Edisi 06-12-2018
Saling Nyinyir, Pemilu 2019 Dinilai Tidak Mendidik


BANDUNG –Polakampanye Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 dinilai tidak mendidik masyarakat.

Satu di antara in dikasinya yakni banyak ungkapan nyinyir maupun diksi pro vokatif dari para calon pre siden, calon wakil pre siden, mau pun para pendukung di ruang-ruang publik. Kondisi tersebut diyakini tidak akan mencerdaskan m a - syarakat dalam berdemokrasi. Hal itu pun menunjukkan bah - wa peserta pemilu lebih meng - utamakan obsesinya dalam me - raih kekuasaan ketimbang mem perjuangkan nasib rakyat. “Kampanye-kampanye nyinyir seperti ëtempeí ,’genderuwo’, ‘cebong’, ‘kampret’, ‘sontoloyo’, kemudian ‘buta-tuli’. Ini kam - pa nye model apa? Sama sekali ti dak mencerdaskan masya ra - kat,” ungkap pemerhati pemilu Partnership Yuspitriadi dalam Sosialisasi Pengawasan Ta hapan Pemilu dengan Stakeholder dan Pemantau Pemilu di Tra - vello Hotel, Jalan Setiabudi, Ko - ta Bandung, tadi malam.

Dia berharap kondisi ini ti dak terus berlangsung dalam sisa masa kampanye Pemilu 2019. Peserta pemilu presiden mau - pun legislatif serta para pend u - kung mereka bisa lebih me nge - luarkan gagasan mau pun pro - gram yang lebih subs tan tif ter - kait upaya mereka da lam menye - jah te rakan rakyat. Dengan de - mikian, calon pemilih memahami apa yang dilakukan pasangan calon presiden-calon wakil pre - siden maupun para wakil rakyat jika mereka terpilih dalam Pe - milu 2019. “Di sisa waktu yang ting gal sekitar tiga bulan, se lu - ruh peserta Pe mi lu 2019 harus lebih mengedepankan edukasi, bukanob sesipolitik, denganme - nyampaikan gagasan-gagasan kampa nye yang edukatif untuk mem bangun Indonesia yang le - bih baik,” tegasnya.

Direktur Democracy Elec to - ral Empowerman ini pun me - nilai, Pemilu 2019 masih akan diwarnai berbagai kecurangan. Meski proses demokrasi di In - do nesia tak pernah berakhir ka - cau, sejarah mencatat berbagai kejahatan pemilu seperti ma ni - pulasi data pemilih, politik uang (money politics), hingga kam - panye hitam (black campaign ) selalu saja terjadi. “Saya bukan da lam kerangka pesimistis ter - ha dap penyelenggara pemilu, tapi saya pesimistis terhadap hilangnya permasalahan-per - masalahan dan kejahatan-ke ja - hat an pemilu yang sedang ber - langsung,” ucapnya.

Menurut dia, sinyalemen akan terjadi berbagai kejahatan pemilu di Pemilu 2019 kini sudah mulai terasa seperti per soalan daftar pemilih tetap (DPT) yang ma sih bermasalah, penyebaran be rita bohong (hoaks) yang ma - sif, hingga peng giringan opini un tuk mencapai politik elektoral de ngan bungkus agama. Karena itu, penyelenggara pe milu dituntut bekerja ekstra untuk menyelesaikan berbagai per soalan teknis sebelum Pe mi - lu 2019 digelar. Penyelenggara pe milu pun wajib menjaga in te - gritasnya guna menjaga ke per - cayaan publik.

“Bila penyelenggara pemilu sudah berani bermain mata de - ngan kontestan, dengan par pol (partai politik), dengan caleg (ca - lon anggota legislatif), saya pikir ini sebagai sebuah muara dari ke - tidakpercayaan publik kepada pe laksanaan pemilu,” tegasnya. Masih di tempat yang sama, mantan Komisioner Bawaslu RI Periode 2008-2012 Wahidah Suaib menilai, dalam Pemilu 2019 yang digelar serentak un - tuk pertama kalinya itu ma sya - rakat kini cenderung lebih mem perhatikan Pemilihan Pre - si den (Pilpres) ketimbang Pe milih an Legislatif (Pileg) 2019.

“Ada beberapa yang patut kita waspadai dengan desain pemilu serentak ini, di mana pi kir an dan konsentrasi orang ter serap di pilpres, emosi publik lebih mudah tersulut urusan pilpres dibanding pileg,” katanya.

Agung bakti sarasa






Berita Lainnya...