerja akan masif, perusahaan penerbangan yang ada di Tanah Air semakin efisien, serta negara mendapatkan pajak.

Terpisah, pengamat penerbangan Al vin Lie mengatakan, beban yang dialami Merpati masih terlalu ba nyak. Misalnya per ma sa lahan dengan total utang yang mencapai sebesar Rp10,7 tri liun.

Di sisi lain, nama Merpati juga telah banyak dilupakan orang. Belum lagi banyak persoalan teknis lainnya yang harus dilakukan Merpati jika harus terbang lagi. “Izin Merpati sudah mati, jadi harus mengajukan izin baru, kemudian pesawat juga tid ak ada, berarti harus mengadakan pesawat baru.

Banyak yang harus dilakukan Merpati,” kata Alvin saat dihubungi KORAN SINDO di Jakarta kemarin. Untuk itu, Alvin menyebut rencana menerbangkan kembali Merpati memang optimistis, tapi kurang realistis.

Dia khawatir dengan menghidupkan kembali Merpati akan menghilangkan tanggung jawab sejumlah pihak terkait yang me nye bab kan maskapai Badan Usaha Milik Ne gara tersebut tutup.

“Saya khawatir itu hanya untuk meng hilangkan ke wajiban pejabat-pejabat itu karena kalau Merpati tutup, masih ada tanggung jawab yang harus diselesaikan,” tegas Alvin.

heru febrianto

Berita Lainnya...