Edisi 06-12-2018
Pakai Plastik, Izin Toko Dicabut


BOGOR - Pemkot Bogor akan menerapkan sanksi tegas bagi pengusaha ritel modern yang masih menyediakan kantong plastik pada Februari mendatang.

Sanksi tersebut berupa denda dan pencabutan izin operasional toko. Pemberian sanksi tersebut menyusul diberlakukannya Per aturan Wali Kota (Perwali) Nomor 61 Tahun 2018 tentang Pengurangan Penggunaan Kantong Plastik terhitung sejak 1 Desember 2018. “Selain itu, berdasarkan hasil kesepakatan kami dengan para pengusaha ritel di Kota Bogor. Mereka masih diberi to le - ransi hingga tiga bulan ke depan. Ketentuan peredaran di to - ko modern hingga Februari ha - nya bagi kantong daur ulang/ - organik,” jelas Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Bogor Elia Buntang kemarin.

Lebih lanjut, ia meng ung - kapkan sesuatu aturan sanksi tegas itu berupa denda hingga pencabutan izin usaha bagi toko ritel modern. Berdasarkan hasil pengawasannya sejak di ber la - ku kan kebijakan larangan kan - tong plastik saat ini, hampir se - luruh toko modern di Kota Bo - gor tidak ada lagi yang meng gu - nakan dan menyediakan kan - tong plastik. “Sejak 1 Desember hingga sekarang, monitoring terus ka - mi lakukan untuk memastikan toko modern, khususnya mal dan supermarket yang memang paling banyak penggunaan kan - tong plastik sangat banyak,” tuturnya. Menurut dia, sanksi tegas bagi peritel nakal berupa pen - cabutan izin operasi itu jika di - temukan terjadinya pe lang gar - an berat. “Ya, jadi sanksi ter se - but merupakan langkah ter - akhir.

Makanya kita akan eva - luasi terus kebijakan ini. Bah - kan jika merujuk pada perda pengelolaan sampah, itu sank - si nya bisa kurungan 6 bulan, denda Rp5 juta sampai pen ca - butan izin operasi,” tegasnya. Sementara berdasarkan pan tauan KORAN SINDO , di sejumlah minimarket sudah hampir seluruhnya sadar tak menawarkan kantong plastik kepada konsumennya. “Ibu bawa kantong, kami sudah tak lagi menyediakan kantong plastik sesuai per aturan Wali Kota sejak 1 De sember. Jika nggak bawa, kami menyediakan kantong peng ganti (non plas - tik) seharga Rp5.000,” kata Diah, kasir mi nimarket di Jalan Durian Raya, Kota Bogor k e - pada konsumennya.

Rosdiana, 28, warga Bogor Timur, mengaku sangat men - du kung kebijakan ini. Namun dibutuhkan sosialisasi yang mendalam. “Ini langkah yang baik tentu saya sebagai warga mendukung dan tidak ke be rat - an. Lagi pula eng gak ribet ka re - na bisa dilipat dan disimpan di tas,” ungkapnya. Dia mengaku sulit untuk sepenuhnya tidak meng gu na - kan kantong plastik. Aturan ini bisa diberlakukan secara ber ta - hap kepada masyarakat. ”Ini langkah yang baik tentu saya sebagai warga mendukung dan tidak keberatan. Lagi pula enggak ribet karena bisa dilipat dan disimpan di tas," ung kap - nya.

Senada, Tina Hajwatwi, 42, warga Kedung Halang, Bogor Utara, Kota Bogor, menyatakan kebijakan tersebut sangat po - sitif untuk diikuti oleh warga se - bagai upaya mengurangi sam - pah kantong plastik. “Se benar - nya sih nggak repot ya. Cuma kadang-kadang ka re na ini ke bi - jak an baru ada ka lanya lupa ba - wa tas belanjaan dari rumah,” ungkapnya. Manager Yogya Bogor Jun c - tion Dede Yusuf Gumelar me - nyambut baik kebijakan Pem kot Bogor terkait larangan pe - nyediaan plastik bagi ritel mo - dern.

“Memang dalam pe lak sa - naan di hari pertama ini ada kendala bagi konsumen, mung - kin karena belum tahu, tapi itu wajarlah. Kami coba siapkan semaksimal mungkin, sebagai penggantinya kantong plastik kami siapkan dus gratis,” jelas nya Sekadar diketahui, kebija kan larangan penggunaan kan tong plastik ini dalam rangka mengu - rangi produksi sampah di Kota Bogor yang jumlahnya mencapai 650 ton per harinya. Dari data itu, sekitar 1,8 tonnya merupakan sampah kantong plastik. Sementara itu, Pemerintah Kota Depok juga tengah me - nyiapkan Peraturan Wali Kota (Perwal) terkait pengaturan sampah plastik. Hal itu untuk mengurangi jumlah sampah plastik di Depok.

Data dari Di - nas Lingkungan Hidup dan Kebersihan (DLHK) Kota Depok menyebut jumlah sampah plastik setiap harinya mencapai 100 ton. “Kurang lebih 100 ton per hari sampah plastik di De - pok,” kata Kepala Bidang Ke - bersihan DLHK Kota Depok Iyay Gumilar. Dari jumlah itu, sampah ke - masan saset yang paling banyak karena saat ini hampir seluruh produk baik makanan maupun kebutuhan sehari-hari dikemas menggunakan plastik. “Sam - pah plastik saset sekitar 200 kilogram sehari. Ini banyak juga jumlahnya,” tukasnya. Dia menuturkan 100 ton sampah plastik yang diproduksi setiap harinya oleh warga De - pok, tidak semua masuk tempat pembuangan akhir (TPA) sam - pah.

“Dari 100 ton sampah plas - tik, sekitar dua ton di antaranya sampah plastik keresek. Asal - nya dari ritel dan pasar tr a di - sional,” paparnya. Untuk itu, Pemkot Depok te - ngah berupaya menekan peng - gu naan sampah plastik dengan ber bagai upaya. “Sedang dikaji per wal mengenai pengaturan sam pah plastik. Intinya kami men dorong untuk pengurangan sam pah plastik di Depok,” tukasnya. Wali Kota Depok Mo ham - mad Idris me nga takan, yang dimiliki Kota Depok saat ini adalah perda pengolahan sam - pah yang di dalamnya dibahas soal sampah plastik. Namun untuk teknisnya akan di buat - kan perwal khusus sampah plas tik.

“Kita belum punya per - da khusus sampah plastik. Makanya harus ada perwal khusus pengolahan sampah (plastik). Dan ini sedang kami ramu konsepnya,” katanya.

Haryudi / r ratna purnama











Berita Lainnya...