Edisi 06-12-2018
Upaya Menekan Resistensi Antibiotik


BUKAN hanya di Tanah Air, resistensi global juga menjadi ancaman global. Pasalnya, hal itu mengakibatkan 700.000 kematian per tahun di seluruh dunia.

Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan, akan ada 10 juta kematian pada 2050 jika keadaan tersebut tidak segera ditanggulangi. Resistensi antibiotik atau dikenal antimicrobial resistance (AMR) merupakan keadaan di mana bakteri tidak dapat lagi dibunuh dengan antibiotik. Ada berbagai faktor yang melatarbelakanginya. Yang jelas, penggunaan antibiotik yang tidak bijak dan menyalahi resep merupakan faktor utama. “Pemberian antibiotik yang berlebihan akan membuat bakteri menyesuaikan diri dengan molekul antibiotik ketika diobati. Seperti manusia yang awalnya lemah, lalu mencari cara untuk bertahan hidup,” ujar dr Anis Karuniawati PhD SpMK(K), Sekretaris Komite Pengendalian Resistensi Antimikroba (KPRA), dalam acara Waspada Peningkatan Resistensi Antibiotik! yang diadakan Pfizer.

Pemberian antibiotik yang tidak tepat juga akan membunuh bakteri baik dalam tubuh. Anggapan yang diyakini masyarakat maupun kalangan medis, antibiotik adalah obat dewa yang bisa menyembuhkan berbagai penyakit yang bukan disebabkan bakteri sekalipun. Akibatnya, hal itu malah mengundang resistensi bakteri lain yang ada dalam tubuh. Berkaca dari kondisi ini, Universitas Indonesia bersama Perhimpunan Dokter Spesialis Mikrobiologi Klinik Indonesia (PAMKI) dan produsen obat Pfizer bekerja sama membentuk Program Pengendalian Resistensi Antibiotik (PPRA) di Indonesia.

Hal ini bertujuan melanjutkan penatalaksanaan antibiotik yang dikeluarkan melalui Peraturan Kementerian Kesehatan No 8/2015. Sementara itu, dr Erni Juwita Nelwan yang juga pengurus pusat Perhimpunan Peneliti Penyakit Tropik dan Infeksi (Petri) menuturkan, risiko AMR sebagian besar dapat dicegah dengan beberapa cara, yaitu meningkatkan kompetensi tenaga kesehatan, kewaspadaan dini, dan komunikasi aktif dengan pasien, sehingga penggunaan antibiotik dapat dilakukan secara bijak dan infeksi dapat dikendalikan secara benar. Pfizer sebagai produsen obatobatan mendorong implementasi program pengendalian resistensi antibiotik secara menyeluruh dan berkelanjutan.

Medical Director Pfizer Indonesia Handoko Santoso menuturkan, Pfizer memiliki komitmen untuk bekerja erat dengan komunitas kesehatan dalam menangani resistensi antibiotik. Di antaranya, melalui penatalayanan aktif untuk mendukung upaya pendidikan bagi para tenaga kesehatan profesional dan masyarakat umum, inovasi alat pengawasan resistensi yang efektif, kebijakan global untuk memfasilitasi pengembangan antibiotik dan vaksin, akses dan penggunaan yang tepat.

Sri noviarni