Edisi 06-12-2018
Nuklir sebagai Jalan Alternatif


Saat tanggul pelindung reaktor nuklir di Fukushima Daiichi itu mau ditinggikan, seorang pakar tsunami Jepang melarangnya.

“Tidak usah, sejarah tsunami di Jepang tak pernah tinggi me lebihi 10 meter,” katanya. Per caya atas saran pakar tsunami itu dan yakin akan aman, maka tanggul laut tak jadi diting gikan. Di ne - geri Matahari Terbit itu, penetapan ketinggian tsu nami di - ukur secara ilmiah ber dasarkan data geologi dan seja rah pan - jang tsunami. Lantas apa yang terjadi ke - mudian? Pada 11 Maret 2011 ter jadilah gempa berkekuatan 9 skala richter. Enam unit ins ta - lasi reaktor nuklir Fukushima aman dari serangan gempa, tapi yang tak terbayangkan sebe - lumnya adalah kejadian tsuna - mi pascagempa 30 menit kemu - dian. Terjangan gelombang yang mencapai 14 meter itu me - lampaui prediksi para ahli tsu - nami.

Akibatnya tak terba yang - k an: tanggul laut reaktor nuklir Fukushima Daiichi itu jebol. Akibat berikutnya gelombang itu menerjang unit-unit insta - lasi nuklir Fukushima Daiichi sehingga sistem pendingin re - ak tor nuklir rusak (loss of heat sink accident -Lohsa). Air pendingin tak bisa meng - alir sehingga reaktor menjadi panas mencapai 1.000 derajat cel sius, melelehkan mesin pen - dinginnya (loss coolent accident - Loca). Maka itu, tiga reaktor pun akhirnya meledak. Sekelumit ki sah di atas di - ceri ta kan kembali oleh manajer penang gung jawab reaktor nuklir Fu kushima Daiichi saat me - nerima delegasi dari Indonesia, Selasa 27 November 2018.

De - le gasi yang diundang JICC (Jaif Inter national Cooperation Cen ter di bawah naungan Ke - menterian Ekonomi dan Per - dagangan Je pang) ini terdiri atas unsur Pe merintah Indo - nesia, pimpinan para rektor perguruan tinggi, serta sejum - lah perwakilan dari tokoh ma - syarakat. Sampai akhir sesi sang ma - na jer tak menjelaskan: siapa pakar tsunami itu. Sebab yang ia maksud dengan ki - sah tersebut adalah: se he - bat apa pun pre diksi ilmu manusia, akhirnya me leset juga adanya. “Kami ha rus lebih ba - nyak belajar dari pe ris - tiwa-peristiwa alam yang besar seperti ini,” ujar manajer penang - gung jawab operasi Fuku - shima Daiichi.

Kebijakan Ketat

Setelah tragedi Fukushima, debat mengenai lanjut atau ti - daknya PLTN menghangat di ting kat nasional. Debat sema - kin seru setelah ada pemberi ta - an bahwa udara di seluruh Ne - ge ri Sakura itu, termasuk To - kyo, terpapar radiasi nuklir. Apa lagi setelah badan atom in - ternasional di bawah naung an PBB meninjau ke lapangan ke - mu dian menyatakan bahwa aki bat bocornya reaktor nuklir itu, maka daerah Fukushima dan sekitarnya dalam bahaya ter tinggi (major accident ) untuk kemungkinan terkena radiasi nuklir. Jalan tegas pun diambil. Pemerintah memutuskan selu - ruh PLTN di Jepang yang ber - jumlah 57 untuk sementara di - tu tup. Akibatnya, listrik Jepang byar-pet seperti di Indonesia: pemadaman listrik bergilir tak terhindarkan karena kekurang - an pasokan.

Optimalisasi listrik berbasis nonnuklir digalakkan yang mengakibatkan lonjakan impor gas dan minyak. Pemerintah juga mengem - bangkan kendaraan generasi masa depan berbasis tenaga lis - trik serta mengurangi ba han ba kar fo - sil, se - la in merancang ke bijakan netzero energy houses, yaitu mem - bangun ru mah atau kantor de - ngan listrik mandiri. Masyarakat pun terus dido - rong mem praktikkan net-zero energy houses ini. Isu keti dak - amanan produk-produk Je - pang karena terpapar radiasi nu klir sempat me rebak dan mengancam eko no mi Jepang sehingga pemerintah perlu meyakinkan publik bahwa produk industrinya aman dari radiasi nuklir. Setelahsemuaisuteratasidan seluruh PLTN dievaluasi, debat pro-kontra nuklir pun mereda.

Pemerintah akhirnya mengoperasikan kembali satu per satu re - ak tor nuklir yang di anggap aman. Itu pun setelah me lewati proses ketat: lobi ke par lemen, persetujuan pemerin tah lokal dan masyarakat se ki tar reaktor dengan radius 5 km2. Reaktor pertama yang di - buka kembali sempat dikun - jungi delegasi Indonesia, yaitu Ohi Power Station di ba wah kendali mana jemen Kansai Elec tric Power Com pany berada di Miya zu- shi, ter - ma suk wila yah Kyo to. Sampai saat ini baru sem bilan reak - tor yang ber - ope rasi kem - ba li dari 57 re - ak tor ter sebar di Jepang. Si - sa nya ada lima siap beroperasi dan 20 re ak tor mesti ditutup sela ma nya, terma - suk re ak tor Fuku - shi ma Daiichi dan Daiini.

Sebagian masyarakat Je - pang sebenarnya sangat khawa - tir terhadap reaktor lama yang dioperasikan kembali. Tragedi Fukushima masih membayang dalam benak masyarakat. Apa - lagi secara geografis, letak Ne - geri Sakura ini berada di daerah merah: cincin api Pasifik dengan kejadian gempa terpadat di du - nia berada di sini. Negeri ini juga menjadi bagian dari sirkum pe - gunungan api Pasifik yang aktif. United States Geological Sur vey (USGS) bahkan menca - tat, tiap tahun tak kurang dari 1.500 gempa menghantam Je - pang. Itu tak lain karena negara ini menjadi titik temu gesekan sangat dinamis dari empat lem - peng dunia sekaligus: lempeng Pasifik, Filipina, Eurasia, dan lempeng Amerika Utara.

Maka wajar, jika hampir setiap hari terjadi tremor kecil di negeri pe - gunungan yang menyatu de - ngan laut ini. Namun, Jepang adalah bang sa yang terus mau belajar dan menyerap ilmu lewat ben - cana-bencana alam terjadi. Me - reka tak mau takluk terhadap rasa takut. Itulah sebabnya, PLTN tetap dijalankan. Beda - nya, jika sebelumnya PLTN ber - kontribusi sampai 30% terha - dap energi listrik nasionalnya, ke depan akan dikurangi ber ta - hap hingga mencapai 20% saja.

Saat ini konsumsi per kapita listrik Jepang mencapai di atas 10.000 kwh setara dengan ne - gara-negara maju lainnya, se - perti di negara-negara Eropa dan AS. Inilah negara-negara yang se cara industri sudah men capai puncak tertingginya de ngan efi - siensi penuh sehing ga pengembangannya tidak ba nyak mem - butuhkan penambahan listrik lagi. Karena itu, wajar jika Pe me - rintah Jepang berencana menu - runkan peng gunaan listrik nuklir dari 30% menjadi 20%.

Indonesia Mesti Belajar

Bandingkan dengan kondisi pemakaian listrik per kapita di Asia Tenggara yang menem - patkan Indonesia masih di po - sisi nomor 6 di bawah Malaysia dan Vietnam: penggunaan lis - trik Indonesia hanya 1.025 kwh. Sementara Singapura su - dah mencapai 10.000 kwh dan Malaysia 4.000 kwh per kapita. Jadi, jika Singapura melak sanakan balap mobil Formula 1 di te - ngah malam, itu ingin menun - juk kan bahwa penggunaan lis - trik di negeri berlambang singa itu sudah sangat tinggi. Kebijakan energi nasional ber dasarkan PP Nomor 79/ 2014 mengharapkan pendu - duk secara bertahap sudah mengonsumsi listrik 2.500 kwh per kapita pada 2025, mening - kat menjadi 7.500 kwh pada 2050.

Pelaksanaan secara kon - sis ten terhadap PP ini ber te - mali-erat dengan tahapan im - plementasi dari strategi indus - tri nasional yang terintegrasi dari hulu sampai ke hilir. Listrik adalah sumbu bagi bergeraknya industri agar kita menang ber - saing dengan negara lain. Status Indonesia sebagai middle income country tak akan pernah naik kelas menjadi hicountry seperti negara-negara industri maju lainnya, jika ta - hap an perencanaan energi listrik nasional tadi tak dilak sana - kan dengan baik. Artinya, pe - nyiapan secara maksimal di sek - tor lain seperti terlaksananya pendidikan sumber daya manu - sia yang baik dalam meng ha - dapi peluang bonus demografi harus terintegrasi dan padu de - ngan penyiapan energi listrik nasional.

Jika tidak, prediksi Indone - sia akan menjadi middle income country trap (jebakan sebagai ne geri kelas menengah, tak per - nah naik kelas menjadi negeri maju) seperti dialami Argen - tina, Brasil, dan negara-negara lain, menjadi kenyataan. Kondisi listrik kita saat ini masih bertumpu pada bahan bakar fosil yang cadangannya kian terbatas. Memang masih ada alternatif lain, seperti peng - gunaan geotermal, surya cell, bayu, dan hedro-power. Na - mun, itu semua sangat terbatas dayanya dan tak cukup untuk pengembangan industri yang bisa bersaing dengan negaranegara lain. Jalan alternatif, selain meng genjot listrik batu bara, kita mesti menyiapkan listrik nuklir atau PLTN.

Untuk ter - akhir ini mesti melewati syaratsyarat ketat. Pertama, komit - men politik dan perencanaan yang kuat dari pemerintah dan terus konsisten dengan berba - gai regulasi yang dibutuhkan ke depan. Kedua, ada edukasi dan sosialisasi yang masif seperti di negara-negara maju lainnya bahwa PLTN itu sangat aman. Termasuk jaminan persaingan yang sehat bahwa PLTN tak akan mengganggu pada bisnis power plan yang lain. Ketiga, negara mesti mela - ku kan pemilihan lokasi yang mempertimbangkan dampak risiko, mitigasi bencana, dan lainnya secara ketat, sehingga keamanan masyarakat untuk jangka panjang dengan adanya PLTN itu terjamin.

Keempat, negara menyiapkan tenaga teram pil dengan budaya baru se - perti negara-negara maju yang telah memiliki PLTN. Kelima, siapkan SDM untuk penguasa - an teknologi PLTN agar Indonesia tak tergantung pada ne - gara lain. Catatannya, tentu saja reaktor nuklir sebagai jalan alter natif terakhir.

Masduki Baidlowi
Wakil Sekjen PBNU, Anggota Delegasi Undangan JICC ke Jepang pada 26 November-2 Desember 2018

Berita Lainnya...