Edisi 06-12-2018
Arus Investasi di Sektor Keuangan Harus Terjaga


JAKARTA - Pengelolaan arus investasi di sektor keuangan harus tetap dijaga agar tidak menarik investasi asing yang terlalu besar.

Hal tersebut berguna untuk mencegah terjadinya peningkatan defisit akun berjalan. Head of Global Markets Bank HSBC Indonesia Ali Setiawan mengatakan, sektor keuangan ibarat dua sisi mata uang. Di satu sisi, peningkatan peran sektor keuangan, baik perbankan maupun pasar modal dapat mendorong investasi swasta yang mendukung pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, peningkatan investasi swasta yang tidak diikuti peningkatan produktivitas dan tabungan nasional dapat memperburuk defisit neraca transaksi berjalan.

”Studi kami menunjukkan bahwa di kawasan Asia Pasifik, perkembangan sektor finansial memang berkontribusi terhadap peningkatan defisit neraca transaksi berjalan,” ujar Ali saat konferensi pers di Jakarta kemarin. Untuk itu, inklusi keuangan yang tidak hanya mendorong investasi swasta, tetapi mendorong tabungan dan produktivitas bagi seluruh lapisan masyarakat, menjadi kunci stabilitas perekonomian. Saat ini kondisi pasar Indonesia tergolong stabil. Menurut dia, berbagai risiko ketidakstabilan ekonomi masih terkelola dengan baik. Apalagi mengingat persepsi global yang cukup baik akibat penangguhan sementara terhadap perang dagang AS dan China.

”Namun tahun depan, kita harus tetap mengantisipasi kondisi-kondisi tidak diduga. Kesiapan menjadi poin yang harus ditekankan,” ujarnya. Karena itu, lanjut dia, ke depan dukungan terhadap pendalaman pasar modal menjadi sangat penting dalam memastikan kestabilan nilai tukar rupiah. Melihat kondisi pasar yang dinamis, ungkap Ali, dibutuhkan tidak hanya dukungan dari sisi pangsa pasar, juga penyediaan instrumen baru dalam sistem lindung nilai (hedging), serta penciptaan pangsa pasar dengan suplai dan demand yang lebih stabil sehingga mampu bertahan dari berbagai tekanan eksternal. Ali memaparkan, ada beberapa faktor pendorong yang menyebabkan ketidakstabilan pasar di Indonesia selama 2018. Pertama, cukup tingginya arus dana asing yang keluar (outflow) di pasar modal Indonesia dan pembelian mata uang asing untuk kebutuhan impor di dalam negeri.

Persepsi pasar tentang faktor eksternal memang tidak dapat dihindari ataupun diubah. ”Selain faktor Fed rate, beberapa insiden lain termasuk krisis mata uang di Turki dan Argentina juga memengaruhi pasar domestik,” paparnya. Kedua, negara ini sebetulnya memang tidak banyak hubungan langsung terhadap Indonesia, tetapi sekali lagi persepsi dan sentimen pasar turut berdampak ke emerging countries, termasuk Indonesia. Selanjutnya adalah trade war antara AS dan China yang telah menciptakan ketidakpastian pasar global. ”Dampak trade war tersebut terhadap ekonomi Indonesia saat ini telah banyak didiskusikan, tapi prediksi dampaknya terhadap pasar domestik selama 2019 masih abu-abu,” tandasnya.

Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo mengungkapkan, ekonomi Amerika Serikat (AS) yang tahun ini tumbuh tinggi diproyeksi akan menurun pada 2019. Sementara ekonomi Uni Eropa dan China akan tumbuh melandai dari tahun 2018 ke 2019. ”Perkembangan tersebut mendorong volume perdagangan dan harga komoditas dunia yang tetap rendah dan karenanya menjadi tantangan bagi upaya kita untuk menjadikan ekspor sebagai sumber pertumbuhan ekonomi nasional,” ungkapnya. Setelah menaikkan Fed- Fund Rate (FFR) yang akan 4 kali sebesar 100 basis poin pada tahun ini, the Fed AS kemungkinan akan menaikkan lagi suku bunganya 3 kali sebesar 75 basis poin pada 2019.

”Arah kenaikan suku bunga di negara-negara maju tersebut memberikan tantangan bagi bank-bank sentral Emerging Markets, termasuk Indonesia dalam merumuskan respons kebijakan moneternya,” ungkapnya.

Kunthi fahmar sandy