Edisi 06-12-2018
Pemimpin Jangan Terpaku Pada Zona Nyaman


Masih rendahnya tingkat inklusi maupun literasi keuangan masyarakat di Indonesia, khususnya di sektor pasar modal, menjadi potensi yang besar bagi sejumlah perusahaan sekuritas.

Berdasarkan hasil survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) pada 2016, indeks literasi keuangan di sektor pasar modal hanya sebesar 4,4% dan indeks inklusi keuangan di sektor pasar modal hanya sebesar 1,25%. Angka ini jauh lebih sedikit jika dibandingkan Malaysia yang mencapai 13% dan Singapura sebesar 30% dari populasi penduduknya. Sebagai anak usaha PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI), PT Mandiri Sekuritas terus berupaya mendorong basis investor individu melalui sejumlah inovasi dengan menghadirkan layanan pasar modal terlengkap, mudah, aman, dan bisa diakses di mana saja.

Di sisi lain, Mandiri Sekuritas juga memper kuat posisinya sebagai satu-satunya perusahaan efek di Indonesia menjadi bagian penting dari industri pasar modal internasional. Bagaimana tantangan maupun peluang perseroan ke depan? Berikut petikan wawancara KORAN SINDOdengan Direktur Utama Mandiri Sekuritas Silvano Rumantir.

Bisa diceritakan awal mula anda bergabung dengan Mandiri Sekuritas?

Sebelum menjabat sebagai direktur utama di Mandiri Sekuritas, saya sempat bekerja di beberapa perusahaan asing. Kebetulan saya memiliki pengalaman lebih dari 17 tahun di industri pasar modal dan jasa keuangan. Terakhir saya pernah menjabat Direktur Corporate Finance di Deutsche Bank yang ditempatkan di Singapura. Saat itu saya ditawari untuk bergabung dengan Mandiri Sekuritas oleh pemegang saham. Menurut saya, peluang ini baik sekali dan tidak datang setiap hari. Setelah berdiskusi dan bertukar pikiran terkait visi dan misi perusahaan, akhirnya saya bergabung dengan Mandiri Sekuritas pada 9 Agustus 2016.

Strategi kepemimpinan seperti apa yang Anda terapkan di perusahaan?

Sebagai CEO perusahaan sekuritas di industri pasar modal, yang paling penting adalah kita mempunyai jajaran dewan direksi yang kompak. Tentu dengan memiliki visi dan misi yang sama, walaupun cara penyerapan atau style-nya berbeda-beda. Namun, ini bisa menjadi sesuatu yang saling melengkapi. Jika dilihat di Mandiri Sekuritas itu direksi kami kebetulan mempunyai latar belakang berbeda-beda. Cara pendekatan yang dilakukan, yaitu dengan komunikasi rutin. Sejak masuk ke perusahaan lebih dari dua tahun lalu, saya selalu menekankan direksi agar kita semua harus berpikir untuk mengutamakan kepentingan perusahaan. Jadi, bukan hanya memikirkan direktorat masing-masing karena kita bersama-sama menentukan arah perusahaan ke depan. Kalau ada satu direksi yang tidak kompak itu bisa berdampak ke direktorat yang lain. Strategi yang tepat, yaitu board of director (BOD) harus kompak dan mempunyai satu visi melalui komunikasi.

Bagaimana cara Anda menyatukan visi dan misi perusahaan?

Visi dan misi Mandiri Sekuritas itu masih sama seperti tahun-tahun sebelumnya, yaitu menjadi perusahaan sekuritas terkemuka di Indonesia. Namun, di sini saya menambahkan, yakni menjadi perusahaan yang terkemuka, tapi harus profitable dan sehat. Profitable artinya harus bisa men-delivers value yang optimal kepada stakeholder kami. Di sisi lain, Mandiri Sekuritas juga harus tetap sehat melalui good corporate governance (GCG) yang baik. Artinya, apa yang kita kerjakan harus menerapkan prinsip-prinsip GCG dan juga manajemen risiko. Jadi, visi ini yang kita harus sepaham dengan semua direksi. Sedangkan cara untuk menyatukannya yaitu cukup sederhana. Kita harus sering berkomunikasi dengan tatap muka ataupun melalui pesan singkat.

Selain itu, saya membiasakan setiap satu bulan sekali mengadakan pertemuan, tapi sifatnya tidak formal. Misalnya makan bersama-bersama jajaran direksi, baik itu makan pagi, siang, atau malam. Di sana kita bisa membahas baik progres maupun isu di masing-masing direktorat. Apakah kita sudah cukup senang dengan capaian perusahaan saat ini atau apakah ada kendala-kendala yang perlu kita carikan solusinya. Secara reguler saya dan semua direksi senantiasa melakukan cek dan updatedengan masing-masing direktorat dan divisi-divisi kami. Dengan suasana yang lebih santai, biasanya kita juga bisa mengutarakan ide-ide baru karena suasananya lebih cair dibandingkan rapat secara formal yang biasanya lebih kaku.

Pertemuan tidak formal ini selalu saya usahakan setiap bulan karena seluruh direksi biasanya larut dengan aktivitas dan kesibukannya masing-masing. Padahal komunikasi merupakan kunci utama dalam menyatukan visi dan misi perusahaan.

Apakah ada perbedaan prinsip kepemimpinan yang Anda terapkan di perusahaan asing dan juga di Mandiri Sekuritas?

Jadi, kenyataannya memang berbeda. Untuk perusahaan asing, dalam menentukan suatu hal, keputusan akhir itu adanya di tingkat head office. Biasanya mereka yang memutuskan, apakah suatu hal itu harus dijalankan atau tidak. Jadi bisa dibilang, keputusan yang bisa diambil oleh manajemen itu terbatas karena policydi-drive oleh regional atau head office. Sedangkan di Mandiri Sekuritas ada tantangannya tersendiri. Persetujuan strategis memang ada di induk usaha, yaitu Bank Mandiri. Tetapi, jika kita ingin memulai bisnis baru itu harus melakukan analisis sendiri, tidak ada regional/head officedi luar sana yang akan memandu kita.

Di sini kita diberikan ruang untuk membangun bisnis dengan semangat entrepreneurshipwalaupun demikian tetap dengan cara-cara yang prudent. Untuk prinsip kepemimpinan yang diterapkan juga berbeda. Di perusahaan asing, biasanya saya lebih mengeksekusi strategi yang ada karena SOP-nya jelas sudah diberikan dari tingkat head office. Sedangkan di Mandiri Sekuritas, kita memulai sesuatu yang baru. Jadi, di sini ada kebebasan dan semangat juangnya juga berbeda. Kita harus bisa memotivasi diri sendiri. Dengan kata lain, kalau seluruh jajaran direksi tidak lari bersamasama untuk mencari bisnis baru, kita sendiri yang akan tertinggal. Sedangkan di perusahaan asing kita pasti akan di-pusholeh head office.

Apa tantangan dan peluang industri pasar modal di era digital seperti saat ini?

Saya bersyukur mempunyai peluang menjadi dirut di Mandiri Sekuritas karena ini adalah kesempatan dan tanggung jawab yang terbesar. Mandiri Sekuritas sebagai perusahaan efek nomor satu di Indonesia banyak sekali tantangan, tapi juga banyak pencapaiannya. Saya selalu ingat, banyak perusahaan besar di dunia karena tidak mengantisipasi perkembangan teknologi dan consumer behavior akhirnya malah mati. Misalnya BlackBerry, Nokia, dan Kodak. Hal menjadi perhatian terbesar saya di industri keuangan yang perubahannya cukup cepat, jangan sampai terlambat beradaptasi di era digital dan potensi disrupsi teknologi lainnya.

Saat ini dunia semakin kecil, karena kita semakin terkoneksi dengan sharing informasi melalui inovasi yang terus berkembang. Sebagai CEO, saya tidak boleh terpaku pada zona nyaman. Memang sebagai manusia kita harus mensyukuri berbagai pencapaian ini, tapi jangan terlalu larut. Kemudian kita juga harus siap beradaptasi. Visi ini yang perlu disamakan oleh seluruh jajaran direksi. Saya beruntung mempunyai stakeholder Bank Mandiri yang selalu mendukung dan jajaran direksi yang kompak.

Bagaimana strategi Mandiri Sekuritas dalam menghadapi era teknologi digital?

Kami terus berinovasi dengan meluncurkan berbagai macam layanan pasar modal terlengkap, mudah, aman, dan bisa diakses di mana saja melalui berbagai platform. Hal ini merupakan komitmen perusahaan untuk mendukung program inklusi keuangan dan mempermudah masyarakat dalam mengakses pasar modal. Misalnya melalui layanan investasi digital Mandiri Online Securities Trading (MOST). Saat ini Mandiri Sekuritas telah dipercaya oleh lebih dari 89.000 nasabah yang berinvestasi di pasar modal.

Mandiri Sekuritas juga menjadi perusahaan efek terdepan dalam mengedukasi masyarakat sejak enam tahun terakhir, tidak hanya di kota-kota besar, tapi hingga ke perbatasan yang ternyata memiliki basis investor yang sangat potensial. Pada Agustus 2018 lalu, Mandiri Sekuritas meluncurkan MOST Learning, yaitu platform pembelajaran investasi online yang pertama di Indonesia. Layanan ini memberikan kemudahan kepada nasabah dan masyarakat untuk meningkatkan kemahiran dalam berinvestasi di pasar modal. Para nasabah dan masyarakat umum bisa mengakses kontenkonten pembelajaran investasi, mengikuti kelas investasi secara live streaming,serta saling berinteraksi melalui forum yang tersedia di dalam platform MOST Learning.

Inovasi digital yang dihadirkan Mandiri Sekuritas ini sesuai dengan tujuan perusahaan untuk mempromosikan lifestyle berinvestasi di pasar modal kepada masyarakat. Selain itu, nasabah ritel dapat membekali diri dengan pemahaman, informasi, dan panduan langsung dari trainer serta laporan riset Mandiri Sekuritas.

Apa saja strategi bisnis yang akan diterapkan Mandiri Sekuritas pada tahun 2019?

Kami akan melanjutkan progres yang sudah dilakukan dua tahun ini atau sejak saya masuk di perusahaan. Kita mau tetap tumbuh dan tetap sehat. Untuk mencapai ke sana, kita harus pasti kan seluruh layanannya sudah lengkap. Jadi, produk maupun jasa sudah tersedia dan kita secara konsisten mengevaluasi untuk menge tahui layanan yang sudah tidak relevan di pasar. Mandiri Sekuritas mempunyai tiga direktorat yang merupakan revenue driven.

Ketiganya, yaitu investment banking atau bisnis penjamin emisi efek yang melayani emiten, lalu ada juga capital market institusi yang melayani investor dari perusahaan, serta terakhir capital market retailmelayani investor ritel. Jadi, ada tiga pilar bisnis penghasil revenue kami. Kalau dari sisi investment banking,layanan kita itu membantu underwriting,fund rising, baik di equity dan fix income,terakhir financial advisory. Kalau dari sisi capital market institusi, kami menawarkan produk-produk, seperti obligasi dan saham yang diproses oleh tim underwriting emiten tersebut dan dijual kepada investor institusi atau ritel.

Heru febrianto