Edisi 06-12-2018
Pusat Cairkan Rp640 Miliar untuk Citarum


BANDUNG – Pemerintah pusat melalui Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman memastikan dana sebesar Rp640 miliar untuk penanganan Sungai Citarum melalui program Citarum Harum akan cair Januari 2019.

Hal itu ditegaskan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan seusai Rapat Koordinasi (Rakor) Implementasi Program Citarum Harum bersama Gubernur Jabar Ridwan Kamil di Saung Citarum Harum Sektor 8, Kabupaten Bandung, kemarin. ”Pendanaan penanganan Citarum sudah terintegrasi antara pusat (dan) Pemprov Jabar. Kita harapkan dana Rp640 miliar secara bertahap akan cair akhir Januari 2019,” tegas Luhut. Dia mengakui dana penanganan Citarum sebelumnya memang terbatas. Hal itu karena mekanisme pencairan dana dan program tidak sebaik saat ini. Luhut yakin dengan semakin baiknya pendanaan, penanganan Citarum akan lebih baik lagi.

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengaku optimistis penanganan Citarum akan lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Dia bahkan yakin penanganan Citarum akan rampung dalam lima tahun ke depan. ”Alhamdulillah, progres dari hulu ke hilirnya luar biasa, jadi kita optimistis lima tahun ke depan selesai,” ungkap gubernur yang akrab disapa Emil itu. Emil menjelaskan, penanganan Citarum sebenarnya bisa menghabiskan dana triliunan rupiah. Meski begitu, pihaknya tetap optimistis penanganan Citarum akan berjalan baik dengan dana yang dianggarkan pemerintah pusat dan Pemprov Jabar.

”Dana dari pusat ada Rp600 miliar lebih dan dari pemprov Rp100 miliar,” sebut Emil yang juga Komandan Satuan Tugas (Dansatgas) Citarum Harum itu. Dana tersebut akan digunakan untuk pembebasan lahan danau retensi, termasuk untuk pengerukan sedimentasi dan penanganan sampah. Khusus untuk penanganan sampah, akan dibangun tempat penampungan sampah lengkap dengan incinerator-nya. ”Motor sampah yang saya order ke (PT) Pindad sudah jadi, nanti kita akan praktikkan,” ujarnya. Lebih jauh Emil mengatakan, penanganan jangka menengah dalam program Citarum Harum akan fokus pada penyelesaian persoalan limbah. Untuk jangka panjang, Emil ingin ada pemindahan industri di sekitar Sungai Citarum ke lokasi baru.

Program penataan oxbow(sodetan) juga akan terus berjalan. Dari 14 oxbow Citarum yang kini sudah dan sedang dalam proses penataan, akan ada satu percontohan yang siap difungsikan. ”Mudah-mudahan dalam waktu empat bulan selesai. Sesuai dengan permintaan Pak Jokowi. Jadi ada yang bekerja kotor, ada juga yang kerja penataan,” tandasnya. Pemprov Jabar juga akan menempatkan incinerator sampah di 50 titik daerah aliran sungai (DAS) Citarum untuk mengatasi persoalan sampah. Kehadiran alat pembakar sampah tersebut diyakini menjadi solusi untuk mengatasi tumpukan sampah di aliran Citarum dan keterbatasan lahan penampungan sampah. Pasalnya, incinerator bersuhu tinggi itu mampu membakar sampah hingga habis.” Mudah-mudahan dengan teknologi terbaru, suhunya lebih tinggi dan harganya lebih murah,” tandas Emil.

Direktur Operasi dan Pengembangan PJT II Antonius Aris Sudjatmiko mengatakan, untuk mencegah banjir, sebanyak 14 sungai mati atau oxbowdi sepanjang Sungai Citarum yang membentang dari Gunung Wayang, Kabupaten Bandung, hingga bermuara di Laut Jawa, difungsikan sebagai penampung air. Selama ini oxbowkerap menjadi tempat pembuangan sampah warga misalnya oxbow di Bojong Soang Kabupaten Bandung. Setelah dibersihkan oleh Perum Jasa Tirta II dan Satgas Citarum Harum dari Kodam III Siliwangi, kini sungai mati tersebut cukup bersih dan bisa dimanfaatkan warga untuk beraktivitas. ”Di sepanjang Sungai Citarum terdapat 14 oxbow. Banyak di antaranya yang sudah dibersihkan, salah satunya yang di Bojong Soang,” sebutnya.

Kemudian, kata dia, dari 14 oxbowyang terdapat di Sungai Citarum, telah dilakukan restorasi dengan cara melakukan pengerukan dan penataan di 8 lokasi oxbow. ”Anggaran yang dikeluarkan untuk pengerukan dan penanganan sampah di delapan oxbowtersebut sekitar Rp17,5 miliar,” tambahnya.

Agung bakti sarasa/ asep supiandi





Berita Lainnya...